
FOLLOW INSTAGRAM AKU YAH TEMEN-TEMEN
@n.lita.s DI SANA AKU BAKALAN SHARE NOVEL-NOVEL AKU JUGA SPOILER :-)
***MAKASIHHH...
**************************************************************************************
Jessica dan Rey pergi ke markas besar daddy Raka. Tempat dimana Jessi bisa menemukan orang yang akan
membantunya mengurus masalah Celia. Jessi tentu tidak akan bisa terima Celia di perlakukan dengan buruk.
"Selamat datang, nona." Sapa salah satu orang kepercayaan Raka. "Tuan Raka sudah menghubungi saya
untuk menyambut kedatangan, nona." lanjutnya berkata. Sebelum kedatangan Jessica ke markas itu, anak buah Raka sudah di hubungi lebih dulu oleh Raka. Raka secara pribadi memberi perintah pada anak buahnya untuk melakukan apa saja yang akan di peritahkan Jessi, asalkan tidak beresiko pada keselamatan Jessi
semua bisa di lakukan.
Anak buah Raka membawa Jessica ke sebuah ruangan yang mirip dengan ruang tamu. Jessica duduk di sofa single yang berada diruangan itu, lalu Rey mengikutinya duduk di sofa yang lain dengan jarak tidak jauh dari Jessi, sekitar 30 centi meter.
"Siapa namamu?" Jessi bertanya pada pemuda yang menyambutnya.
"Nama saya Kris, Nona." jawab pemuda itu dengan sopan.
(Visual Kris. sc: Aktor Thailan)
"Oh, namamu seperti nama pamanku." Jessi mengingat pengawalnya waktu kecil yang juga bernama Kris.
Pemuda itu tersenyum dan menanggapi Jessi. "Nama saya memang sedikit pasaran, Nona."
"Beruntung wajah kakak tidak pasaran," Rey menimpali.
"Ya, kau benar Rey." Jessica mengangguk setuju.
"Apa saya boleh menganggapnya sebagai pujian, Nona?" tanya Kris.
"Hahaha, kau lucu. Tapi yah memang wajahmu lumayan tampan, sepertinya kita seumuran. Berapa usiamu?"
tanya Jessica penasaran.
"21, nona."
"Ya, kita seumuran. Tapi melihat kau orang kepercayaan Daddy pasti kemampuanmu tidak bisa diragukan
lagi. Daddy sudah memberitahumu 'kan Kris?"
Jessi bertanya dan langsung diangguki oleh Kris. "Saya siap mendengarkan perintah Nona Jessica."
__ADS_1
kata Kris dengan tegas. Pemuda itu sungguh percaya diri dengan apa yang dia ucapkan.
Jessi mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. "Kau lihat ini." menyerahkan ponselnya pada Kris. Kris menerimanya dan menunggu intruksi lanjut dari Jessica.
"Itu salah satu ponselku. Kau ambil agar aku lebih mudah untuk menghubungimu. Di galeri ada satu video yang
perlu kau lihat Kris!" tutur Jessi.
"Setelah melihat video itu, apa yang harus saya lakukan, nona?" tanya nya pada Jessi.
"Hapus saja, kak." celutuk Rey yang langsung mendapat pelototan tajam dari Jessica. "Aku 'kan hanya bercanda," ralat Rey kemudian.
"Kau diam dulu Rey," Ucap
Jessi pada adiknya lalu memandang Kris untuk melanjutkan perintah yang akan ia berikan pada Kris. "Setelah menonton video itu, kau perlu mengurus dalang di balik video itu Kris."
Kris mengangguk. "Lalu apa yang harus saya lakukan pada orang itu nona?"
"Bawa dia kehadapanku, Kris. Aku sendiri yang akan menghukumnya." smirk Jessi. Senyum sinis yang
mendarah daging dari Raka keluar seketika. Membuat siapapun yang melihatnya akan merasa merinding
"Kau bisa 'kan Kris?"
"Siap, saya bisa Nona. Saya akan membawa orang itu kehadapan Nona dalam waktu kurang dari 24 jam."
jawab Kris berani.
tersenyum puas satu langkah sudah ia jalankan. Tinggal langkah kedua.
"Pujian anda terlalu berlebihan, nona. Anda bisa memuji saya setelah saya menyelesaikan tugas dari nona."
"Baiklah."
Jessi melangkah dengan senang kembali ke rumahnya bersama sang adik yang setia mengikuti Jessica selama lebih dari empat jam hari ini. Rey dengan menurutnya mengikuti kemuan sang kakak, dari menemui orang kepercayaan Raka hingga berbelanja kebutuhan rumah.
Tentu saja tempat pertama yang ia tuju setelah sampai di rumah mewah yang kini ia tinggali adalah kamar tamu.
Jessi tidak sabar melihat keadaan Celia.
Kriet.. Jessi membuka pintu kamar tamu pelan, berjaga-jaga bila Celia sedang tidur ia tidak mau menimbulkan
kebisingan. Namun, ternyata Celia sedang menonton drama korea. "Astaga bisa-bisanya kau menonton drama korea disaat seperti ini.." Jessi geleng-geleng kepala melihat tingkah santai sahabatnya. Celia berlagak seolah
tidak memiliki masalah.
"Gue bingung mau ngapain, capek tiduran terus." Celia nyengir tanpa dosa.
"Ya mikir kek, apa kek."
__ADS_1
"Lo aja deh yang mikir."
"Masalah siapa yang mikir siapa." Cebik Jessi bergabung dengan Celia daia atas tempat tidur. Ikut menonton serial drama korea yang sedang populer.
Celia nampak ragu-ragu saat akan menceritakan Radit yang datang menemuinya saat Jessi dan kedua orang tuanya tidak berada dirumah itu. Tapi, ia tetap harus menceritakan kedatangan Radit dari pada Jessi tau dari rekaman cctv.
"Tadi kak Radit kesini." ucap Celia memberanikan diri. Ucapanya lirih hampir tak terdengar. Jessi yang sedang tertawa melihat drama korea itu pun terdiam dan melirik ke arah Celia. "Mau ngapain dia?"
"Dia kesini karena khawatir sama gue." balas Celia.
"Ngapain dia ngawatirin lo, kenapa dia nggak ngawatirin cewenya sendiri. Dasar kadal." komentar Jessi
kesal.
Apa yang diucapakan Jessi benar adanya. Mengapa Radit justru menghawatirkan dirinya bukan kekasihnya?Namun, anehnya Celia merasa senang dengan perhatian dari Radit. Membayangkan Radit
menepati ucapannya dan menyelesaikan masalah saat ini juga membuat hati Celia tenang.
"Lo nggak tanya apa dia baik-baik saja sama keluarganya?"
"Maksud lo apa?" balik bertanya.
"Setahu gue keluarga Kak Radit dan keluarganya mbak Yulia sudah menentukan tanggal tunangan mereka. Lo nggak tanya gimana reaksi keluarga dia sama masalah kalian?" Tidah heran jika Jessi sedikit banya tahu mengenai kehidupan Radit. Ia mungkin mendengar dari suaminya yang juga sahabat Radit.
Celia menggelengkan kepalanya dengan polos.
Disisi lain Radit yang baru saja menapakkan kaki nya di rumah kedua orang tuanya langsung mendapat hadiah berupa bogem mentah.
"Plakk..." satu tamparan keras mendarat di pipi Radit. Radit membeku di tempat sambil memegang salah
satu pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari sang Ayah.
"Bapak kecewa sama kamu, Radit! Yulia kurang apa sampai kamu tega berselingkuh dari perempuan sebaik Yulia?
kurang apa Radit?! Kurang Apa?" Pak Sutomo bertanya dengan nada tinggi. Beliau sangat marah saat melihat video pertengkaran Yulia dan Celia, dimana Radit hanya diam menonton pertengkaran itu.
Radit diam membiarkan Sutomo meluapkan segala amarahnya.
“Sudah, pak. Dengarkan dulu penjelasan dari Radit.” Bu Ning, ibunda dari Radit mengelus lengan suaminya
untuk meredakan kemarahan Sutomo.
“Apa yang mau bapak dengarkan buk?Sudah jelas pasti perempuan itu yang menggoda anak kita. Dia mau hidup enak menjadi suami anak kita yang sudah jadi pengacara hebat.” Apa yang dilakukan Ning tidak mampu meredakan amarah Sutomo. Lelaki itu malah semakin marah dan menuduh Celia yang tidak-tidak. Sutomo bahkan tidak mengenal Celia secara langsung namun sudah mampu menuduh Celia dengan tuduhan jahat.
Radit sendiri hanya mengepalkan kedua tangannya mendengar gadis yang dicintanya dituduh yang tidak-tidak oleh
Sutomo. Bukan ia tidak mau membela Celia namun sekarang bukan waktu yang tepat.
Jika dia melawan atau membantah Sutomo dengan watak yang dimilki Ayahnya hanya
__ADS_1
akan memicu perdebatan. Radit masih menghormati Ayahnya dia tidak mau berdebat
dengan sang Ayah. Apalagi sang Ayah memiliki penyakit jantung.