
Tok..tok..
Jessi menoleh ke arah pintu, gadis itu melihat Jordan masuk kedalam kamarnya. Jordan membawa nampan berisi makan malam Jessi, di belakangnya Rey membawa setoples kerupuk kesukaan Jessi. Jessi tersenyum melihat dua saudara kandungnya itu. Kedua kakak beradik itu meletakan makanan yang mereka bawa di atas meja kaca.
“Makan!” Jordan menatap Jessi lalu beralih menatap makanan yang ia bawa.
“Iya, iya..” Jessi tersenyum turun dari tempat tidurnya menuju sofa. Sementara Rei sudah berbaring di karpet bulu kesukaannya.
“Pantesan bawa kerupuk, ternyata bakso. Jessi bisa gemuk kalau malam-malam makan bakso.” Gerutu Jessi sambil menelan bakso yang sudah ia potong kecil-kecil.
“Tinggal makan aja protes, masih mending kamu masih bisa makan.” Tegur Jordan.
“Iya, iya..”
Jordan bergabung dengan Rey di karpet bulu. Rey sudah menyalakan Ps, siap bermain game dengan Jordan.
“Ambilin minum di kulkas dong Rey.”
Rey menoleh ke arah kulkas yang jaraknya hanya satu meter di sebelah kanan Jessi.
“Ambil sendiri, jangan manja!” Tegur Jordan lagi.
“Rey sih mau-mau aja, tapi, kata kak Jordan, kak Jessi suruh ambil sendiri jangan manja, jadi, ya Rey nurut aja sama kak Jordan.” Kilah Rey yang aslinya memang malas mengambilkan air minum untuk Jessi.
“Cih, alasan.”
Satu setengah jam berlalu.. Rey dan Jordan masih berada di kamar Jessi main PS.
“Kalian nggak tidur?”
“Tidur.” Jawab Rey dan Jordan.
“Ya udah, balik ke kamar kalian sana!” Usir Jessi.
“Kita tidur disini saja.” Ucap Jordan.
“Setuju! Kakak tidur dulu saja.” Rey ikut menimpali.
“Hem, terserah kalian saja.” Malas berdebat karena hasilnya susah bisa di tebak sekali Jordan dan Rey bilang akan tidur di kamar Jessi maka kedua nya pasti akan tidur di kamar Jessi. Jessi mengusir pun akan sia-sia.
Jessi mengembalikan peralatan makan yang kotor ke dapur lalu kembali ke kamar. Ia menggosok gigi memakai krim malam dan naik ke atas tempat tidur.
“Good night, Boys.” Ucap Jessi.
“Hm.” Saut Jordan dan Rey.
__ADS_1
Tidak perlu waktu lama Jessi sudah terbang ke alam mimpi. Jordan dan Rey pun ketiduran di karpet bulu dengan posisi PS masih menyala.
***
Hari Sabtu sekolah libur, Jessi menghabiskan siang harinya untuk kerja part time agar nanti malam dia dan Yoga bisa malam mingguan.
Sesuai dugaan Jessi, pukul empat sore Yoga sudah menjemput Jessi di depan cafe. Yoga mengantar Jessi pulang untuk mandi dan berganti pakaian lalu keduanya akan malam mingguan. Jessi mengajak Yoga nonton film.
Devina juga tengah berada di Mall yang sama. Devina bersama sahabatnya sedang berbelanja. Devina langsung menghampiri Yoga dan Jessi dan menyapa keduanya saat melihat Yoga.
Jessi yang awalnya tidak menyadari keberadaan Devina pun sedikit kesal. Jika, Jessi lebih dulu melihat Devina, ia pasti akan membawa Yoga segera pergi dari tempat itu sebelum Yoga melihat Devina, tapi, sayang, Jessi kalah cepat. Devina sudah berdiri di depan Yoga dan Jessi.
“Pak Yoga, tidak menyangka bisa bertemu bapak di sini.” Kata Devina berbunga-bunga.
Cih, pencitraan aja teross. Lo pikir gue nggak tau, di belakang gue lo panggil pacar gue Ga, Ga, nggak pake pak. Lo pikir Mie gaga apa.
“Iya, tidak menyangka di Mall yang luas ini bisa-bisanya bertemu ibu Devina.” Jawab Yoga datar.
Ini juga, di belakang gue Devina Devina, di depan gue sok-sok an pake ibu segala.
“Bapak sedang apa disini?” Tanya Devina basa-basi.
“Malam minggu ya kencan lah.” Gumam Jessi.
Yoga dan Devina serempak menoleh ke arah Jessi, yang ditoleh pun cuek.
Devina tersenyum kikuk. Ada perasaan cemburu yang menggebu-gebu di dalam dirinya, namun ia berusaha menahan itu dengan memperlihatkan senyum aneh.
Senyum apaan itu, kalo nggak ikhlas lebih baik nggak senyum. Gue juga tau dalam hati lo panas, kan?Gue kerjain ah. Muncul lah niat licik Jessi untuk mengerjai Devina.
“Sayang, mata aku kelilipan kayaknya.” Keluh Jessi sedikit memiringkan tubuhnya kearah Yoga.
“Kelilipan?” Yoga melepaskan tangannya dari pinggang Jessi. Lelaki itu menghadap ke arah Jessi, kedua tangannya menyentuh lembut sekitar an mata Jessi. “Mana yang kelilipan!” Tanya Yoga lembut.
“Yang ini, perih banged.” Ucap Jessi sambil berkaca-kaca menunjuk mata kanannya.
“Masih perih?” Yoga meniup-nipu lembut bagian mata sebelah kanan milik Jessi.
“Masih, kayaknya di cium sembuh, sayang.” Ucap Jessi ragu. Namun, dengan bodohnya Yoga menuruti kemauan Jessica. Lelaki itu mengecupi mata kanan Jessi berulang-ulang dengan lembut tepat di hadapan Devina.
Makan tuh cemburu,1-0. batin Jessi cekikikan.
Melihat roman picisan di hadapannya darah Devina semakin mendidih, ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
“Kalau begitu saya permisi pak Yoga.” Ucap Devina memilih pergi. Ia tidak sanggup melihat kemesraan Jessi dan Yoga.
__ADS_1
“Hm.” Menyahut tanpa menoleh. Yoga masih fokus pada mata Jessi.
Entah Yoga yang bodoh, atau Jessi yang terlalu pintar menipu Yoga. Jika dipikir realistis mana mungkin Jessi kelilipan, mereka pergi pakai mobil bukan motor tidak akan ada polusi. Lalu, mereka berada di dalam Mall besar bukan di lapangan terbuka, mana ada debu? Dan, ditambah lagi sejak kapan mata kelilipan bisa sembuh dengan di cium. Ada-ada saja ide Jessi.
“Kak, ibu itu yang kemarin di kantor kakak?” Tanya Jessi. Dia dan Yoga sudah melanjutkan perjalanan menuju bioskop.
“Iya, kenapa?”
“Nggak papa, kayaknya mau cerai ya, kak?” Yoga mengangguk menjawab pertanyaan Jessi. “Padahal cantik, apa kurangnya coba sampai suaminya mau ceraiin ibu itu.” Entah apa yang sedang Jessi coba lakukan.
“Suaminya selingkuh.” Jawab Yoga. Jessi sebenarnya kemarin sempat mendengar garis besar alasan Devina dan suaminya akan bercerai.
“Oh, kasian.”
Yoga tidak menyahuti ucapan Jessi karena tidak mau membahas lebih lanjut mengenai Devina.
“Mau popcorn?” Mengalihkan pembicaraan.
“Yang manis. Sama milo.”
“Oke, kamu tunggu disini.” Yoga berlalu membeli popcorn dan milo sementara Jessi menunggu di ruang tunggu. Jessica bermain ponselnya sembari menunggu Yoga membeli popcorn, tanpa ia sadari dua pasang mata tengah memperhatikan Jessi dari kejauhan. Keduanya menatap Jessi dengan sinis.
**
“Selera Yoga bagus juga, daun muda, cantik dan modis.” Seloroh seorang perempuan yang bernama Fani. Dia adalah sahabat Devina.
“Cih, cantik dari mana?Masih cantik an juga gue.” Cibir Devina. Fani menoleh sekilas pada Devina lalu memandang Jessi.
Kayaknya lo udah kalah telak, Dev. Gue gak yakin Yoga mau ninggalin bocah itu demi lo. Dari yang gue lihat dia lebih cantik dari lo. Batin Fani, setelah beberapa saat mengamati Jessi. Fani tidak berani mengatakan apa yang ia batin pada Devina karena tidak mau Devina semakin terluka, apalagi mengingat saat ini Devina dalam proses perceraian dengan suaminya.
“Udah lah, Dev. Cari cowok lain aja, gue yakin masih banyak cowok yang lebih dari Yoga yang mau nerima lo nanti.” Bujuk Fani. Awalannya Fani mendukung niat Devina menggangu Yoga lagi, namun setelah melihat Jessi entah mengapa Fani menjadi ragu.
“Lo gimana sih, Fan. Gue udah setengah jalan, nggak mungkin mundur lagi. Lagian lo nggak tau Yoga sekarang tajir.” Kata Devina.
“Dari dulu dia emang tajir, Dev. Lo nya aja yang kurang.” Fani juga salah satu teman kuliah Yoga, jadi, dia tau siapa Yoga yang juga adik angkat Adam, salah satu pengusaha kaya di Jakarta yang otomatis Yoga pun orang kaya.
“Beda, dulu dia masih pewaris kedua. Cuman anak angkat di keluarga Hanggara, pewaris tunggalnya tetep mas Adam. Kalau sekarang dia udah punya firma hukum sendiri, punya usaha coffe shop banyak.” Ucap Devina.
“Bilang aja dulu lo ngira Bagas lebih kaya dari Yoga, makanya lo milih Bagas.” Sindir Fani.
“Diem lo, yang dulu ya dulu. Yang terpenting sekarang, gimana pun caranya Yoga harus jadi milik gue.”
Lo emang susah dibilangin, Dev. Gue kasihan aja kalau rencana lo nggak berhasil.
.
__ADS_1
.
.