
Sudah tiga puluh Yoga menunggu di dalam mobil yang ia parkirkan di seberang rumah mewah mertuanya. Dia menunggu waktu yang pas untuk menyelinap masuk ke dalam rumah.
Saat melihat mobil sport Raka keluar dari gerbang, Yoga menundukan kepalanya dan membenarkan topi hitam yang dia pakai agar Raka tidak mengenalinya. Bersamaan dengan itu satu pesan masuk ke dalam ponselnya. Pesan dari Ayu sang ibu mertua yang sangat perhatian.
Mommy sama Daddy lagi jalan keluar. Kamu coba temui Jessi.
Isi pesan yang membuat Yoga bersemangat. Karena Raka dan Ayu sedang tidak berada di rumah, Yoga memberanikan diri membawa mobilnya masuk.
Di depan gerbang seperti biasa satpam kediaman mertuanya itu akan mencegat siapapun tamu yang datang.
“Saya, Pak. Mau bertemu Jessi sudah mendapat izin dari Daddy Raka.” Ucap Yoga berbohong saat satpam bertanya. Mendengar nama Raka di sebut tidak akan ada yang berani membantah perintah, pak satpam pun dengan suka rela kembali ke pos satpamnya dan membuka gerbang.
Yoga mengemudikan mobilnya memasuki halaman yang sangat luas dengan air mancur di sisi barat halaman dan beberapa gazebo berdiri kokoh di halaman itu.
Dia memarkir mobilnya di tempat parkir. Dan berjalan ke pintu utama. Disana Yoga disambut oleh pak Diman.
“Mau bertemu non Jessi ya, mas?” Yoga mengangguk mengiyakan, “Jessi ada ‘kan pak?” Tanya nya kemudian.
“Ada, mas. Non Jessi nya baru saja minum obat.”
“Kalau begitu saya langsung ke atas saja, pak.”
“Monggo, mas.”
Yoga berjalan menuju lantai dua ruang kamar Jessica berada. Dia membuka pelan pintu kamar Jessi dan mengintip suasana di dalam kamar.
“Nggak usah intap intip kalau mau masuk ya masuk aja.” Ucap Jessi yang menyadari kehadiran Yoga. Tentu saja Jessi tau, dia baru saja memeriksa ponselnya memeriksa GPS Yoga.
Yoga masuk kedalam kamar dan tersenyum, sejurus kemudian senyumnya hilang menyadari Jessi yang masih memasang tampang acuh tak acuh padanya.
Suasanya menjadi canggung. “Aku kamu..” kata keduanya secara bersmaan.
“Mas Yoga duluan saja.” Ucap Jessi.
Yoga menggelengkan kepalanya. “Nggak, kamu dulu saja.”
Jessi mengangguk, memang dia ingin mengucapkan sesuatu.
“Jessi minta maaf.” Ucapnya lirih.
“Karena Jessi kita kehilangan anak kita. Jessi emang ibu yang nggak berguna. Kehadirannya saja Jessi enggak tau bagaimana Jessi malah tau setelah kepergiannya. Jessi merasa gagal menjadi istri yang baik.” Lanjut Jessica disertai air mata yang mulai membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
Deg! Sakit! Yoga merasakan hatinya sakit, melihat Jessi meneteskan air matanya membuat hati Yoga seakan tercabik-cabik.
“Jessi minta maaf, mas bisa hukum Jessi. Tapi tolong jangan ceraikan Jessi.”
Yoga menggelengkan kepalanya, bagaimana Jessi bisa sampai berpikiran cerai. “Nggak Jes, yang terjadi bukan kesalahan kamu. Semua terjadi karena kehendak Tuhan.” Jari-jemari tangan Yoga menyentuh wajah Jessi dengan lembut. Menghapus air mata Jessica.
“Dan, apa tadi cerai? Mana mungkin saya menceraikan kamu. Kamu adalah hidup saya, saya tidak akan pernah melepaskan kamu dari hidup saya. Kamu hanya bisa selamanya bersama saya, sampai maut memisahkan kita.” Ucap Yoga.
“Tapi Jessi bukan istri yang baik, mas.”
“Stop.” Yoga meletakan jari telunjuknya di depan bibir Jessi. Isyarat agar Jessica diam. Yoga mendekat kearah Jessi dan merengkuh tubuh perempuan itu. “Kamu istri yang baik. Bagi saya kamu satu-satunya istri terbaik.”
Pelukan hangat Yoga membuat perasan Jessi semakin menghangat. “Maafin Jessi, mas. Hiks hiks.. Maafin Jessi.” Tangisnya semakin pecah dan tak terkendali.
“Tidak sayang, kamu sama sekali tidak bersalah. Saya yang salah, saya tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Maafin mas, Jes.” Tepuk-tepuk lembut Yoga berikan di punggung Jessi sementara Jessi semakin memeluk erat Yoga tanpa memperdulikan selang infus yang sudah ter copot dari tangan Jessi.
“Ehem..” drama maaf-maaf an Jessi dan Yoga selesai dengan kedatang Rey.
Yoga dan Jessi menoleh ke arah Rey. Kemudian kembali berpelukan.
“Benerin dulu selang infusnya baru pelukan lagi.” Kata Rey menunjuk selang infus yang sudah lepas.
“Gimana, mbak?” Tanya Yoga pada perawat.
“Tidak papa, pak. Hanya menghabiskan infus ini saja. Setelahnya tidak perlu di infus lagi.” Jawab mbak perawat sopan.
“Baik, Terimakasih.”
“Sama-sama, pak.”
“Udah baikan ni yee.” Goda Rey.
“Memang kapan kita bertengkar, tidak pernah.” Kilah Yoga sambil mengecup lembut puncak kepala Jessi.
“Cih, pamer kemesraan.”
“Biarin, lagi pula kita ‘kan halal.” Sahut Jessi mencium pipi kanan Yoga.
Eneg juga Rey lama-lama dengan pasangan labil di hadapannya itu. Sebentar-sebentar bertengkar, sebentar-sebentar baikan.
“Kamu nggak les, Rey?” Tanya Yoga mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Nggak, kata Daddy, Rey harus jagain kalian jangan sampai perang lagi. Menyebalkan.” Jawab Rey kesal. Jadwal les nya harus batal karena tugas penting dari Daddy Raka.
“Astaga, maafkan kami Rey. Kamu bisa berangkat les sekarang.”
“Ngusir?”
Dalam batinnya Yoga ingin berkata, iya cepet kamu pergi Rey. Biar dia bisa berduaan dengan Jessi tapi tidak enak.
“Mana mungkin, kami hanya merasa tidak enak karena menggangu jadwal les mu.” Kilah Yoga.
“Hilih pencitraan, bilang aja mau berdua an.” Cibir Rey yang langsung bediri. Rey bukan bocah yang tidak bisa membaca situasi. Ia tentu tahu betu Yoga dan Jessi yang baru saja berbaikan membutuhkan waktu berdua an.
“Mau kemana?” Tanya Jessi.
“Katanya disuruh les, atau Rey disini aja?”
“Jangan..” teriak Yoga dan Jessi. “Maksud kami jangan sampai bolos les, karna itu penting untuk masa depan kamu, Rey.” Ralat Jessi kemudian. Padahal memang Jessi dan Yoga tidak mau Rey tinggal.
Rey geleng-geleng kepala lalu melirik Yoga. “Kak Jessi baru saja pulang dari rumah sakit kak Yoga. Jangan aneh-aneh.” Ucap Rey sambil menyeringai.
“Sialan!” Batin Yoga. Memang adik iparnya itu pintar dalam segala hal.
“Apa-apa an sih kamu, Rey. Sudah pergi sana!” Usir Jessi.
“Iya-iya. Ini aku juga pergi. Memang siapa yang mau lama-lama jadi obat nyamuk.” Gerutu Rey meninggalkan Yoga dan Jessi.
**
Ayu sama sekali tidak bisa fokus. Dia kepikiran rumah. Apakah Yoga berhasil menemui Jessi atau tidak?
“Mereka sudah baikkan.” Ucap Raka seakan tahu apa yang istrinya cemaskan saat ini. Ayu menoleh ke Raka yang sibuk memilih kemeja baru. “Serius mas, mas tau dari mana?” Tanya Ayu penasaran.
“Rey yang bilang.” Jawab Raka.
Ayu lansung merogoh ponselnya yang berada di dalam tas. Dia menghubungi si bungsu Rey untuk mengkonfirmasi apa yang di katakan suaminya itu.
“Syukurlah, mommy lega Rey. Yaudah kalau gitu mommy tutup dulu ya sayang.” Ayu mengakhiri sambungan teleponnya dan memasukan ponselnya kedalam tas.
“Sudah percaya?” Sindir Raka.
“Iya, mas. Aku seneng deh anak-anak dah baikan.” Ayu merangkul Raka dengan gemas.
__ADS_1