
“Welcome home.” Ucap Jessi pada dirinya sendiri. Ia dan Yoga baru saja pulang dari bulan madu di Bali. Bukan bulan madu sepenuhnya karena di Bali Yoga juga mengurus pekerjaan.
Yoga masuk kedalam apartemen sambil menenteng dua buah koper besar. “Saya langsung ke kantor ya, Jes?”
“What? No, No, No, mana bisa begitu?” Protes Jessi, “Kita baru sampai dan kak Yoga sudah harus ke kantor?” Jessi berkacak pinggang tidak senang.
“Ada kerjaan penting sayang, saya sudah meninggalkan pekerjaan disini selama beberapa hari.” Mendekati Jessi dan mencium lembut puncak kepalanya, “Nanti malam kita lanjutkan.” Ucap Yoga yang mampu membuat Jessi melongo, lanjutkan? Apanya? Batin Jessi.
Jessi lupa setelah menikah suami pengacaranya itu menjadi lelaki yang super duper mesum.
“Suami mau kerja nggak di cium tangannya?” Yoga mengangkat tangan kanannya ke udara yang langsung reflek disambut Jessi dengan mencium punggung tangan Yoga.
“Assalamualaikum sayangku.” Pamitnya.
“Walaikumsalam.”
Saat pintu apartemen tertutup Jessi langsung mengomel kesal. Baru pulang dari bulan madu sudah di tinggal lagi. Kekesalan Jessi semakin menjadi saat ia merasa lapar.
**
“Mommy kemana, Rey?” Tanya Jessi. Jessica memutuskan pergi ke rumah mommy Ayu untuk menumpang makan karena tidak mau makan sendirian.
“Mommy ke Eropa sama Daddy. Memang kakak tidak tau?”
“Oh, iya. Kakak lupa.”
“Lapar?” Rey bisa melihat Jessi kelaparan dari cara Jessi mengelus-elus perutnya. Jessica mengangguk. Rey geleng-geleng kepala merasa iba. “Menantu kedua Hanggara grup pulang ke rumah orang tuanya karena kelaparan, sungguh moment yang langka.” Gumam Rey.
“Diam kamu, kakak lapar sekali.” Mengambil piring dan mulai meletakan nasi beserta lauk pauk ke atas piring.
“Memang suami kakak kemana?”
“Kerja.”
“Suami kakak gila kerja.”
“Baru tau?Kakak ipar kamu memang gila kerja sama seperti Daddy.”
Rey menangguk setuju karena Daddy Raka oi tak jauh berbeda dari Yoga.
“Apa kak Jo masih di Jogja?” Tanya Jessica.
“Sedang mengejar cinta.” Jawab Rey.
“Haha, pulang-pulang Salsa jadi kakak ipar kita Rey.” Jessi terkekeh, tidak menyangka Jordan akan se bucin itu pada Salsa. Meskipun Jordan tidak pernah menceritakan bagiamana perasaannya pada Salsa tapi hanya dari melihat gelagatnya Jessi dan Rey sudah tau Jordan mencintai Salsa.
__ADS_1
“Lebih baik kak Salsa yang jadi ipar kita daripada ondel-ondel itu.”
“Hahaha, betul juga kamu.”
***
Bruk... “Ma-maaf.” Celia tidak sengaja menabrak seseorang saat ia terburu-buru. “Maaf saya tidak sengaja.” Kata Celia kemudian.
“TI-tidak papa, Celia?!”
“Kak Radit!”
“Kamu ngapain disini?” Tanya Radit orang yang baru saja Celia tabrak.
“Kakak sendiri ngapain disini?” Tanya balik Celia.
“Malah balik nanya. Saya kerja.”
“Celia juga kerja.”
Siapa yang mengira Celia dan Radit akan bertemu di Surabaya.
“Syuting? Sinetron atau ftv?” Tanya Radit.
“Ftv, kak.” Jawabnya singkat. “Kalau begitu Celia duluan ya kak.” Pamitnya sebelum detak jantungnya yang bergemuruh seperti ombak itu terdengar oleh Radit.
Ingin rasanya Celia menolak tapi ia juga sungkan. Apalagi Radit sudah memohon-mohon. Akhirnya Celia pun setuju. Mereka makan di rumah makan khusus masakan barat.
“Makasih traktirannya, kak.”
“Sampai kapan kamu disini?” Tanya Radit.
“Lusa, kak.”
“Apa kita bisa makan siang lagi besok?”
“Celia lihat jadwal dulu ya kak.” Cara Celia menolak ajakan makan siang Radit dengan halus. Untung saja Radit tidak memaksa, lelaki itu juga tau seberapa padanya jadwal artis yang sedang merintis karir nya. Celia pasti bekerja keras demi karir yang cemerlang.
“Baiklah.”
Sejak bertemu Radit mood Celia menjadi buruk. Ia tidak konsen dan sering kena teguran dari sutradara.
“Kamu kenapa sih Cel?Aneh banget nggak semangat.”
“Maaf mbak,” ucapnya pada Tiwi asisten baru Celia yang juga manajernya.
__ADS_1
“Kamu sakit atau gimana?” Tiwi menyetuh kening Celia dan keningnya, “nggak panas tuh.”
“Habis ini Celia mau tidur, mbak.”
Seperti apa yang dia ucapkan, Celia langsung tidur usai syuting selesai. Dan, dia baru terbangun subuh. Celia bahkan melewatkan jam makan malam.
“Mbak Tiwi kok sudah bangun?” Celia heran manajernya yang notabene non muslim itu kenapa bangun di jam subuh.
“Kita harus berkemas dan kembali ke Jakarta, syuting nya di lanjut di Jakarta. Soalnya pemeran utamanya nggak bisa ke Surabaya.” Ucap Tiwi menjelaskan sambil mengemas barang-barangnya.
Celia mengangguk saja, ia tidak kaget lagi dengan situasi saat ini. Sudah sering Celia mendapati perubahan jadwal dari kru sinetron maupun ftv. Dia yang hanya pemeran pembantu bisanya mengikuti perubahan jadwal tanpa protes.
“Kamu nggak papa ‘kan?” Kadang malah Tiwi yang merasa tidak enak pada Celia karena perubahan jadwal yang tiba-tiba.
“ITS Okay, mbak. Celia juga udah kangen Jakarta.” Jawabnya, dengan perubahan jadwal begini Celia tidak perlu makan siang bersama Radit. Ia justru senang.
Radit bertanya pada pihak hotel tempatnya menginap yang juga tempat kru dan artis ftv menginap untuk mencari Celia. Pihak hotel pun mengatakan jika semua kru ftv dan artisnya sudah cek out pagi tadi.
“Mereka sudah kembali ke Jakarta, sayang sekali.”
**
“Sudah pulang? Kemarin lo minta jadwal di Surabaya di perpanjang sampai besok, kenapa sudah sampai kantor?” Tanya Yoga heran. Kemarin Radit ngotot meminta Yoga memberinya penundaan kepulangan dari Surabaya hingga besok. Tapi siang ini Radit sudah menampakkan batang hidungnya di kantor lengkap dengan koper mininya dan wajah yang ditekuk bak baju kusut yang belum di setrika.
“Gue capek, buatin kopi kek apa kek.” Protes Radit.
“Hm, sekertaris gue lagi di luar. Lo buat kopi sendiri aja.”
Yoga cuek dan kembali meneruskan pekerjaanya yang sempat tertunda karena kedatangan Radit. Merasa di cuek i oleh Yoga, Radit pun berniat kembali ke ruangannya.
“Gua kasih cuti setengah hari, lo pulang aja.”
“Hahaha, gini nih gue demennya kerja sama lo. Lo selalu tahu yang gua mau, kalau gitu gue langsung pulang bos.” Girang sekali Radit saat Yoga memberinya cuti meskipun hanya setengah hari. Setidaknya Radit bisa habiskan waktunya untuk tidur sampai malam.
“Ingat laporan.”
“Siap bos.”
Menaiki taksi online Radit pulang ke apartemennya, apartemen yang masih nyicil. Awalnya Radit tinggal bersama orang tuanya namun dia ingin mandiri dan memutuskan membeli apartemen dengan pembayaran kredit. Bisa saja Radit membayar cash jika meminta bantuan Yoga, namun ia lebih memilih mencicil. Dengan begitu gaji bulanan Radit akan terpakai dengan hal positif.
Apakah gaji pengacara tidak besar, kenapa Radit harus mencicil apartemennya? Gaji pengacara cukup besar namun Radit juga harus membayar angsuran hutang keluarganya yang ia gunakan untuk biaya tambahan kuliah. Itu sebabnya Radit hanya bisa membeli aprtemen dengan kredit.
.
.
__ADS_1
.