
Follow instagram aku ya guys @n.lita.s
*Disana ada informasi update juga novel-novel aku yang lain. Sekali an kita bersilaturahmi di media sosial **đź’ś*
**
Di suatu pagi yang sangat cerah menurut, Rey. Namun tidak bagi pasutri yang masih perang dingin. Rey menyantap sarapannya berupa nasi goreng ati ampela dengan lahap. Tidak mengindahkan dua orang yang saling acuh di sekitarnya.
“Aku selesai. Terimakasih untuk sarapannya. Aku berangkat sekolah dulu.” Ucap Rey sambil menggendong tas ranselnya.
“Hm.” Jawab Jessica.
“Hati-hati Rey.” Jawab Yoga dan menganggukan kepalanya.
“Aku juga akan berangkat kerja.” Yoga berucap sambil menatap Jessica hangat.
Jessica acuh, “berangkat ya berangkat aja.”
Sabar Yoga. Kamu harus banyak bersabar seperti apa yang dia sehati oleh Raka. Jessi masih labil, kamu sebagai kepala keluarga yang harus sabar, Yoga!
Yoga memakai jas kerjanya yang semula tersampir di kursi dan memakainya. Ia berdiri dan mendekati Jessi duduk, hendak mencium Jessi. Namun, Jessi mengelak. Yoga tidak mau bertengkar di pagi hari.
“Baiklah, aku berangkat.” Berakhir dnegan urusan lembut di kepala Jessica.
Langkah Yoga semakin menjauh dari tempat Jessi saat ini. Jessi memandangi punggung suaminya dengan sedih. Kenapa dia memusuhi Yoga hanya karena hal sepele? Kenapa? Padahal dia sudah berjanji pada mommy Ayu akan bersikap lebih dewasa setelah menikah, namun apa yang terjadi saat ini. Bukan bersikap dewasa malah sebaliknya. Jessi kekanak-kanakan! Merasa tidak tenang berpisah dengan pertengkaran, Jessi pun menyusul Yoga. Dia berniat akan meminta maaf pada Yoga.
Drap.. Drap.. Jessi berlali dengan kencang mengejar Yoga. Sayang sekali, lift sedang digunakan. Ia tidak sabar dan pergi ke tangga darurat untuk menyusul Yoga. Jessi berlari tanpa hati-hati bahkan saat menuruni anak tangga. Hingga nasib naas menimpanya, ia terpeleset dan jatuh teguknya dari beberapa anak tangga.
“Awh.” Ringisnya merasakan sakit yang kur biasa dibagian perutnya. Tak hanya itu Jessi merasakan pelipisnya berdarah.
“Ah, ini sakit.” Rintih Jessi memegang erat perutnya. Dia ingin berdiri meminta bantuan namun tidak sanggup. Rasa sakit yang menyerang perutnya membuat Jessi kesulitan bergerak, “Mas Yoga, hiks..hiks..” Jessi mulai menangis dan memanggil-manggil nama Yoga.
“Mas Yoga, Jessi kesakitan, hiks..hiks..” Jessi terisak masih sambil mengelus perutnya berharap elusan lembut dari tangannya bisa meredakan sakit.
Namun, apa ini? Apa yang terjadi? Jessi melihat ada cairan merembes di belahan bagian bawahnya, cairan itu menetes di pahanya berwarna kemerahan seperti darah segar. Tidak mau merasa penasaran Jessi pun menyentuh cairan itu dengan jari telunjuknya dan menciumnya. Aroma amis khas daras tercium jelas. Tidak salah lagi, itu adalah darah yang keluar. Tapi darah apa? Jessica panik. Dia mengesot mendekat ke arah tangga hendak meraih pegangan di bagian tangga berusaha berdiri namun gagal. Ia ambruk.
“Hiks.. hiks.. Mas Yoga, Daddy, mommy, kakak, Rey, siapapun tolong Jessi.. hiks hiks.” Cairan di belahan bagian bawah Jessi terus merembes di paha semakin banyak.
__ADS_1
Dia hanya memakai daster dan tidak sanggup berdiri sementara cairan merah itu semakin merembes. Bagaimana ini? Ponsel pun Jessi tdak bawa.
Pandangan Jessi mulai kabur saat seseorang memanggilnya.
“Mbak.. mbak.” Panggil seseorang. Jessi merasa ada tangan yang menyentuh lengannya sebelum dia akhirnya kehilangan kesadaran.
**
Sampai di kantor, Yoga mengirim pesan pada Jessica.
I love you, sayang. Maaf untuk kemarin. (Emot peluk)
Pesan yang dikirim Yoga sudah terkirim namun tidak di baca oleh Jessica. Dia mengira Jessica masih marah dan mengabaikan pesannya.
Tok tok..
“Masuk!”
Radit menyembul dari balik pintu, hanya kepalanya yang terlihat. “Anak-anak udah nunggu dari tadi, jadi meeting nggak?” Tanya sahabat sekaligus rekan kerjanya.
Oh iya. Yoga melupakan pekerjaan pentingnya. Hari ini ada beberapa anak baru di perusahaan Yoga. Calon pengacara hebat yang bergabung di firma hukumnya butuh pengarahan.
Ruang meeting yang terletak di dekat ruang kerjanya itu sudah penuh oleh karyawan baru dan karyawan lama. Yoga memasuki ruang meeting dengan gagah. Moderator mulai membuka acara.
Sementara di dalam ambulan, Celia menangis sesenggukan sambil menggenggam erat tangan sahabatnya.
“Jess, bangun, Jess.” Isaknya dengan suara sesak. Kedua tangan Celia berlumuran darah.
Sesaat Jessi membuka mata sesaat menutup mata. “Gue enggak papa.” Ucap Jessi lirih.
Singkat cerita, beberapa waktu yang lalu Celia datang ke apartemen Jessi. Celia sedang free, tidak ada jadwal syuting. Dia ingin menghabiskan waktunya bersama Jessica. Berjalan-jalan di maap ataupun mengobrol di cafe sambil menikmati kopi dan camilan.
Saat tiba di apartemen Jessi, tidak ada orang disana. Celia sudah menekan bel beberapa kali dan tidak ada respon. Dia pun memutuskan untuk pergi, namun di lantai bawah Celia melihat kerumunan orang dan ambulan. Dia mendekat karena penasaran. Betapa kagetnya Celia bahwa korban yang akan masuk ke dalam ambulan adalah Jessica. Tanpa pikir panjang, Celia langsung ikut masuk ke dalam ambulan.
“Mbak siapa?” Tanya petugas ambulan melihat Celia tiba-tiba masuk kedalam ambulan.
“Saya sahabatnya, mas. Cepat jalan, teman saya butuh pertolongan cepat!” Ucap Celia dnegan tenang.
__ADS_1
Petugas ambulan langsung menutup pintu dan bergegas. Sirine ambulan pun di nyalakan dalam perjalanan agar lancar. Petugas yang di dalam ambulan melakukan tindakan pertolongan pertamanan.
Kembali ke dalam ambulan. Pertolongan pertama tidak mampu menghentikan pendarahan yang dialami Jessica, mau tidak mau mereka harus segera sampai dirumah sakit.
“Pak, apa nggak bisa lebih cepat?” Tanya Celia. Sudah berapa menit mereka di dalam ambulan? Keadaan Jessi semakin membahayakan. Wajah Jessi mulai pucat, celi tau Jessica kesakitan meskipun Jessi menahannya tanpa bersuara.
“Jalanan macet mbak. Saya sudah klakson tapi enggak ada yang minggir.” Susah payah sopir ambulan membunyikan klakson tapi kendaraan yang di depan mereka tetap tidak bergerak. Ada kendaraan yang enggan minggir meskipun sudah mendengar klakson dari ambulan. Ada juga kendaraan yang tidak bisa minggir karena keadaan.
“Bagaimana ini?” Celia menggigit bibir bawahnya cemas.
“Kumohon bertahanlah, Jes.” Buliran cairan bening kembali menetes di sekitar pipi Celia. Jessi merasakan kekhawatiran yang Celia rasakan, Jessica menganggukan kepalanya dengan lemah, berusaha bertahan sekuat tenaga. Dia tidak ingin menyerah dengan kesakitan yang dialaminya saat ini.
Berkat doa, polisi lalu lintas yang melihat ambulan sedang membawa pasien pun membantu. Pak polisi dengan motor Gede nya membuka jalan dan mengantar ambulan sampai ke rumah sakit. Dengan teriakan keras pak polisi menyuruh para pengendara untuk memberi jalan pada ambulan.
“Ya Allah semoga Jessi baik-baik saja.” Batin Celia.
Ambulan sampai di rumah sakit. Tepatnya mereka di Edward hospital.
“Tolong cepat, pak.” Pinta Celia pada petugas ambulan untuk menurunkan Jessi dengan cepat. Mereka menuju ruang IGD. Disana ada beberapa dokter yang salah satunya Celia kenal.
“Dokter Pram!” Panggil Celia.
“Siapa yang sakit, Cel?” Tanya Pram lalu memandang ke arah brankar dorong, “astaga, nona Jessica!” Buru-buru Pram mendekati Jessica dan memeriksanya.
Celia menunggu di luar ruang IGD saat Jessi di periksa. Dia berusaha menghubungi Yoga namun tidak ada jawaban.
“Kemana sih kak Yoga?” Gerutu Celia kesal. Puluhan kali Celia mencoba menghubungi Yoga tapi gagal. Celia kepikiran orang lain yang satu kantor dengan Celia. Dia membenci orang itu tapi mau tidak mau demi Jessica dia harus menelepon nya. Namun, dia San Yoga sama-sama tidak bisa dihubungi.
Celia melihat mbok Nem, dan pak Joko tergopoh-gopoh berjalan kearahnya.
“Bagaimana non Jessi, mbak?” Tanya mereka.
“Masih di periksa, pak.” Jawab Celia.
Dia pun mendapat ide, “pak Joko saya bisa minta tolong?”
“Bisa non, apa yang bisa saya bantu?”
__ADS_1
“Tolong pergi ke kantor kak Yoga, pak. Bawa kak Yoga kesini, saya tidak bisa menghubungi kak Yoga soalnya.” Ucap Celia.
“Baik, Non.”