Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Bab rumah sakit


__ADS_3

“Agak cepet ya pak!” Pinta Jessi pada sopirnya.


“Tenang, kak. Kak Yoga pasti baik-baik saja.”


“Nggak bisa, Rey. Sebelum kakak lihat kondisi kak Yoga secara langsung.” Kebiasaan Jessi saat cemas, gadis itu akan memainkan jari jemarinya.


Kenapa macet banget sih. Gerutu Jessica dalam batin karena tidak mau Rey khawatir bila Jessi terus mengeluh.


“Berhenti, pak!”


“Tapi non rumah sakit masih jauh.” Sela pak sopir.


“Jessi naik ojek yang ada di depan itu aja, pak.” Melihat pangkalan ojek di seberang jalan.


“Kakak jangan bercanda, dong!” Seru Rey.


“Mana mungkin kakak bercanda di saat kayak gini, Rey.” Melepas sabuk pengamannya dan memakai tas slingbagnya di bahu. “Kamu ikut pak sopir, Kakak naik ojek.”


“Non yakin mau ngojek?” Pak sopir terlihat khawatir.


“Tenang aja, pak. Di Jogja saya sering naik ojek.” Membuka gagang pintu mobil dan turun. “Jangan ngebut, pak. Macet nggak papa yang penting aman sampai rumah sakit, saya titip Rey.” Pesan Jessi pada sopirnya.


“Baik, non.”


“Hati-hati, kak.” Rey menyembulkan kepalanya sedikit keluar dari dalam mobil.


Jessi pun menganggukan kepalanya. Dari dalam mobil terlihat Jessi menaiki salah satu motor ojek yang langsung melaju meninggalkan pangkalan ojek.


Jessi bergegas menuju rumah sakit setelah mendapat telepon dari Raka. Beruntung gadis itu bisa menguasai situasi dengan tetap tenang.


“Mom, Dad?” Jessi berlari menghambur ke pelukan Ayu sambil menangis terisak. Akhirnya air mata yang secara tadi ia tahan itu pun luruh bergitu saja dari pelupuk mata gadis itu.


Ayu tak menyahut sapaan putranya, dia mengelus-elus lembut punggung Jessi untuk menenangkan Jessi.


“Yoga nggak papa, sayang. Hanya memar ringan.” Ucap Ayu lembut.


“Tadi Jessi dengar dari berita kak Yoga belum sadar.” Kata Jessi sesenggukan.


“Itu karena sepertinya Yoga mengalami trauma setelah kecelakaan, sebentar lagi pasti sadar.”


“Bohong!” Tidak percaya dengan perkataan Ayu. Nyatanya Yoga bukan berada di ruang perawatan biasa namun di ICU.


“Mommy nggak bohong, Jess.” Raka itu menyahuti percakapan antara istri dan putrinya.

__ADS_1


Yah, nyatanya memang Raka dan Ayu hanya berbohong untuk menenangkan Jessi. Sampai tengah malam Yoga masih terbaring lemah di ruang ICU dengan keadaan tak sadarkan diri. Pihak keluarga yang menjenguk pun di batasi, hanya satu orang yang boleh masuk. Mereka masuk secara bergantian, termasuk Jessi.


Bagaimana bisa Jessi tetap tenang melihat keadaan Yoga yang seperti itu?


“Ka-kak.” Dengan tangan gemetaran perlahan Jessi menyentuh tangan Yoga. “Maafin Jessi, kak.” Tangisnya kembali pecah.


Jessi mengingat kembali bagaimana dia yang tidak sabaran menunggu Yoga menjemputnya hingga memberondong Yoga dengan berbagai macam pesan chat.


“Bangun, Kak. Jessi mohon jangan seperti ini. Jessi nggak kuat lihat kakak lemah seperti ini. Mana kak Yoga yang selalu kuat, bangun, kak. Hiks, hiks, hiks.” Tetes per tetes cairan bening yang jatuh dari pelupuk mata Jessi itu mengenai punggung tangan Yoga yang saat ini Jessi tenggak dengan erat.


“Jessi nggak akan kayak anak kecil lagi, Jessi bakalan lebih sabar. Tapi, Jessi mohon kakak bangun. Bangun, kak. Hiks hiks.” Hingga waktu membesuk habis Jessica terus mengucap kata “Bangun, kak” berharap Yoga akan membuka mata namun tidak.


Dengan lesu, Jessi melangkah keluar dari ruangan ICU sambil menghapus sisa-sisa aur matanya.


“Jess, sini sama aunty.” Nabila melambaikan tangannya lalu menepuk bangku kursi kosong sebelahnya agar Jessi duduk disana.


“Aunty, hiks hiks.” Lagi-lagi Jessi menangis.


“Kamu yang sabar ya, sayang. Aunty yakin Yoga pasti kuat.” Merangkul bahu Jessi dengan penuh sayang. Sejak Jessi kecil hingga saat ini kasih sayang Nabila pada Jessi memang terlihat tulus layaknya seorang ibu yang menyayangi anak perempuannya.


Jessi tidak menginap di rumah sakit karena di larang oleh Raka. Sebagai gantinya Raka yang menginap menjaga Yoga dan melaporkan setiap perkembangan Yoga pada putri kesayangannya. Tidak sendiri, Raka menginap bersama Adam dan Radit sahabat Yoga.


**


“Mommy kan sudah bilang kamu harus tenang dan sabar, Jess.” Ayu mulai kesal karena Jessi mengganggu konsentrasi mendesign nya dengan pertanyaan yang diulang-ulang itu.


“Jessi udah sabar, mom. Sabar banget, ini sudah hari ketiga kak Yoga nggak sadar mommy!” Ucap Jessi yang di akhiri dengan seruan.


Ayu terdiam, benar! Sudah tiga hari calon mantunya itu terbaring di ruang ICU.


“Mommy, yakin rumah sakit itu kualitasnya bagus?” Mulai meragukan rumah sakit tenlay Yoga dirawat.


“Huh.” Ayu menghela nafas kesal plus harus ekstra sabar menghadapi rengekan putrinya saat ini, apalagi mood Jessi terlihat buruk selama tiga hari.


“Mom?”


“Mommy denger, Jes. Kamu bercanda meragukan rumah sakit itu? Kamu lupa itu rumah sakit milik mommy.”


“Sorry, Jessi lupa.”


“Kamu mending ke rumah sakit aja deh, dari pada gangguin mommy disini.” Usir Ayu.


“Sabar, bentar lagi Jessi kerumah sakit kok. Nunggu aunty Bila jemput.”

__ADS_1


“Mobil kamu kemana?”


“Nggak tau, lupa parkir dimana.” Jawab gadis itu dengan enteng.


“Astaga, Jess.” Ayu memijit pelipisnya sendiri, ke lakuan Jessi sungguh membuat Ayu merasa pusing. Tidak Raka, tidak Jessi, keduanya suka memarkir/meninggalkan mobil di sembarang tempat. Jika sudah begitu mereka akan merepotkan sopir untuk mengambil mobil itu. Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.


Rumah Sakit.


Celia pun datang membesuk Yoga meskipun lelaki itu belum sadarkan diri. Celia hanya bertemu Radit saat membesuk Yoga di jam siang hari. Kebetulan Radit dimintai tolong Nabila untuk menjaga Yoga saat Adam, Nabila maupun Jessi sedang ada urusan.


“Yang lain kemana, kak?” Tanya Celia.


“Kenapa nanyain yang lain, kalau ada yang di depan mata kenapa mencari yang tidak ada?” Radit menjawab sekaligus melempar sebuah pertanyaan untuk Celia.


Gue juga cuman basa-basi doang, males banget nyapa lo. Dasar kadal! Celia mengumpat dalam batinnya.


“Di tanya baik-baik kok sewot, maklum sih om-om jadi baperan.” Cibir Celia lirih namun Radit mendengar dengan jelas cibiran Celia.


“Kamu bilang saya apa??”


“Nggak.”


“Om? Kamu bilang saya om-om?” Radit menunjuk dirinya sendiri dan geleng-geleng kepala.


“Ya emang kenyataan udah om-om, mau gimana lagi?” Jawab Celia cuek.


Radit kembali menggelengkan kepalanya. “Kalau saya om-om, jadi kamu suka sama om-om?” Niat Radit tak lain adalah mendapat pengakuan bahwa Celia memang menyukainya.


“Itu dulu waktu Celia khilaf, sekarang nggak lagi.”


“Yakin?” Goda Radit.


“100% yakin, tidak 1000 % sangat yakin.”


“Masa sih? Kayaknya waktu sayap cium, kamu anteng-anteng aja malah kelihatan menikmati.” Satu gerakan tangan Celia langsung membungkam mulut Radit.


“Kak Radit apa-apaan?” Melotot pada Radit.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2