
Lana Lan terus mondar-mandir di sepanjang ruangan tamu, dapur bahkan kamar, sebentar-sebentar dia melirik ke arah depan, menunggu jika-jika Tristan pulang, sejak habis sholat magrib hingga sekarang sudah lewat tengah malam sang suami tidak juga kunjung pulang.
Kemana? kemana dia?
jelas saja itu menjadi pertanyaan telak di dalam relung hati nya.
Dia sempat menghubungi Eliot bahkan juga menghubungi Joyce tapi jawaban dari mereka jelas mengecewakan, mereka sama sekali belum bertemu tristan sejak kemarin.
Ali, yah Ali seharusnya tahu dimana Tristan saat ini.
"Dimana dia?"
Saat dia mendengar kan suara dentuman musik yang begitu keras dari balik handphone nya, seketika hati Lana Lan bertalu tidak karuanan. Dia fikir mungkinkah Tristan berada di klub malam saat ini? bersama perempuan?
"Aku tanya dimana suami ku brengsek"
Lana jelas enggan memaki sembarangan, tapi kali ini kekhawatiran tentu saja menghantam dirinya, Dia jelas tidak rela dan ikhlas jika Tristan berada di tempat terlaknat itu.
Ali jelas saja menjadi batu tidak berperasaan, enggan menjawab pertanyaan sang nyonya muda, dia juga jelas berada di bawah ancaman tuan nya .
"Aku tanya dimana Tristan?".
Lana Lan kembali bertanya kepada Ali saat laki-laki itu ada dihadapannya, Sepersekian detik kemudian air mata Lana Lan jelas telah tumpah tanpa bisa dibendung lagi.
"Katakan dimana suami ku Ali?"
Ali memejamkan pelan bola matanya, pada akhirnya dia memberitahukan dimana Tristan bersembunyi.
"Klub malam kah?"
__ADS_1
seketika tangan nya gemetaran saat mendapati tempat yang diberikan Ali.
Sejenak Ali menggeleng pelan
"Tuan tidak pernah lagi masuk ketempat seperti itu nyonya, jangan khawatir"
Lana Lan berusaha menarik nafasnya lega.
"Syukur Alhamdulillah"
ucap lana Lan pelan
"Nyonya ingin pergi kesana sekarang?"
tanya nya cepat
sejenak Lana Lan menggeleng.
"mungkin tristan butuh untuk menenangkan pemikiran, aku juga sedang butuh waktu untuk berfikir juga"
ucap lana Lan pelan, sambil menundukkan pelan Kepala nya.
"Bantu aku menjaganya, InsyaAllah aku akan datang dalam beberapa waktu.
Ali tampak terdiam, mengangguk pelan kemudian balik membungkukkan kepalanya.
"Bantu atur pola makan nya dengan baik Ali, dan ingatkan Tristan untuk terus menunaikan ibadah sholat 5 waktunya"
Lana Lan bicara dengan bola mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"asam lambung nya sering kambuh jika makan nya telat sedikit saja"
"Ya.. nona"
Ali menjawab pelan, mengangguk kan kepalanya kemudian melesat pergi dari hadapan Lana lan.
*********
3 hari Lana Lan benar-benar merasakan perbedaan yang begitu nyata, tidak ada tristan disamping. Meskipun baru 3 bulan lebih usia pernikahan mereka, jelas saja semuanya menjadi berubah drastis seketika. yang biasanya begitu ramai dengan godaan Tristan tiba-tiba menghilang, yang biasanya saat terbangun Tristan dengan hangat memeluk dan menciumnya kali ini tidak ada, yang biasanya di saat sarapan pagi dan makan malam berdua kali ini hanya sendiri, yang biasanya ada suapan-suapan manis tiba-tiba menghikang entah kemana,
rasanya begitu menyesakkan untuk Lana Lan, Seketika saat makanan masuk ke mulut Lana Lan, air matanya tumpah Seketika, dia benar-benar merasa kehilangan.
Lalu perasaan seperti apa ini? kenapa begitu menyakitkan?
tangisnya kencang tanpa henti
********
Saat turun dari mobil nya, sejenak Lana Lan terdiam, menatap sebuah rumah dengan bangunan Kokok yang depannya di Pagari besi yang menjulang tinggi. seketika seseorang menapakkan wajah nya, seorang security tampak melongok menatap Lana Lan.
Seakan tahu dan pernah melihat Lana Lan sebelumnya, dengan wajah Ramah security menyambut Lana Lan.
"mencari tuan nyonya?"
Lana Lan mengangguk pelan.
seketika pintu pagar dibuka, security itu mengantar Lana Lan menuju ke pintu masuk rumah itu.
Dengan langkah Berlahan, Lana lan masuk ke dalam rumah itu, mencoba mencari sosok Tristan di antara semuanya.
__ADS_1
Seketika air matanya tumpah, sosok yang begitu dia rindukan 3 hari ini tengah bersujud menghadap kiblat, menunaikan sholat Dzuhur nya.