
Seketika Tristan mendengar jeritan Lana Lan begitu dia keluar dari mobilnya, tanpa fikir panjang Tristan melesat masuk mendobrak pintu depan, mencari asal suara Lana Lan berasal.
Benar saja mereka berada di sebuah kamar di ujung villa, secepat kilat Tristan melesat kesana mencoba mendobrak pintu itu dalam 2x hentakan keras, tidak dia pedulikan lagi sakit di tangan dan bahunya saat ini,yang dia pedulikan hanyalah Lana Lan.
Brakkk
dobrakan pertama gagal total, Tristan mundur dengan cepat lantas mengambil ancang-ancang.
Brakkk
seketika pintu terbuka dengan kasar dan keras, daun pintu menghantam dinding dengan suara yang begitu luar biasa.
Rahang Tristan jelas mengeras, giginya mengerat sempurna, kemarahannya langsung berada di ubun-ubun,saat melihat pemandangan yang ada didepan mata nya, Shain dengan brengsek nya berada dalam posisi di atas Lana Lan, laki-laki itu telah mengoyakkan beberapa bagian pakaian istrinya, berada di atas tubuh Lana Lan yang jelas berteriak histeris sambil menangis.
Shain menatap kaget kearah Tristan, Lana Lan begitu melihat Tristan langsung menangis sejadi jadinya
"Tristan?"
shain jelas tercekat, dia fikir bukankah seharusnya Tristan bersama Laura saat ini? bagaimana bisa laki-laki itulah ada di sini saat ini fikir nya, lalu siapa yang tengah bersama Laura?.
"Bajingan..."
Tristan mengeram, secepat kilat menarik tubuh shain agar segera menjauh dari tahun buah Lana aln, dia tidak Sudi laki-laki itu menyentuh istrinya, tarikan kasar yang Tristan ciptakan membuat tubuh shain terjungkal ke lantai.
Lana Lan secepat kilat menarik tubuhnya, Tristan dengan gerakan cepat juga menutup tubuh Lana Lan dengan selimut yang ada disana.
Kemudian Tristan kembali menarik kasar tubuh shain lantas lantas langsung menghantam nya tanpa aba-aba.
Buggg ..
Hantaman pertama telak mengenai rahang kiri hingga ke ujung bibir shain, darah segar terlihat mengucur dari ujung bibir shain.
Buggg..
hantaman ke dua kembali mengenai rahang kiri shain, cukup telak hingga membuat shain hampir tersungkur.
"Berani sekali kau menyentuh istri ku baji..Ngan"
__ADS_1
teriak Tristan berang, dia jelas menggila, tidak peduli pada apapun saat ini dan begitu marah pada shain.
Sepersekian detik kemudian Pukulan-pukulan telak terus melesat ke rahang dan wajah shain tanpa ampun, meskipun shain mampu membalas beberapa kali tapi tetap pada akhirnya dia kalah telak.
Hingga akhirnya shain kali ini benar-benar tersungkur ke lantai.
"Bang.. sat, berani sekali kau menyentuh milik ku hah"
Shain menahan rasa sakit yang mendominasi, seketika dia tertawa terbahak-bahak, berusaha bangkit dari lantai dimana dia sempat tersungkur.
"Hahaha, Milik mu?"
shain jelas mengejek, berdiri sambil menatap Tristan dengan penuh kebencian, menghapus dara di bibirnya dengan jemarinya.
"Apa kau lupa keponakan? semua milik mu saat ini seharus nya adalah milik ku sejak awal, Xavier company, kasih sayang keluarga xavier, mansion mu, barang-barang yang kau pakai, bahkan dia..."
Shain bicara sambil menunjuk ke arah Lana Lan yang meringkuk di ujung kasur.
Tristan mengeram, tangan nya mengepal dengan keras.Lana Lan masih shok, diam dengan sejuta ketakutan.
"Dia...Seharusnya adalah milik ku, sejak awal semua nya sudah dibentuk dan diciptakan untuk ku, tapi hanya setitik kesalahan, semua milik ku langsung berpindah ke pada mu, apa kau tidak sadar itu Tristan?"
"Kau tahu Lana Lan?Sejak awal, perjodohan itu di buat untuk ku, kau dan aku"
Setelah berkata begitu, shain langsung menatap tristan.
"Saat kecil semua orang tahu, bahkan dunia juga sudah tahu, kami sudah di ikat bersama, dia sudah seharusnya bersama ku, kenapa kau berfikir aku merebut milik mu tristan?"
shain mengeratkan giginya, rahang nya ikut mengeras.
"Kau lah yang merebut semua milik ku satu persatu ba..jingan"
buggg
kali ini shain menghantam rahang tristan tanpa ampun, kemarahan nya jelas sama-sama memuncak.
jika saja orang tua nya tidak melakukan kesalahan,jika saja kakek tua Xavier berlaku lebih adil, dia jamin tidak ada perpecahan, tidak ada kemarahan, shain jelas tidak menjadi seperti saat ini, semua milik Tristan jelas adalah milik nya.
__ADS_1
kakek tua xavier jelas telah membuang nya dengan cara halus dan membuat Tristan memiliki apapun yang seharusnya menjadi miliknya.
"Cihhh..."
Tristan jelas berdecih, mengejek ke arah shain.
"Kau bisa mendapatkan yang seharusnya memang milik mu, tapi bukan dengan mengambil apa yang sudah kau berikan pada ku"
Tristan kembali memukul shain.
"Istri ku bukan Lana Lan mu, Lana Lan mu hilang dan meninggal karena ulah Madeline dan tangan kalian sendiri"
"Apa?"
shain jelas terkejut mendengar ucapan Tristan
"Kauuu... bagaimana kau?"
"Sejak awal 17 tahun yang lalu, aku memang dijodohkan dengan Eliana, kau lah yang memang sejak awal dijodohkan dengan Lana lan"
"Meskipun aku tidak bicara, jangan kau fikir aku tidak tahu apa yang kau rencanakan di belakang ku, shain"
Satu kali lagi pukulan telak melesat di rahang shain, lagi-lagi shain tersungkur hingga ke arah samping nakas.
sepersekian detik kemudian tiba-tiba shain berbalik dan
kletakkkk....
Shain berdiri sambil mengarahkan moncong pistol ke arah Tristan.
"Shain"
Lana Lan jelas berteriak histeris.
Tristan tampak sama sekali tidak terkejut, menatap tajam bola mata shain.
"No...shain"
__ADS_1
"Kau tahu Tristan? acapkali aku berfikir bagaimana jika aku menarik pelatuk pistol ku tepat ke tengah-tengah kening mu"
ucap shain penuh penekanan, jelas disekitar ruangan itu menjadi begitu mencekam, Lana Lan menggeleng pelan, air matanya terus tumpah ke kedua belah pipinya, Tristan tidak bergeming masih tampak menatap shain dengan tatapan yang begitu dingin.