Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Celia tidak sadarkan diri


__ADS_3

FOLLOW INSTAGRAM AKU YAH TEMEN-TEMEN @n.lita.s DI SANA AKU BAKALAN SHARE NOVEL-NOVEL AKU JUGA SPOILER :-)


 


 


MAKASIHHH...


***********************************************************************************


 


Jessica membawa Celia kembali ke green residence. Dalam perjalanan mereka masih ada beberapa mobil wartawan yang mencoba membuntuti mobil Celia.


"Nona, ada beberapa mobil yang membuntuti kita. Jadi terpaksa kita berjalan-jalan memutar dulu. Sampai orang kita berhasil mengalihkan mereka." ucap pengawal Jessi.


"Oke. Jangan biarkan mereka mengikuti, pak."


"Baik, Nona."


Jessi memang sudah curiga pada pengawalnya yang mencari jalan lebih jauh menuju green residance. Namun, ia membiarkan saja karena percaya pada pengawalnya. Akhirnya Jessi tau alasan si pengawal membawa nya berkeliling lebih jauh.


"Kita sudah sampai, Cel." ucap Jessi mengajak Celia turun dari mobil. Celia hanya mengangguk dengan pandangan mata kosong. "Pelan-pelan," Jessi menuntun tangan Celia.


Bruk... "Celia!" Belum sampai beberapa langkah berjalan Celia jatuh tidak sadarkan diri.


"Tolong, pak." Pengawal Jessi mendekat dan langsung menggendong Celia masuk ke dalam rumah. "Panggilkan dokter!" titah Jessi pada asisten rumah tangganya.


"Baik, nona."


Video yang memperlihatkan Celia sedang bertengkar dengan Yulia di depan apartemen Radit sudah menyebar luas hingga ke pelosok negeri. Beritanya dimuat pada setiap akun gosib. Semua orang termasuk keluarga Celia sudah melihat video ini. Papa Ari dan Mama Rani, kedua orang tua Celia pun di hubungi oleh Jessi mengenai keadaan Celia. Mereka langsung menuju green residance begitu mendaoat kabar Celia tidak sadarkan diri.


"Kata dokter Celia hanya shock,tante, Celia akan sadar setelah satu jam," ucap Jessi lembut pada Rani yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil menggenggam erat telapak tangan Celia. Rani mengangguk dan berterimakasih."Makasih ya Jess, kalau enggak ada kamu tadi, tante gak tau apa yang akan terjadi sama Celia. Untung ada kamu, Jes," balas Rani.


"Sama-sama tante."


Ari yang semula berada di depan kamar tamu pun masuk dan mendekat ke arah tempat tidur. Bergabung dengan Jessica dan Rani.


"Rumah kita di kepung wartawan, ma," ucap Ari pada istrinya.


"Astagfirullah, terus gimana, pa?" tanya Rani balik semakin cemas. Ari pun menggelengkan kepalanya, "Sementara papa nggak ke kantor dulu, sampai pembertitaan membaik," ucap Ari.

__ADS_1


Beberapa waktu yang lalu Ari mendapat telepon dari Perusahaan tempatnya bekerja, pihak HRD memberikan Ari cuti sampai keadaan Celia membaik.


"Om, sama tante bisa tinggal disini sementara sampai kita menemukan dalang di balik video itu. Disini keamannya bagus, tidak akan ada wartawan yang bisa masuk. Kita bisa menjaga Celia disini sekaligus memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah Celia," usul Jessi memberikan solusi sementara untuk tempat tingga bagi Celia dan keluarganya yang Jessi rasa paling aman.


Rani langsung menganggukan kepala, "Mama setuju sama Jessi, pa. Kita numpang saja semntara disini, demi keamanan Celia juga." ucap Rani menyetujui usulan Jessi.


"Tapi bagaimana dengan orang tua kamu Jess, Tuan Raka dan Ibu Ayu apakah mengizinkan kami menumpang disini?" tanya Ari.


"Om, tante tenang saja, Daddy sama mommy pasti ngizinin kok. Lagi pula ini bukan rumah utama kami, om. Nggak ada yang tinggal disini, jadi om sama tante santai saja. Om sama tante bisa anggap rumah sendiri." Jawab Jessi.


"Iyaa, kalau di ingat-ingat rumah utama itu yang pas kamu ulang tahun terus kita di undang itu 'kan Jess?" kata Rani mengingat-ingat.


"Nah bener, yang itu rumah utama, yang ditinggali Daddy sama mommy, tan."


"Tapi tetep saja kami merasa enggak enak merepotkan kamu, Jes." Sahut Ari masih sungkan pada Jessi.


"Jangan gitu lah om, kayak sama siapa aja. Padahal cuman sama Jessi lho, masa om nganggep Jessi kayak orang lain. Padahal Jessi udah anggap Om sama Tante kayak orang tua buat Jessi, ah Jessi jadi sedih." Jessi berakting sedih namun bercanda.


"Iya juga sih, ya udah kalau gitu Om sama Tante nggak akan sungkan lagi menumpang disini." balas Ari lega.


"Ngomong-ngomong Jordan kemana, Jess? Tante nggak lihat disini." Rani menanyakan saudara kembar Jessi yang super ganteng menurut Rani.


"Emang nggak disini, tan. Kak Jo tinggal sendiri  di apartemen, kalau sekarang lagi di Jogja mengejar cinta," jawab Jessi sambil terkekeh.


"Astaga, padahal mereka kayaknya nggak pernah akur kalau ketemu," komentar Rani yang beberapa kali melihat Jordan nampak berdebat dengan Salsa.


Ari menanggapi istirnya. "Itulah yang dinamakan Benci jadi Cinta, ma. Kayak kita berdua dulu," ucapnya sambil menggoda sang istri dengan kedipan sebelah mata.


Jessi pun merasa penasaran dengan kisah cinta dari orang tua sahabatnya itu. "Serius om dan tante dari benci jadi cinta?" tanya Jessi antusias. Rani menjawab dengan anggukan kepala smabil malu-malu.


"Woah, keren. Ceritain dong, om,"


Obrolan mereka semakin panjang saat Ari dan Rani mulai menceritakan kisah cintanya pada Jessi. Mereka mengobrol sambil menunggu Celia sadar. Sesekali Celia akan mengigau dan tidur kembali.


Lalu bagaimana dengan Radit?Apa yang dia lakukan mengetahui dirinya terseret scandal dan viral di media sosial.


Radit sedang memimpin rapat di firma hukum menggantikan Yoga yang sedang dinas keluar kota saat dirinya mendapat kabar dari resepsionis bahwa wartawan mendatangi kantor untuk menemui Radit.


"Rapat hari ini cukup sekian, untuk laporan bisa langsung di kirimkan ke pak Yoga melalui email. Beliau sudah menunggu laporan dari kemarin. Jangan sampai ada kesalahan!" kata Radit tegas mengakhiri rapatnya.


"Baik, pak," jawab para karyawan yang mengikuti rapat secara serentak.

__ADS_1


Radit pun meninggalkan tempat rapat dan kembali ke ruanganya bersama sang sekertaris. "Ceritakan detailnya!" meminta sekertarisnya untuk menceritakan mengapa dirinya bisa menjadi trending topik di media sosial.


"Jadi, begini pak . . . "panjang lebar sang sekertaris menceritakan kejadian viralnya video pertengkaran antara Celia dan Yulia beredar, hingga dirinya yang diisukan tengah berselingkuh dengan Celia.


"Kenapa bisa jadi seperti ini?" Radit melempar berkasnya yang ia bawa dari rapat ke atas meja kerjanya dengan kasar.


"Pak Yoga menelepon, Pak." ucap sekertaris Radit sambil memeprlihatkan panggilan masuk dari Yoga di ponselnya.


"Berikan padaku, kau bisa keluar." Radit menerima ponsel sekertarisnya dan menyuruh sekertarisnya keluar karena ingin berbicara secara pribadi dengan Yoga.


"Halo, Pak," jawab Radit.


"Pak, pak, mau mati lo ya.." teriak Yoga kesal.


Radit terkekeh, "Haha, ampun, bos."


Sahutan terdengar dari Yoga. "Lo buat masalah apa?" tanya Yoga yang pasti sudah mendengar kekacauan yang menimpa sahabat dan sahabat istrinya itu.


"Gue juga nggak tau, tiba-tiba gue jadi artis dalam semalam," Radit menanggapi Yoga dengan setengah bercanda.


"Edian lo malah seneng jadi artis dadakan. Mau gue pecat lo?" sudah biasa ancaman pecat datang dari Yoga.


"Gue lagi puseng, lo nggak kasihan sama gue? Mana malah mau jadiin gue pengangguran lagi." keluh Radit.


"Serius ***, lo mau gimana nyelesaiin masalah ini? Celia ikut terseret, dia yang paling dirugikan dalam masalah ini. Lo tau 'kan seberapa pentingnya Celia buat istri gue. Kalau lo nggak ambil tindakan Jessi pasti akan lebih dulu ambil tindakan, belum kalau istri gue ngadu ke mertua gue. Bisa lebih runyam, Yulia bisa abis sama Jessi di bawah dukungan penuh mertua gue." ucap Yoga.


"Iya gue ngerti.. Apa mungkin Yulia yang sengaja nyebar-in video itu untuk jatuh-in Celia?" tanya Radit mencurigai Yulia.


"Gue enggak bisa menebak. Lo yang lebih tau, tapi, kalau saran gue lo tanya langsung ke Yulia. Misal dia dalang nya suruh berhenti sebelum menjadi boomerang buat dia." Saran Yoga.


"Iya gue emang mau nemuin Yulia, tapi gue mau ketemu Celia dulu. Gue khawatir banget sama dia, lo bisa bantu gue 'kan?" pinta Radit memohon agar Yoga bisa membantunya menemui Celia yang sekarang bersama Jessi.


"Itu sulit, lo tau sendiri istri gue kalau udah jadi rubah sulit dibujuk. Mending lo manjat pager rumah aja."


"Kampret.. lo kira gue lutung, pager rumah lo tingginya udah kek pohon kelapa, ***." Radit menolak ide Yoga.


"Ya itu urusan, lo. Yang penting lo urus Yulia dulu." titah Yoga.


"Baik, pak. Saya juga minta maaf, pak. Karena saya kantor sedikit kacau." ucap Radit berkata dengan formal.


"Masalah kantor lo minta humas buat urus aja."

__ADS_1


"Oke bos."


Yoga mengakhiri panggilan teleponnya. Radit pun mengembalikan ponsel sekertaris nya kemudian merenung di dalam ruang kerjanya. Memikirkan langkah apa yang akan ia ambil untuk menyelesaikan masalah kali ini, tanpa harus menyakiti Celia dan Yulia.


__ADS_2