
Celia mengabaikan saja pertanyaan Jessi, ia memilih untuk melanjutkan aktivitas nya menata piring di meja makan.
Semoga nggak beneran di kasih garam sama Cece.
Jessi membawa keluar nampan berisi dua cangkir teh dan satu toples kaca berisi camilan.
“Diminum dulu, kak.” Meletakan dua cangkir teh hangat itu di meja kaca tepatnya di depan Radit dan Yulia.
“Makasih, Jes.”
Jessi pun membalas ucapan Yulia dengan senyuman. Jessi lalu duduk di sofa single berwarna pink, sofa khusus miliknya karena ia sendiri yang memilih sofa itu saat berbelanja kebutuhan interior bersama Yoga.
“Waktu pertama kali Radit ngajak kesini aku heran lho, masa cowok sofa nya pink.” Kata Yulia sambil mengingat pertama kali ia diajak Radit mengunjungi apartemen Yoga.
Jessi pun terkekeh, “Ini kursi pribadi Jessi, kak.” Ucapnya.
“Eh, ada lo, Dit!” Semua menoleh ke arah sumber suara. Yoga keluar dari kamar dengan celana selutut berwarna coklat dan kaos hitam polos. Lelaki itu lalu bergabung bersama Jessi dan Radit di ruang tamu. Yoga duduk di sebelah Jessi dengan sofa yang berbeda.
“Ada masalah?” Tanya Yoga kemudian setelah mendudukan dirinya di sofa.
Radit mengangguk, “Masalah artis yang kemarin, dia menarik gugatannya.” Ucap Yoga kemudian.
“Oh, akhrinya damai?” Tanya Yoga.
“Gue nggak yakin mereka damai, kayaknya ada yang janggal, Ga.”
“Maksud, Lo?”
Radit mulai menceritakan kejanggalan masalah yang ia hadapi pada Yoga sedetail mungkin. Sementara Yoga mendengarkan dengan seksama. Yoga memang baru pulang ke Indonesia, berbeda dengan Radit yang sudah satu minggu lebih dulu pulang ke Indonesia. Meskipun baru pulang, Yoga tetap tau perkembangan kasus yang di pegang oleh pengacara-pengacara di bawah naungan firma hukumnya. Ia selalu mendapat laporan dari setiap kasus.
“Hm, Oke. Lo kirim berkas nya ke gue. Biar ntar gue pelajari.” Kata Yoga dengan niat mengakhiri obrolan mereka karena merasa gadis disebelahnya hampir merajuk. Apalagi Jessi sudah menarik-narik ujung kaos Yoga pertanda ia meminta perhatian lain.
“Oke, Ga.”
“Apa,Hm?” Lirik Yoga pada Jessi.
Jessi pun mendekatkan kepalanya ke telinga Yoga dan berbisik. “Kak Radit kalau mau makan bareng kata Celia nggak papa.”
Yoga mengangguk mengerti. “Dit, karena lo udah disini sekalian makan bareng aja. Kebetulan Jessi tadi masak banyak.” Ucap Yoga.
“Ya gue sih nggak nolak rejeki.” Jawab Radit cepat.
Berbeda dengan Yulia yang melongo mendengar jawaban Radit, Yulia merasa Radit tidak jaga image sama sekali. Yulia sedikit malu. “Basa basi dikit kek, Yang. Nggak mau kamu?” Menyenggol lengan Radit.
“Anggep aja rumah sendiri.” Jawab Radit cuek.
Setelahnya Yoga mengajak Jessi, Radit dan pacarnya ke ruang makan. Disana sudah siap hidangan yang tertata rapi di atas meja. Ada opor ayam, ada udang asam manis, ada Ayam goreng, ada cah kangkung, juga orak arik dan sambal beserta lalapannya.
“Wah, ternyata rame.” Radit melihat adanya Rey juga si kembar Aksa, Akra.
“Hai, kak.” Sapa ketiganya yang sudah duduk di kursi masing-masing.
“Celia, mana?” Tanya Jessi tidak melihat Celia di ruang makan. Jessi jadi cemas jangan-jangan Celia mogok makan karena ada Radit dan Yulia. Tapi, sebelumnya Celia mengatakan tidak masalah Radit dan Yulia bergabung.
__ADS_1
Radit sendiri ikut celingukan saat Jessi menanyakan Celia, seakan lelaki itu juga mencari-cari dimana sosok Celia.
“Baru ganti baju, Kak. Tadi bajunya ketumpahan jus gara-gara Aksa.” Jawab Akra.
“Oh.”
“Ya sudah, Silahkan duduk sambil nunggu Celia kita ngobrol bentar.” Kata Yoga. Semuanya duduk di posisi masing-masing. Yoga di paling ujung, sebelah kananya ada Jessi.
Celia sendiri langsung bergabung setelah berganti pakaian. Gadis itu nampak lebih cantik berganti dress polos dengan lengan sebahu.
“Uhukk.”
“Pelan-pelan dong, yang.” Yulia langsung menyodorkan minum untuk Radit saat laki-laki itu tersedak.
“Santai aja, Dit. Makanannya masih banyak, nggak bakalan kurang.” Yoga justru bergurau melihat Radit tersedak.
“Sialan, lo.” Balas Yoga.
Kenapa Gue ngerasa Celia lagi godain gue. Batin Radit.
Bukan tanpa alasan Radit tersedak, semua karena ulah Celia. Awal nya Celia berniat mengambil opor tambahan, saat Radit memandang Celia tanpa sengaja gadis itu malah mengedipkan sebelah matanya, sontak Radit yang sedang makan pun jadi tersedak.
Sementara Celia, setelah meletakan opor di meja makan dan duduk kembali di kursinya, gadis itu melanjutkan makannya tanpa rasa bersalah sedikit pun melihat Radit tersedak karena ulahnya. Ia justru menikmati makannya dengan lahap.
Sialan ni bocah. Lagi-lagi Radit merasa kesal karena Celia.
***
Jessi berada di kamar yang sama dengan Celia. Si kembar dan Rey juga berada di kamar yang sama. Apartemen Yoga memang cukup besar, Yoga pindah apartemen yang lebih besar sejak beberapa bulan yang lalu.
Di dalam kamar Jessi dan Celia menonton siaran ulang sinetron dimana Celia menjadi salah satu pemeran di sinetron itu. Yah, meskipun hanya pemeran pembantu bukan pemeran utama.
“Gimana menurut lo akting gue?” Tanya Celia.
“Em, lumayan sih. Mau gue bantu biar karir lo naik?”
Celia menggelengkan kepalanya, “Gue tau lo akan dengan mudahnya membantu gue naik daun dan terkenal. Tapi, gue nggak mau. Gue mau berhasil dengan usaha gue sendiri.” Jawab Celia.
“Nggak perlu diragukan lagi, lo emang the best.” Merangkul salah satu sahabat tersayangnya.
“Jelas dong, pokoknya Jes, ntar kalau gue terkenal dan dapat award. Gue bakal sebut nama lo di saat gue nerima penghargaan itu.” Kata Celia bersungguh-sungguh.
“Semangat, Cel. Gue yakin lo pasti bisa. Dan, gue akan nunggu saat itu.” Sahut Jessi.
Yah, semoga Celia mampu meraih impiannya.
“Haus nih, gue ambil minum dulu.” Jessi pun menganggukan kepalanya. Celia turun dari tempat tidur menuju dapur untuk mengambil minum.
***
Tak disangka Celia malah bertemu Radit yang sedang membuat kopi. Radit menoleh saat Celia membuka kulkas.
“Haus?” Sapa Radit sambil mengaduk kopi buatannya.
__ADS_1
“Iya, kak Radit sendiri lagi buat kopi?”
“Iya, soalnya mesti begadang kayaknya, banyak yang perlu di selesaikan.” Jawab Radit.
“Owh.” Celia mengambil satu botol air mineral dari dalam kulkas dan menutup kembali kulkas itu. Lalu menengguk air mineral itu.
“Cel?”
“Ya, kak?” Setelah meminum seteguk air.
“Kamu sengaja ‘kan?”
“Sengaja? Maksud kak Radit apa?” Tidak mengerti maksud Radit, bersikap seolah bingung.
“Kamu..”
“Iya, aku sengaja apa kak?”
“Menggoda saya tadi, kamu mengedipkan mata kamu buat menggoda saya ‘kan?” Tuding Radit ceplas-ceplos.
“Nggak tuh.” Jawab Celia. “Perasaan kak Radit aja kali.”
Radit meletakkan sendok di sebelah gelas kopinya dan menatap Celia. “Kamu suka sama saya?Saya bisa lihat kamu sering cari-cari perhatian saya bahkan saat kamu ikut Jessi berkunjung ke kantor Yoga.” Sambil bersedekap di depan dada. Tatapan Radit cukup dalam menyorot sorot mata Celia.
“Ya, emang kenapa kalau Celia suka sama kak Radit?” Jawab Celia lantang. Entah dari mana gadis itu memiliki keberanian. Celia bahkan berjalan maju mendekat ke arah Radit.
“Saya punya pacar.”
“Saya nggak tanya tuh.”
“Cel, maksud saya.” Radit nampak gugup saat Celia berjalan semakin mendekat ke arahnya.
“Memang apa salah Celia?Salah Celia suka sama Kak Radit? Salah?” Tanya nya dingin.
“Ng-nggak, nggak salah. Menyukai orang itu hak kamu, tapi saya tidak bisa membalas perasaan kamu. Saya tidak mau kamu terluka.” Jawab Radit jujur.
“Celia tau kok, maka dari itu mulai hari ini Celia akan mengakhiri cinta sepihak ini.” Ucap Celia tepat di hadapan Radit.
Celia berjinjit sedikit dengan kedua tangannya menyentuh kedua bahu Radit dan Cup, gadis itu mengecup bibir Radit. Radit sendiri membelalakan matanya, ia tidak menyangka Celia akan seberani itu.
“Semua sudah berakhir.” Ucap Celia sembari menjauhkan bibirnya dari bibir Radit. Gadis itu langsung berbalik dan meninggalkan Radit.
“Mana bisa begitu.” Set ..Radit menarik lengan Celia hingga gadis itu menoleh kearahnya dan mencium bibir Celia. Jika Celia hanya mengecup bibir Radit, berbeda dengan Radit, lelaki itu mencium bibir Celia dan mel*matnya lembut, Radit bahkan menggigit kecil bibir bawah Celia agar Celia membuka bibirnya, Celia pun terbawa suasana. Cukup lama Radit mencium Celia hingga keduanya hampir kehilangan nafas, dan Radit melepaskannya.
“Jika ingin mengakhiri maka akhiri dengan benar.” Ucap Radit.
Tak membalas ucapan Radit, Celia justru berlari kabur. Bahkan ia melupakan air mineralnya yang jatuh saat Radit tiba-tiba menciumnya.
.
.
.
__ADS_1