Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Perihal rasa


__ADS_3

Yulia mondar mandir di rumah nya, satu hari berlalu dan Radit tidak mencarinya. Jangankan mencari, lelaki itu bahkan tidak mengirim pesan sama sekali. Yulia menjadi sedikit cemas, ia takut Radit menganggap ucapannya serius. Padahal Yulia hanya menggertak Radit, bagiamana jika Radit benar-benar menganggap hubungan mereka sudah berakhir? Yulia tidak siap akan hal itu. Dia tidak mau hubungannya dengan Radit berakhir, tidak mau dan tidak bisa! Radit segalanya bagi Yulia.


Siang hari, Yulia memutuskan pergi ke kantor Radit untuk meluruskan permasalahan mereka sekaligus meminta maaf pada Radit akan sikapnya yang berlebihan tempo hari.


“Nggak ada ya, mbak.” Yulia menanggapi ucapan resepsionis dengan lesu, “kira-kira pak Radit kembali ke kantor jam berapa ya mbak?” Tanyanya ingin kepastian.


“Mohon maaf ibu, saya tidak bisa memastikan pak Radit kembali ke kantor jam berapa.” Jawabnya merasa tidak enak.


“Ya sudah mbak, tidak papa. Terimakasih.” Yulia berjalan lunglai keluar dari kantor Radit. Dia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya, di lajukannya mobilnya keluar dari parkiran firma hukum.


Radit sendiri tengah berada di kantor Jordan. Dia yang ditunjuk sebagai pengacara Celia tersebut sedang mengurus kepindahan Celia bergabung dengan perusahaan milik Jordan yang menaungi artis-artis papan atas.


“Kamu seneng, Cel?” Tanya Radit.


“Banget, kak. Celia kayak nggak nyangka banget bisa di posisi saat ini.” Jawab Celia terus terang.


“Syukurlah, jangan terlena dan tetap semangat mengejar karir kamu.” Pesan Radit yang langsung diangguki Celia dengan serius.


Celia tau ini bukan puncak kariernya, namun awal bagi dia untuk mengembangkan kariernya di dunia entertaiment.


“Kak Radit ada acara setelah ini?”


“Kenapa memang?” Tanya balik Radit.


“Celia mau ajak kak Radit makan siang. Sekaligus ucapan terima kasih Celia karena kakak selama ini sudah membantu Celia.” Kata Celia menatap Radit penuh harap. Terpancar ketulusan dari sorot mata Celia.


Lampu hijau.. batin Radit. Meskipun dia ada acara tapi dia bisa membatalkan acaranya demi makan siang berama Celia, kapan lagi dirinya bisa makan berduaan dengan Celia. Biasanya Celia tidak bersikap ketus saja sudah untung.


“Boleh.”

__ADS_1


Celia membawa Radit ke restoran Jepang. Meraka makan sushi sebagai menu makan siang kali ini.


“Kak Radit nggak suka sushi?” Merasa Radit tidak berselera dengan hidangan di hadapannya, “mau pindah restoran saja?” Maklum Celia tidak tau makanan yang di sukai Radit apa, sementara lelaki itu saat dalam perjalanan hanya menjawab “terserah” kala Celia bertanya mau makan apa dan dimana.


“Suka kok suka.” Radit menjawab sembari langsung menjejalkan sushi ke dalam mulutnya hingga mulutnya penuh.


“Pelan-pelan dong, kak. Makan sushi aja sampe belepotan kaya gini.” Refleks Celia mengelap sekitar bibir Radit dengan tisu.


Debaran-debaran aneh Radit rasakan kala Celia dengan lembut mengelap sekitar bibirnya dengan tisu. Di tangkapnya tangan kanan Celia itu dan ditatapnya lekat kedua bola mata Celia. Keduanya saling bersitatap dalam waktu yang cukup lama juga terlarut dengan pemikiran masing-masing. Hingga suara dering ponsel membuyarkan tatapan keduanya.


Sial!


Radit melepaskan tangan Celia dan mengelap sendiri sekitar an bibirnya. Sementara Celia langsung mengangkat panggilan masuk di ponselnya.


“Maaf ya kak, tadi manajer aku yang telepon.” Ucap Celia menjelaskan. Radit manggut-manggut.


“Ada masalah?”


“Oh, habis ini kamu mau diantar kemana?” Radit teringat mereka pergi ke restoran dengan satu mobil, yaitu mobil Radit. Sementara mobil Celia di bawa oleh manajernya.


“Celia mau pulang sih, kak. Anterin Celia sampai perempatan depan aja.”


Radit menuruti kemauan Celia mengatar perempuan itu hingga perempatan pertama setelah restoran. Keinginan Celia yang memilih pulang sendiri seakan membantu Radit mengemat waktu. Karena lelaki itu harus segera menemui klien nya. Dia tidak bisa membatalkan pertemuan dengan klien yang di jadwalkan saat jam makan siang. Beruntung klien Radit masih mau menunggu.


**


“Baru pulang?” Yulia memamerkan senyum manisnya menyambut Radit yang baru saja pulang dari bekerja.


Radit tidak mengindahkan pertanyaan Yulia dan memilih masuk kedalam aprtemen nya. Yulia pun tanpa malu mengkori Radit.

__ADS_1


“Aku bawakan makanan kesukaan kamu,” Yulia menenteng dua rantang yang dia bawa dari rumah. Rantang berisi semur ayam dan kolak makanan kesukaan Radit. Radit masih tidak menanggapi Yulia. Bahkan, lelaki itu seakan tidak menganggap Yulia ada. Dia menuju dapur membuka kulkas, mengambil sebotol air mineral dan meneguknya hingga habis. Rasa dahaga yang Radit tahan selama perjalanan pulang akhirnya terbayar dengan sebotol air mineral dingin itu.


“Dit.. kamu masih marah?”


Masih marah? Hah, yang benar saja Yulia. Apakah itu pertanyaan yang perlu Radit jawab di situasi saat ini. Bukankah Yulia sudah bisa menebak dengan pasti apakah Radit marah atau tidak.


“Dit ...” panggil Yulia dengan nada panjang berharap Radit mau menanggapi bara ga hanya seucap dua ucap kata, “kamu masih marah?” Menahan pergelangan tangan Radit.


“Saya pikir kamu sudah tau jawabnya, Yul.” Ucap Radit tanpa menatap Celia.


“Aku minta maaf, Dit. Aku yang salah.” Yulia berucap dengan lirih namun masih bisa terdengar oleh Radit.


Maaf? Kata yang dulu ingin sekali Radit dengar dari mulut Yulia itu kini tak berpengaruh apa pun bagi Radit.


“Kamu tidak perlu minta maaf. Kamu tidak salah.” Radit melepaskan tangan Celia dari pergelangan tangan nya, “lebih baik kamu pulang saja, saya capek Yul.” Katanya sembari berlalu masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam.


Yulia terbengong tepat di tempatnya sambil memandang pintu kamar Radit dengan tatapan sendu. Tak bisa lagi ia bendung genangan air yang sudah menganak sungai di pelupuk matanya. Air yang menggenang itu jatuh tanpa permisi melewati pipi mulus Yulia.


“Kamu bener-bener marah, Dit.” Niatnya berbaikan dengan Radit seketika sirna oleh sikap Radit. Yulia menyimpan rantang yang berisi makanan kesukaan Radit dan menulis pesan yang dia tempelkan di pintu kulkas.


“Aku pulang, Dit.” Pamit Yulia di depan pintu kamar Radit. Suaranya terdengar parau. Di balik pintu Radit mendengar ucapan Yulia, lelaki itu memejamkan kedua matanya sejenak. Apakah ini sikap tepat? Tanya Radit pada dirinya sendiri. Dia seakan bimbang dengan situasi saat ini.


“Semoga ini yang terbaik untuk kita, Yul.” Lirih Radit.


Saat mendengar pintu apartemennya tertutup, Radit keluar dari kamar. Yulia telah pergi dari apartemen nya. Yulia tidak lagi egois, dia mau mengalah kali ini namun sayang perasaan Radit sudah goyah. Yulia bukan lagi satu-satunya perempuan yang mengisi pikiran Radit saat ini. Perasaannya pada Yulia perlahan memudar karena kehadiran gadis lain.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2