
Follow instagram aku ya guys @n.lita.s
*Disana ada informasi update juga novel-novel aku yang lain. Sekali an kita bersilaturahmi di media sosial **💜*
...
Jessi kembali ke apartemennya setelah berbaikan dengan Yoga. Sementara Raka dan Ayu melanjutkan liburan di luar negeri. Setelah kejadian yang menimpa Jessi, Raka menempatkan dua pengawal untuk menjaga Jessi. Mereka berdua tinggal bersama Jessi sementara asisten rumah tangga yang semula bersama Jessi ditarik ke rumah utama. Kini hanya Tika dan Lula yang bersama Jessi. Mereka pengawal sekaligus asisten rumah tangga di apartemen Jessi. Untuk pak Joko tetep bersama Jessi sebagai sopir pribadi Jessi.
“Aku kesal!” Keluh Jessi pada Celia. Mereka sedang berada di cafe milik Jordan. Jessi melirik Tika dan Lula yang mengawainya dengan serius.
“Itu demi kebaikan lo.”
“Tapi ini berlebihan, Cel. Lo nggak lihat mereka mata-katain gue udah kayak tahanan.” Cebik Jessi kesal.
Celia terkekeh, memang benar apa yang dikatakan Jessi. Tika dan Lula memasang ekspresi sangar pada siapapun yang mendekati Jessi, sementara saat bersama Jessi mereka berdua tidak berekspresi.
“Gue heran bisa-bisanya mereka pasang wajah datar kayak gitu.”
“Lo lihat sendiri ‘kan. Gue bisa setres setahun sama mereka.” Cerocos perempuan yang beberapa saat lalu baru saja kehilangan calon anak pertamanya.
“Sabar...”
Jessi harus menjaga pola makan sehat, istirahat yang cukup dan juga olahraga yang cukup. Dia ingin segera memiliki momongan lagi.
“Habis ini kita ke salon ya!” Ajak Jessi dan Celia mengangguk. Beruntung hari ini jadwal Celia kosong. Dia bisa kemanapun tanpa memikirkan pekerjaan.
“Tapi ke kantor mas Yoga dulu.”
Yah, kenapa ke kantor Yoga. Celia ‘kan malas bertemu Radit.
“Ntar gue tunggu di mobil aja ya, lo masuk sendiri.” Ucap Celia.
“Mana bisa gitu? Lo harus nemenin gue dong.”
Sampailah mereka di gedung firma hukum milik Yoga. Jessi langsung menuju ke ruangan Yoga tanpa hambatan. Dia mengetuk pintu beberapa kali hingga terdengar sahutan dari Yoga barulah mereka masuk.
“Mas, aku datang nganter makan siang.” Jessi menujuk rantang mini yang sudah ia bawa dari cafe milik Jordan.
“Terimakasih, sayang.” Yoga menghentikan pekerjaanya setelah melihat kedatangan Jessi dan langsung menyambut Jessi dengan pelukan dan kecupan di pipi kanan dan pipi kiri.
“Ehehmmm.” Celia berdehem sembari mendudukan diri di sofa.
“Eh, ada Celia juga,” Yoga tersenyum ramah.
“Tidak papa, lanjutkan saja. Anggap saya tidak ada, tidak papa.” Celia mengayunkan tangannya dengan menengadah keatas. Dia memasang tampang kesal.
“Ya udah yuk kita lanjutkan, mas.” Jessi sengaja ingin menggoda Celia. Dia berjinjit sambil menyentuh kedua pipi Yoga lembut dan mengcup bibir Yoga. Yoga tersenyum dan menuruti tingkah jahil istrinya. Yoga melingkarkan tangannya di pinggang Jessi dan memetik tubuh Jessi lebih mendekat, sementara salah satu tangan Yoga menarik tengkuk leher Jessi dan memperdalam ciuman mereka.
“Sialan!” Celia menghentakkan kakinya dan keluar dari ruangan itu sambil mengomel. Sementara Yoga dan Jessi cekikikan berhasil mengerjai Celia.
“Dia pasti marah, Jes.” Kata Yoga.
Jessi menganggukan kepalanya, “aku pergi dulu ya mas.”
__ADS_1
Tidak mau membuat sahabatnya semakin kesal, Jessi pun mengejar Celia.
**
“Celia!” Panggil Radit tepat setelah Celia keluar dari ruangan Yoga. Celia melihat map yang ditangan Radit lalu berucap, “lagi enggak bisa diganggu, mending kak Radit datangnya nanti-nanti aja,” ucapnya sambil berlalu. Radit paham apa yang baru saja di ucapkan Celia. Dia mengurungkan niatnya masuk keruangan Yoga dan menyusul Celia.
“Kamu mau kemana?” Tanya Radit.
“Pulang.” Jawab Celia asal.
“Bagaimana kalau menunggu di ruangan saya, ada yang mau saya tunjukkan.”bujuk Radit.
Celia berpikir sejanak, tidak ada salahnya menunggu Jessi diruangan Radit. Dari pada Celia menunggu di mobil bersama robot Tika dan Lula lebih baik bersama Radit.
“Bagaiamana?”
Celia mengangguk setuju, “boleh deh.”
Ruangan Radit tidak seluas ruangan Yoga namun tetap nyaman dan terlihat rapi. Buku-buku tertata rapi di rak susun. Sofa tamu yang ada di ruangan Radit juga cukup empuk dan nyaman. Radit menuju meja kerjanya dan mengambil beberapa lembar kertas.
“Duduk, Cel.” Mempersilahkan Celia untuk duduk.
“Apa itu, kak?” Celia penasaran dengan kertas-kertas yang di bawa Radit.
“Ini gugatan yang diajukan oleh eks staf Naya. Saya mau menunjukannya ke kamu, barangkali kamu kenal salah satu diantara meraka.” Radit menyerahkan lembaran kertas satu bandel itu pada Celia.
Celia membaca lembar per lembar dengan teliti, “jadi, mereka menggugat Naya?” Tanya Celia.
Yah, tidak kaget jika Jordan membantu Naya. Semua orang tau Naya dan Jordan dekat entah itu sebagai kekasih atau sebagai atasan dan bawahan. Tapi, jika Salsa tau pasti akan sedih.
“Kenapa kak Radit menunjukan berkas ini ke Celia?” Dia tidak ada hubungan dengan kasus yang akan Radit tangani.
“Saya mau tanya pendapat kamu. Menurut kamu lebih baik saya ambil atau tidak kasus ini?”
Loh, kenapa Radit bertanya pada Celia?
“Ya terserah kakak, itu ‘kan kerjaan kakak. Celia enggak tau apa-apa,” jawab Celia.
“Padahal saya mau menolaknya, tapi kamu bilang terserah ya sudah saya terima saja.”
“Kalau begitu jangan!” Ceplos Celia kemudian dan Radit tersenyum.
“Katanya terserah.”
“Jangan, kasihan Salsa kalau tau. Emang kak Radit enggak merasa nggak enak sama Salsa? Dia ‘kan musuhan sama Naya.” Tanya Celia.
“Sebenarnya saya nggak ada urusan sih. Saya harus bersikap profesional menyangkut pekerjaan.”
Kalau gitu ngapain lo tanya gue? Celia membatin dengan kesal.
Tapi ini tidak bisa dibiarkan. Celia harus bertindak membantu Salsa. Dia harus mencegah Radit menjadi pengacara Salsa tapi bagaimana caranya? Jordan sangat berkuasa.
“Kalau nolak emang kak Radit bisa? Jordan pasti akan menekan kak Radit.” Mencari tau apakah ada celah.
__ADS_1
“Kamu lupa, se-berkuasa Jordan atasan saya juga menantu di keluarga Pratama. Yoga juga berkuasa.” Jawab Radit bangga pada sahabatnya.
“Jadi kamu mau saya terima atau tolak permintaan Jordan?”
“Tolak lah.”
“Ada syaratnya.”
“Idih nggak ikhlas banget. Pake syarat-syarat an segala.”
“Saya ‘kan jadi kehilangan satu klien jika menolak, jadi, harus ada imbalannya dong.” Begitu cara Radit bernegosiasi.
“Ya sudah apa syaratnya?” Tidak papa yang penting Celia bisa membantu Salsa. Dia akan menjadi sahabat yang berjasa. “Hehehe, kau memang sahabat yang baik, Cel.” Batinnya senang.
“Kamu temani saya ke Malang besok.”
“Kenapa harus keluar kota? Jakarta aja deh, Celia temani kak Radit kemana aja asal masih dalam lingkup Jakarta.” Tawar Celia.
Radit menggeleng, “acara saya di Malang. Bukan Jakarta. Mau dibantu apa enggak?” Tanya Radit.
“Sehari aja ‘kan?”
“Iya.”
“Ya sudah, Oke.”
.
.
.
Epilog
Jessi mencari-cari Celia setelah keluar dari ruangan Yoga. Dia berjalan kesana kemari celingukan mencari Celia tapi tidak menemukan Celia. Sampai di resepsionis Jessi bertanya pada karyawan resepsionis.
“Mbak lihat teman saya tadi?” Karyawan itu menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah terima kasih.” Kemudian bertanya pada Lula dan Tika. Namun, kedua pengawal itu juga tidak melihat Celia.
Brak..
“Sayang, kamu kembali lagi?” Tanya Yoga heran.
“Celia hilang.”
“Hilang gimana?”
“Ya hilang, enggak ada dimanapun. Celia hilang.” Kata Jessi panik.
Yoga merangkul Jessi dan mengajak Jessi duduk, “tenang sayang. Biar aku yang cari,” kata Yoga mengambil laptopnya. Yoga memeriksa CCTV kantornya dan melihat Celia masuk ke ruangan Radit.
“Astaga..” Jessi geleng-geleng kepala. Yang di cari malah enak-enakan mejeng di ruangan Radit.
__ADS_1