
Bukan tidur dua jam, Jessi justru ketiduran hingga tengah
malam. Saat bangun Jessi melihat jam menujukan pukul 23.45, kesal bukan main
Jessi. Ia jadi tidak bisa mengejutkan Yoga di apartemennya.
“Dasar tukang tidur.” Rutuk Jessi pada dirinya sendiri. Ia bangkit
dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Usai membersihkan diri, Jessi merasakan lapar. Ia pun
memesan makanan dari layanan hotel. Makan sendiri tengah malam di negeri
tetangga sungguh menyedihkan bagi Jessi yang tidak terbiasa hidup mandiri.
“Ah, masa bodoh dengan sopan santun.”
Tidak mau sendirian Jessi berniat menemui Yoga saat itu
juga. Setelah makan sekitar pukul 01.00 dini hari Jessi pergi ke apartemen
Yoga. Bagiamana Jessi bisa seberani itu di negeri tetangga keluar di jam dini
hari?Tentu saja Jessi tau, Daddy Raka pasti menempatkan pengawal bayangan untuk
melindungi Jessi, oleh sebab itu Jessi merasa aman. Untuk sampai ke apartemen
yang Yoga tinggali Jessi hanya perlu berjalan kaki dan menyeberang jalan.
Gedung apartemen yang Yoga tinggali selama di singapura tepat berada di depan
hotel Jessi menginap saat ini.
Sampai di depan apartemen Yoga, Jessi mengatur penafasannya
sebentar dan mengumpulkan keberaniannya. Ia sedikit takut Yoga akan
mengomelinya.
Tiga kali Jessi menekan bel apartemen Yoga hingga pintu itu
terbuka. “Surprize!” Ucap Jessi saat pintu apartemen Yoga terbuka.
“Jessica?” Yoga membelalak tidak percaya melihat siapa
tamunya itu.
“Kak Yoga, nggak biarin Jessi masuk?” Jessi menerobos masuk
kedalam apartemen Yoga dengan semangat diikuti Yoga yang masih berusaha
memahami keadaan bagaimana Jessi bisa tiba-tiba berada di depan apartemennya .
“Wah, apartemen kakak mewah juga, pantes kak Yoga betah disini.” Jessi
memandang setiap interior apartemen Yoga yang bergaya eropa klasik.
“Siapa, Ga?” seorang perempuan keluar dari kamar hanya
mengenakan kimono.
Jessi menoleh kearah perempuan itu dan langsung berpikiran
negative. Lalu menoleh kearah Yoga dengan tatapan sendu.
“Saya bisa jelaskan, Jes.”
“Pantas saja kakak selalu sibuk, jadi ini yang bikin kak
Yoga sibuk sampai nggak ada waktu menghubungi Jessi?” Teriak Jessi, “Jessi
__ADS_1
benci sama kakak!” berlari keluar dari apartemen Yoga.
Yoga berusaha mengejar Jessi namun ditahan oleh perempuan
itu, tanpa pikir panjang Yoga menepis tangan perempuan itu dan mengejar Jessi,
sayang pintu lift sudah tertutup. Yoga gagal mengejar Jessi. Yoga kembali ke
apartemennya, ia ingat hanya mengenakan piyama tidur.
”Tadi itu siapa, Ga?’’ Tanya perempuan itu saat Yoga kembali
ke apartemennya.
“Tunangan gue, Yul.” Jawab Yoga lesu berjalan menuju
kamarnya. Yulia nama perempuan itu.
“Dia pasti salah paham sama kita, Ga?” Mengekori Yoga dari
belakang.
Sampai di depan pintu kamarnya Yoga berhenti, “Tentu saja,
gue mau ganti baju terus ngejar Jessi. Besok lo temuin gue di tempat biasa dan
jelaskan semuanya ke Jessi.” Ucap Yoga dan Yulia pun mengangguk. Setelah itu
Yoga mengganti piyama tidurnya dengan baju casual dan pergi mencari Jessi.
Dengan mengendari mobil inventaris dari perusahaan cabang
Hanggara group yang berada di Yoga menyusuri kota untuk
mencari Jessi. Yoga bisa saja menemukan Jessi dengan mudah jika bertanya pada
Raka atau Ayu, namum ia tidak mau. Ia tidak mau calon mertuanya mengetahui
pertengkaran nya dan Jessi saat ini.
“Kenapa aku tidak berpikiran sebelumnya.” Yoga tersenyum tipis menyadari hotel tempat Jessi menginap hanya berada di depan gedung
apartemennya. Padahal ia hampir mengelilingi kota demi mencari Jessi, tidak disangka yang dicari berada di dekatnya. Beruntungnya lagi pemilik hotel
dimana Jessi menginap adalah sahabat Papa Wisnu. Berkat koneksi orang dalam dan
embel-embel tunangan Jessi, Yoga bisa dengan mudah mendapat kartu kunci kamar Jessica.
Yoga pun menuju kamar Jessica, ia membuka pintu kamar Jessi
yang ia dapat dari reseptionis dan masuk ke dalam kamar perlahan. Samar-samar
Yoga mendengar suara isak tangis dari dalam kamar. Sudah pasti Jessica tengah
menangis.
“Huuuhuu, Kak Yoga jahat. Dasar gatel, nggaka bersyukur
punya tunangan cantik dan muda malah selingkuh sama tante-tante, hiks hiks.”
Yoga bisa mendengar dengan jelas bagaimana Jessi mengoceh, sesekali memaki dirinya. Ia menunggu beberapa saat di ruang tamu kamar hotel itu hingga tangis Jessi mereda, Yoga memberikan kesempatan Jessi meluapkan segala amarahnya dulu. Saat merasa Jessi sudah tenang, Yoga masuk kedalam kamar.
“Pantas saja hening, tenryata ketiduran.” Melihat Jessi terduduk di lantai dengan kepala menyender di atas ranjang. Yoga mengangkat
tubuh Jessi dan memindahkannya ke atas ranjang. Ia juga menyelimuti Jessi.
“Sudah pagi ternyata.” Jam dinding menunjukan pukul 05.00.
Yoga meraih ponselnya dan menghubungi sekertarisnya selama di kota untuk
membatalkan semua jadwalnya hari ini. Setelah memastikan jadwalnya hari ini
__ADS_1
tercancel dan tidak ada masalah Yoga memutuskan untuk tidur. Ia tidur di sofa
panjang ruang tamu. Yoga bisa saja tidur dengan Jessi, namun ia takut khilaf,
bagaimanapun Yoga seorang laki –laki dewasa.
Jessi terbangun kala mencium aroma masakan yang cukup menyengat, perlahan ia mengerjapkan matanya sambil melakukan peregangan otot. “Ah, pasti karena terlalu lapar jadi halu.” Menyibak selimutnya dan termenung untuk
beberapa saat. “Bukankah semalam aku dilantai?Apa aku mengigau lalu naik ke
atas tempat tidur?” pikirnya sambil mengingat kembali kejadian semalam.
“Ah, masa bodoh.” Menggelengkan kepalanya dan turun dari
tempat tidur. Ia melangkah masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan
dirinya. Usai membersihkan diri dan berganti pakaian Jessi keluar dari kamar
itu menuju dapur mini yang terhubung dengan ruang tamu bagian dari kamar
hotelnya. Langkahnya terhenti saat melihat sosok laki-laki yang telah membuatnya mennagis semalam, lelaki itu
tengah berkutat memasak di dapur mini.
“Kak Yoga ngapain disini?” Hardik Jessi dengan berkacak
pinggang. “Kakak nggak tau masuk ke ruangan orang lain tanpa izin itu nggak
boleh?” lanjut Jessi berjalan mendekat ke Yoga lalu menarik Yoga dan
menyeretnya berjalan menajuhi dapur. “Jessi nggak mau lihat Kak Yoga, lebih
baik Kak Yoga keluar dari kamar Jessi!” berusaha sekuat tenaga menyeret Yoga,
saat laki-laki itu menahan diri dengan diam di tempat.
“Ayo jalan, kenapa malah jadi patung?Bikin kesal aja.” Gerutu
Jessi menarik-narik lengan Yoga.
“Kamu mau menyeret saya dengan kekuatan kamu itu?” ejek Yoga
dengan senyum tipis.
“Memang kenapa dengan kekuatan Jessi?” Melepaskan lengan
Yoga, berbalik menghadap Yoga dengan tatapan tajam ala mommy Ayu.
“Nggak papa,” Balas Yoga menarik lengan Jessi mendekat ke
arahnya dan memeluk erat gadis itu.
“Lepasin!” ronta Jessi berusaha melepaskan diri dari pelukan
Yoga.
“Nggak akan.”
“Jessi benci kakak.”
“Saya cinta kamu.”
“Kak Yogaaaaa.” Gadis itu menggeram kesal. Ia sedang tidak
ingin bercanda, beraninya Yoga justru menggoda Jessi setelah apa yang Yoga
lakukan semalam.
.
.
__ADS_1
.
.