
Tristan meletakkan sajadah yang dipinjam kan Lana Lan pada dirinya tadi, membiarkan Lana Lan merapikan semua buku serta Al-Qur'an yang mereka pelajari. Sejenak dia melirik ke arah jam dinding, sudah cukup larut sudah lewat tengah malam.
Setelah menyelesaikan sholat magrib Lana Lan mengajak nya untuk menyantap makan malam, kemudian setelah itu mereka mulai belajar Soal Islam.
Cukup membuat Tristan bingung karena dunia ini benar-benar terasa baru untuk nya.
"Hmm aku cukup lambat belajar"
Tristan bicara cepat
Lana Lan tersenyum sambil meletakkan sajadah, buku-buku serta Al-Qur'an yang mereka pelajari.
"Bukan lambat, hanya belum terbiasa"
ucap Lana Lan, kemudian dia mulai memasukkan semua barang-barang itu kedalam koper nya.
"Aku akan tidur dilantai"
ucap Tristan pelan, berusaha meraih sebuah bantal lantas berniat untuk segera berbaring.
"Naiklah ke atas"
ucap Lana Lan cepat
"Kita bukan pasanganan yang di haramkan, kamu boleh naik ke atas"
__ADS_1
ucap Lana Lan lagi, kemudian menepuk-nepuk bantal yang ada di samping nya"
"Berikan pada ku bantal mu"
Tristan tampak ragu, dia hanya takut jika hasrat nya tiba-tiba memuncak apa yang harus dia lakukan? itu sedikit rumit bagi nya, sebab dia bukan orang yang bisa terlalu lama menahan semua keinginan nya.
Lana Lan tampak terkekeh, dia langsung menarik bantal Tristan.
"Kamu terlalu punya banyak pertimbangan"
ucapnya sambil meletakkan bantal Tristan
"aku benar-benar lelah, aku akan tidur lebih dulu"
"Hmm"
Sejak tadi Tristan jelas berusaha untuk menetralisir perasaan nya,dia berfikir untuk keluar sejenak untuk menghisap rokoknya di kursi depan yang terletak tepat didepan pintu kamar mereka.
Dia meraih rokok dan pamatik di atas nakas, berjalan Berlahan membuka pintu lantas menutup nya kembali, Tristan menyalakan pamatik nya, menghisap rokoknya secara berlahan lantas duduk di kursi yang ada tepat didepan pintu kamar mereka.
Sebenarnya fikiran nya cukup menerawang jauh, dia hanya berfikir kenapa Lana Lan beragama Islam, setau dia Lana Lan acapkali hilir mudik ke gereja bersama tuan Gideon dulu. Lalu kenapa tiba-tiba Lana Lan berpindah keyakinan?.
Jika bukan kepercayaan nya, jelas Lana Lan tidak mungkin tahu begitu banyak soal Islam, tapi...jika kepercayaan nya, lantas bagaimana dengan kepercayaan awalnya fikir Tristan.
Teka-teki semacam itu membuat dirinya jadi sedikit bingung sejak beberapa waktu ini
__ADS_1
Tristan kembali menghisap rokok nya secara Berlahan, menghembuskan rokoknya beberapa kali ke atas.
Seketika suara handphone nya mengejutkan dirinya, Tristan mencoba memperhatikan layar handphone nya Beberapa Waktu kemudian langsung mengangkat nya.
"Ada apa?"
Tristan bertanya sambil kembali menghisap rokoknya.
"Sudah dikirim? ke email?"
Tristan tampak mengerutkan dahinya.
"Aku akan memeriksa nya"
ucap Tristan cepat, mematikan panggilan nya kemudian langsung mematikan rokoknya ke asbak yang ada di kursi samping dimana dia duduk.
Lantas dengan gerakan cepat Tristan membuka pintu kamar mereka, mencari laktop dindalam tas nya, memeriksa kotak email untuk beberapa waktu.
Saat muncul alamat email Ali disana, dengan cepat Tristan meng klik berkas yang di berikan Ali.
Dia membuka satu persatu dokumen yang dia terima, mendownload nya lantas melihat satu persatu secara berlahan berkas yang telah tersimpan ke dalam dokumen nya itu.
Seketika bola mata Tristan terbelalak kaget, membuka satu persatu dokumen dan foto-foto yang ada di hadapannya itu satu persatu dengan gerakan cepat.
Kursor mouse terus berjalan kesana kemari, Tristan mencoba untuk meng zoom semua yang dia lihat, takut kalau-kalau dia salah.
__ADS_1
Oh damn it
seketika Tristan menoleh ke arah Lana Lan, yang telah terlelap dalam tidur nya itu, menatap nya dengan pandangan yang sangat sulit untuk di artikan.