
Lana Lan tampak mengulas senyuman, masih terus menyentuh wajah Tristan.
"Kamu tahu sayang? aku bukan mempermasalahkan kisah masa lalu, bagi ku itu bukan hai yang harus di permasalahkan selama memang boleh di rahasiakan"
"Tapi saat telinga ku mendengar nya dari orang lain, aku khawatir ada praduga yang salah tertanam didalam hati dan Fikiran ku, sebab cerita banyak orang jelas selalu hadir Dengan versi yang berbeda-beda, cukup berbanding terbalik dengan versi asli dari orang yang bersangkutan"
Ucap Lana Lan masih terus menatap bola mata Tristan.
"Agar hubungan kita berdua tetap harmonis dan jauh dari cekcok,mari mencoba untuk saling terbuka. Utarakan rahasia soal itu tapi tanpa saling menghakimi. Tentunya, hal ini aku lakukan dengan kepala dingin bukan dalam keadaan marah yang menggebu-gebu"
Tambah nya lagi.
"Sejatinya mempertimbangkan setiap kejujuran yang sudah kamu coba utarakan, menentukan sejauh mana rahasia tersebut memengaruhi hubungan di antara kita berdua hmmm?"
Setelah berkata begitu, Lana Lan mencoba menunggu penjelasan yang akan Tristan lontarkan pada dirinya.
Tristan mencoba menarik pelan nafas nya, menatap balik bola mata Lana Lan cukup lama.
Dia fikir apa yang dia takutkan pada akhirnya terjadi juga, tidak tahu lisan siapa yang berucap hingga membuat keadaan menjadi sepelik ini.
Dia hanya takut perihal kemarin melukai perasaan Lana Lan, karena itu selama ini tidak pernah sama sekali membicarakan soal masa lalu yang dia lakukan pada Ayana di masa Kemarin.
"Bukan kah hubungan yang sehat sejatinya dibangun atas dasar kepercayaan dan kejujuran bukan, honey?"
__ADS_1
Tanya Lana Lan lagi, mencoba menyadarkan Tristan yang tampak ragu dan bimbang untuk bicara.
"Aku bukan type perempuan yang marah tanpa berfikir terlebih, kamu paling tahu diri ku bukan?"0
Pada akhirnya Tristan mengeluarkan juga suaranya.
"Iya, itu terjadi sebelum kita menikah"
Setelah berkata begitu, sejenak Tristan menelan Saliva nya.
"Kenapa?"
Tanya Lana Lan masih berusaha menyentuh lembut wajah Tristan.
"Terdengar mengerikan, saat itu Aku hanya menginginkan apapun milik Gao, tapi semua terhenti ditengah jalan saat Ayana memberikan diri ku pelajaran berharga soal Hati Nurani...."
Belum sempat Tristan menyelesaikan semua ucapannya, tiba-tiba jemari Lana Lan menutup bibirnya.
"Segini sudah cukup, aku berusaha untuk memahami kemana alurnya saat itu"
Telah berkata begitu Lana Lan melepaskan jemarinya.
"Tidak ada orang baik yang tidak punya masa lalu, dan tidak ada orang jahat yang tidak punya masa depan"
__ADS_1
"Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berubah menjadi lebih baik. Bagaimana pun masa lalunya dahulu, sekelam apa lingkungannya dulu, dan seburuk apa perangainya di masa lampau"
Ucap lana lan cepat.
"Asalkan kamu tidak menyakiti perasaan kak Ayana kemarin, itu cukup membuat aku lega, itu artinya tidak ada hal yang perlu aku khawatir kan untuk kita datang bersilaturahim bukan?"
Tanya Lana Lan didalam pengharapan.
Tristan dengan cepat menggeleng.
"Tidak, aku sama sekali tidak pernah melukai nya"
Tristan mencoba untuk menyakinkan Lana Lan.
Sang istri tampak tersenyum senang, kemudian dengan cepat mulai memasang sandal dan meraih tas miliknya.
"Bersiap untuk melakukan silaturahim honey?"
Tanya nya kemudian sambil perlahan memasukan tangannya ke lengan Tristan.
"Sangat siap sekali"
Ucap Tristan dengan jutaan senyuman kebahagiaan.
__ADS_1