
Saat Tristan kembali dari perusahaan Lana Lan dengan cepat menyambut nya seperti biasa, menyiapkan semua kebutuhan sang suami dari air mandi, pakaian ganti,makan malam bahkan vitamin untuk sang suami, setelah itu jelas Lana Lan langsung merebahkan diri nya ke atas kasur.
Dia merasa tubuhnya jelas begitu lelah, dan otaknya saat ini tidak bisa bekerja dengan sempurna. Jelas-jelas beberapa hari ini dia mendapat kan banyak kejutan soal beberpa kenyataan, dia tentu saja begitu kesal dan marah dengan keadaan.
Shain dan Helena jelas menjadi poin utama miliknya saat ini, dia dapat merasakan jika sebenarnya dirinya pun tengah di kerjai bahkan juga di manfaatkan, dia fikir jika Helena dan shain benar-benar pandai menjebak nya kemarin, menuntun nya dengan cara lembut agar dia masuk ke keluarga Xavier demi memenuhi ambisi mereka.
Lana Lan hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya jika ingat bagaimana shain memperlakukan dirinya selama ini.
Ini benar-benar gila, laki-laki itu menyuguhkan cinta yang bagaimana?
pekiknya kesal.
Tristan yang baru selesai mandi dan melesat keluar dari kamar mandi, langsung tersenyum melihat Lana Lan terlelap dengan posisi tubuh tertidur tengkurap, menggunakan kamisol berwarna hitam.
sebelumnya dia meminta pelayan membawa makan malam mereka ke kamar saat dia bertanya apakah Lana Lan sudah mendapatkan makan malam sebelumnya.
Tristan fikir saat dia mandi Lana Lan akan menyentuh makanan nya, tapi hingga detik ini sang istri sama sekali belum menyentuh makanan nya.
Dengan gerakan lembut dia naik ke atas kasur, lantas dengan cepat mencium lembut bahu Lana Lan, kemudian mencium hangat Tengkuk Lana Lan.
sejenak Lana Lan menggerakkan tubuhnya karena merasa geli dengan sentuhan Tristan.
Seketika Tristan mengembangkan senyuman nya.
"Kenapa tidak makan?"
tanya Tristan lembut, mencoba berbaring di samping Lana Lan, kemudian memeluk erat tubuh sang istri
"Aku sedang tidak berselera Tris"
ucap Lana Lan pelan.
seketika Tristan diam sejenak, kemudian kembali bertanya
"Kenapa? apakah sesuatu hal berat terjadi?"
Tanya nya kemudian dengan lembut memijat pundak Lana Lan.
"Hmmm"
Seketika Lana Lan Tersenyum karena tiba-tiba mendapat kan pijatan di pundaknya yang terasa melelahkan, biasa nya Lana Lan yang memberikan pijatan pada Tristan ketika laki-laki itu lelah pulang bekerja, kali ini Tristan yang tiba-tiba mengubah tugasnya.
__ADS_1
"Mau aku pijat seluruh tubuh hmm?"
seketika Lana Lan diam, kemudian menggeleng cepat.
"Kamu akan memanfaatkan situasi"
ucap Lana Lan cepat, sudah tahu kemana akhirnya pijatan itu akan berakhir.
"Aku benar-benar lelah"
ucap nya lagi lembut.
Tristan terkekeh
"Kau ini selalu berfikiran kotor"
seketika Lana Lan membuka bola matanya, membalik tubuhnya dengan cepat kearah Tristan.
"Siapa yang berfikiran kotor"
sungutnya kesal
Tristan kembali terkekeh, menyentuh lembut wajah Lana Lan.
"Tristan"
"Coba lihat dia semakin marah"
"Ishh"
Tristan kembali mengelus lembut wajah Lana Lan.
"Aku tidak pernah meminta nya dengan paksa"
Tristan bicara cepat .
"Selalu menunggu persetujuan"
Lana Lan diam
"Malam ini aku tidak berfikir menginginkan nya sayang"
__ADS_1
setelah berkata begitu Tristan langsung menautkan hidung mereka.
"Makan dulu, baru istirahat"
ucap Tristan lagi.
Lana Lan tampak seperti sedang memikirkan sesuatu, kemudian mencoba menghela nafasnya panjang.
"Tris"
tiba-tiba dia menampilkan ekspresi wajah yang begitu serius.
"Kenapa?"
Lana Lan segera duduk dari tidurnya, Tristan juga mengikuti tindakan Lana Lan,pada akhirnya mereka duduk saling berhadapan.
"Jika aku membohongi kamu soal beberapa hal, apa kamu akan membenci ku?"
tiba-tiba Lana Lan bertanya dengan tatapan serius ke arah Tristan, menatap dalam bola mata indah itu secara bergantian.
Tristan tampak diam, kemudian tersenyum kecil.
"jika berbohong dengan alasan yang cukup masuk akal, insyaAllah aku maafkan"
Lana Lan tampak diam, dia menggigit bibir bawahnya .
"Bagaimana jika kesalahan nya begitu fatal?"
Tristan tampak diam untuk waktu yang cukup lama.
"Maka akan aku pastikan dulu, Apakah kebohongan itu akan menjadi pelajaran buat kita? Atau bahkan menjadi sebuah berkah buat kita?”
"Mungkin aku belum bisa jadi suami bijaksana seperti yang kamu harapkan Lana, tapi jika kamu menciptakan sebuah kebohongan fatal, Kamu mungkin harus memberi kesempatan aku untuk berpikir dan merenungi kembali situasi yang kita hadapi. aku akan berusaha menjadi seorang suami yang tidak gegabah untuk memutuskan suatu hal, sebaliknya mungkin aku akan memikirkan matang-matang pilihan yang ada. Fokus pada manfaat dan kerugian yang didapatkan pada pilihan agar kita tidak terjebak pada emosi semata."
"Aku typekal laki-laki yang gampang kecewa, bisa jadi kita tidak bicara bersama untuk tenggang waktu yang cukup lama hingga aku menyakini diri semua akan baik-baik saja"
"Kamu mungkin harus menunggu waktu cukup lama untuk menunggu emosi ku mereda Lana Lan"
"Setelah dirasa emosi sudah mereda maka aku baru bisa mengambil keputusan, mungkin selanjutnya baru melakukan langkah pamungkas dengan berdiskusi bersama.bisa jadi Langkah itu dilakukan bukan untuk mencari benar dan salah, melainkan mencari jalan tengah yang bisa memuaskan semua pihak."
Lana Lan tampak diam, secara berlahan dia meremas tangannya.
__ADS_1
Tristan dengan cepat memeluk Lana Lan, merapatkan tubuh itu kedalam dadanya.
Ada apa sayang? apakah semua soal kamu bukan Lana Lan asli? aku jelas sudah memaafkan diri mu dari jauh-jauh hari, jika hanya sekedar soal itu, jangan terlalu di khawatirkan hmm karena aku mensyukuri jika ternyata kamu bukanlah Lana Lan asli.