Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Bab kantor Yoga


__ADS_3

Sebelum jam 06:00 pagi Jessi dan Celia sudah meninggalkan apartemen Yoga. Jessi mempunyai jadwal kuliah pagi, sementara Celia harus pergi syuting. Sebelum pergi ke kampus Jessi lebih dulu mengantar Celia ke lokasi syuting karena Celia tidak membawa mobil.


Sementara di apartemen Yoga, tiga bocah SMP tengah berkutat di dapur membuat sarapan sederhana. Rey dan si kembar Aksa dan Akra saling membagi tugas untuk membuat sarapan. Rey bertugas membuat roti bakar, Aksa bertugas membuat susu sementara Akra bertugas menyiapkan hidangan di meja makan.


“Sarapan roti?”


Yoga sudah rapi dengan setelan jas nya, lelaki itu mengecek sarapan apa yang di buat oleh dua keponakan dan calon adik iparnya.


“Iya, kak. Biar ala ke barat-barat an gitu.” Rey menyajikan roti bakar di atas piring dan menyerahkannya pada Yoga.


“Ala ke barat-baratan atau emang kalian bisanya cuma buat roti bakar dan susu aja?” Memotong kecil menjadi satu suapan roti bakar itu dan memakannya.


“Jangan salah om, kita bisa masak yang lain. Cuman kalau sarapan harus bergizi, contohnya roti dan susu.” Sahut Aksa ngeles. Memang dasarnya ketiga bocah itu hanya bisa membuat roti bakar dan susu.


Ya, ketiganya tidak pernah menyentuh dapur selama lahir hingga sekarang. Karena mereka terlahir di keluarga konglomerat yang sudah pasti memiliki banyak asisten rumah tangga. Kedapur mungkin hanya sesekali untuk mencicipi masakan mommy atau bunda mereka.


“Hm.. Nggak usah berlagak, kalian memang bisanya cuma bikin roti dan susu. Sesekali kalian harus berlajar masak sendiri.” Kata Yoga memakan suapan kedua dari roti bakar buatan Rey.


“Buat apa, om? Di rumah ada mbok dan mbak, bunda aja sering nge larang kita kalau mau ke dapur. Kata bunda, Aksa sama Akra cuman ngerecokin aja,” ucap Aksa polos.


“Itu karena Kalin suka gangguin bunda kalian pas lagi masak.” Tukas Radit yang baru saja bergabung dengan mereka.


“Hehe, iya sih.”


Yoga memandang Radit dari atas sampai bawah, seakan menilai penampilan lelaki itu.


“Lo nggak mandi?” Penampilan Radit memang sedikit kacau.


“Nggak, gue mandi di kantor aja.” Menyerobot segelas susu di depan Yoga dan meminumnya hingga tandas. “Makasih, untuk sarapan susu nya guys, gue cabut dulu.” Radit meninggalkan begitu saja ruang makan setelah menghabiskan segelas susu milik Yoga. Yoga sendiri geleng-geleng kepala melihat tingkah Radit.


“Mau di buatin lagi nggak, om?” Tanya Akra.


Yoga menggelengkan kepalanya.


“Nggak usah,” hanya meminum segelas air putih.


Di depan gedung apartemen, sopir dari Rey maupun si kembar sudah menunggu. Ketiganya pun langsung masuk ke mobil masing-masing. Mobil yang akan membawa mereka pergi ke sekolah.

__ADS_1


“Dasar anak-anak manja.” Yoga yang berada dia dalam mobilnya geleng-geleng kepala menyaksikan Rey dan si kembar masuk ke mobil mereka. Padahal sekolah mereka sama, mereka bisa saja minta Yoga mengatarnya namun malah memanggil sopir-sopir mereka.


Yoga melajukan mobilnya ke kantor. Sampai di kantor semua karyawan menyapa Yoga dengan ramah. Setelah enam bulan lebih berada di luar negeri akhirnya Yoga bisa kembali menginjakkan kaki di kantornya. Kantor kebanggaannya.


“Pagi pak Yoga, ini ada kiriman dari nona Jessi.” Vita menyerahkan paperbag coklat pada Yoga. Vita sendiri adalah sekertaris baru di kantor Yoga, dia baru bekerja selama dua bulan, sudah mengenal Yoga karena di interview langsung oleh Yoga saat mereka di luar negeri.


“Hm, terimaksih.” Menerima paperbag itu dan berlalu masuk ke kantornya.


Yoga meletakan paperbag itu di meja kerjanya, lalu ia melepaskan jas nya dan menggantungnya di tempat gantungan jas. Setelah itu barulah Yoga memeriksa apa yang di kirim oleh Jessi.


“Jangan lupa sarapan sayang” tulis Jessi di atas kotak bekal. Jessi mengirim sarapan untuk Yoga lengkap dengan jus.


Yoga tersenyum saat membaca memo itu. Meskipun bukan Jessi yang membuat sarapan tapi ia merasa bersyukur Jessi memperhatikan dirinya. Ia pun mengirim pesan singkat untuk Jessi sebagai ucapan terima kasih.


‘Terimakasih sayangku, Muach’ tulis Yoga di pesan singkatnya.


***


Radit baru saja pulang dari pengadilan setelah membela klien nya. Hari ini dia berhasil memenangkan persidangan dan sudah pasti mendapat bonus dari Yoga. Di sepanjang jalan menuju kantor Radit selalu bersenandung sebagai ungkapan rasa bahagianya, bahkan saat ia memasuki gedung firma hukum tempatnya bekerja.


“Cih, katanya mau mengakhiri cinta sepihak tapi masih kesini mencari saya.” Ucapan Radit terdengar sedikit angkuh.


Gadis itu mendongak menatap Radit.


“Maksud kak Radit, Celia?” Tunjuk Celia pada dirinya sendiri.


“Siapa lagi, disini hanya ada saya dan kamu. Tidak mungkin saya ‘kan?Jelas-jelas yang mengatakan mau mengakhiri cinta sepihak kamu, pasti kamu kesini mencari saya karena tidak tahan merindukan saya ‘kan?” Dengan pE-de nya Radit berucap.


“Hah?” Celia melongo, “Celia mencari kak Radit?” Menunjuk dirinya lalu menunjuk Radit dengan jari telunjuknya. Radit menganggukkan kepalanya.


“Mon maap loh, tapi sepertinya kak Radit kepedean, Celia kesini bukan untuk mencari kak Radit, tuh.” Ucap Celia santai dan sedikit monohok.


“Sudahlah, Cel. Tidak perlu malu, saya memaklumi kok.”


Celia memutar bola matanya malas, “Saya kesini memang bukan untuk mencari kak Radit, tapi ada urusan.” Sanggah Celia.


“Urusan apa sampai-sampai kamu pergi ke kantor firma hukum kalau bukan untuk menemui saya? Saya sudah punya pacar, Cel. Kamu tau itu ‘kan? Tidak baik mengejar lelaki yang sudah punya pacar.” Tutur Radit bersikap seolah menasihati Celia.

__ADS_1


Lagi-lagi Celia memutar bola matanya jengah. Apa sih lelaki yang sedang berdiri di hadapannya ini? Kenapa percaya diri sekali? Sepertinya Celia perlu meluruskan kesalahpahaman sebelum Radit semakin menjadi-jadi.


“Kak Radit, sepertinya ada yang salah disini. Boleh, Celia jelaskan?”


Radit mengangguk mengiyakan, “Jelaskan.” Sambil mengayunkan tangan kananya terbuka ke atas mempersilahkan Celia menjelaskan. Ia pun mendudukan dirinya di sofa depan Celia.


“Pertama, Celia nggak mengejar kakak. Kedua, Celia sudah mengakhiri cinta sepihak Celia, ketiga, Celia kesini bukan untuk ketemu ataupun mencari kakak ataupun merindukan kakak. Ke empat Celia kesini karena ada urusan, Celia menyewa salah satu pengacara disini untuk mengurus kontrak Celia dengan pihak rumah produksi. Kelima, apakah sudah jelas penjelasan Celia?”


Malu bukan main jadi Radit, sudah terlanjur kepedean namun Celia tidak datang untuk menemuinya. Ia jadi bungkam, bingung mau menyahuti ucapan Celia bagaimana karena terlanjur malu.


“Satu lagi..”


“Ada yang ke enam?” Tanya Radit penasaran.


Celia mengangguk.


“Apa itu?”


“Itu pak pengacara sudah datang, jadi Celia undur diri ya kak.” Menunjuk Yoga yang berdiri sambil melambaikan tangan ke arah Celia, Yoga tidak jauh dari mereka tepatnya di belakang Radit. Radit pun menoleh ke arah Yoga.


“Permisi, kak.” Celia berlalu mengikuti Yoga menuju kantor Yoga. Sementara Radit berdiri terbengong menatap punggung Celia.


“Dari belakang aja cantik.” Gumam Radit.


“Siapa yang cantik, Dit?”


Jeng Jeng ..


.


.


.


.


Di selingi Radit dan Celia dulu yaa, karna alurnya memang begitu..

__ADS_1


__ADS_2