
Mansion utama Tristan
Kamar
Sejak kembali setelah melakukan acara ijab qobul, Lana Lan jelas tidak pernah membuka suaranya, dia hanya diam tanpa mengeluarkan suara apapun. Menyusun semua barang milik nya di Walk in closed di kamar Tristan yang sudah di packing oleh para pelayan di mansion utama keluarga Xavier.
Setelah menikah jelas Lana Lan tinggal di mansion Tristan, mereka tidak mungkin hidup dalam jarak dan terpisah tempat.
Tristan secara berlahan mengendur kan dasinya, menghela nafasnya pelan kemudian mulai membuka jasnya.
Fikiran nya jelas melanglang buana kemana-mana, selain merasa bersalah kepada Lana Lan, nama Aliana menjadi hantaman besar di kepala nya, belum lagi sifat Lana lan yang begitu dingin pada Laura dan Madeline semakin membuat Tristan mengerutkan dahinya. Dia fikir selama ini jelas Lana Lan begitu patuh pada 2 sosok manusia berhati iblis itu.
Tristan melempar kan semua barang-barang nya ke sembarang tempat, melepaskan jam tangan, dompet nya ke arah manapun yang dia suka, melempar sepatu, jas, pakaian nya di sudut manapun sesuai kebiasaan nya, kemudian melesat masuk ke kamar mandi.
Seketika Tristan mematung, dia fikir sejak kapan bak mandinya diisi dengan air? bahkan semua busa sabunnya serta suhu airnya sudah di atur Dengan baik. Lantas setelah selesai mandi pun seluruh barang-barang yang berserakan sudah menghilang entah kemana, dan tampak pakaian baru sudah ada di atas kasurnya, tapi dia sama sekali tidak melihat sosok Lana Lan di dalam kamar.
Saat Tristan Turun ke bawah, menuju ke dapur Lana Lan tampak menyiapkan semua makan malam, sang pelayan rumah seperti nya sudah terlelap mengingat saat ini sudah hampir menunjukkan pukul 11 malam.
Lana Lan meletakkan beberapa menu makanan, teh hangat dan juga air putih disana, meletakkan nya ke meja utama dimana Tristan selalu duduk untuk menyantap makanannya.
Tristan jelas mengerutkan dahinya, dia fikir apa begini rasanya setelah punya istri? semua kebutuhan mu di persiapkan dengan baik? tapi dia fikir ibu nya jelas tidak pernah melakukan semua itu untuk ayahnya, baik ibu kandung nya apalagi ibu tirinya, mereka hanya memperlakukan ayah nya dengan baik disaat mereka menunggu jatah uang belanja juga untuk bersenang-senang saja.
Pada akhirnya mereka melewati makan malam dengan suasana yang begitu canggung dan suram, bahkan melewati malam pertama tanpa bicara apapun, Tristan lebih memilih tidur di sofa yang terletak di ujung tepi ranjang, dan Lana tidur di atas kasur mereka.
Mungkin ini terdengar aneh, keesokan paginya tetap berlaku hal yang sama, Lana Lan mempersiapkan semua air mandinya dengan detail, Merapi kan semua barang-barang nya, menyiapkan pakaian nya dari ujung kaki hingga ujung kepala bahkan menyiapkan sarapan pagi yang cukup bergizi untuk nya, menyiapkan tas kerja dan sepatu terbaik yang bisa dia gunakan bahkan disaat dia kesal karena kesulitan menggunakan dasinya...
"Oh sial"
Tristan mengumpat, biasanya pelayan keluarga Xavier yang membantu nya,kali ini apa dia harus menjadi orang bodoh untuk membuat simpul dasi? hanya karena kepindahan mendadak ke mansion nya tanpa persiapan tenaga ahli dalam banyak hal.
Tiba-tiba Lana Lan mengulurkan tangannya mencoba meminta dasinya, tidak bicara apapun kepada nya.
Tristan memberikan dasi itu, dan dengan gerakan lembut Lana Lan merapikan dasi nya, suara nafas Lana Lan tampak Terdengar teratur dan tangannya dengan cekatan menyimpulkan dasi dilehernya, setelah itu meletakkan Sepasang sepatu didepan kakinya, menunggu Tristan menggunakannya.
"Terlihat baik"
Suara Lana Lan terdengar begitu halus, hampir tidak terdengar ditelinga nya, Tristan ingin membalas tapi Lana Lan bergerak dengan cepat, mengambil tasnya, lantas berlalu meninggalkan Tristan lebih dulu. Dan konyolnya mereka duduk di mobil yang sama, menuju ke kantor tapi saling tidak bicara.
********
Bugggg
Oh breng..sekk...
umpat Tristan ketika sebuah tangan menghantam pipinya telak.
Terlihat jelas kemarahan shain yang luar biasa saat kembali dari uni emirat Arab, saat mengetahui kenyataan dan kejadian sebenar nya, saat tahu Tristan secara brutal memperkosa Lana Lan dan menikahi gadis yang dia cintai dengan sangat terburu-buru.
"Baji..ngannn"
jelas shain mengamuk luar biasa
Bugggg
ini ke dua kalinya shain memukul rahang Tristan dengan keras, jelas kehebohan terjadi di sepanjang kantor Xavier company, semua karyawan tidak berani beranjak atau mengintip ke ruangan sang direktur, hanya bisa menatap takut ke arah dua penerus Xavier company yang saling beradu tanpa sebab dibalik ruangan kaca transparan itu. Suara yang kedap suara menambah penasaran mata yang memandang, hanya tahu adegan tanpa pernah tahu percakapan.
"Shain hentikan"
Lana Lan berteriak histeris, mencoba memegang tangan shain yang mencoba memukul Tristan sekali lagi.
"No.."
__ADS_1
air mata Lana Lan kembali tumpah, menatap nanar ke arah shain.
Jelas saja shain panik, gadis yang dia cintai tahu-tahu sudah jadi milik Tristan, rencana awal nya berantakan, menarik Lana Lan untuk membatalkan pernikahan jelas gagal total, shain jelas berfikir, jika ini adalah Lana Lan yang asli tentu saja dia tidak keberatan, tapi gadis ini lara Tan, gadis di masa kecil nya, gadis yang dia jaga dengan baik selama bertahun-tahun setelah pencarian panjang nya.
"Ba..jingan.. kau tahu bagaimana aku menjaga nya hah? bahkan aku sekali pun tidak pernah menyentuhnya, breng..sek.."
shain benar-benar ingin kembali memukul tristan, tapi tangan lembut Lana Lan menghentikan semua gerakan nya.
"Maafkan aku, maafkan aku"
Lana Lan hanya bisa menangis terisak memandangi wajah shain
"Kau tidak pantas meminta maaf, dia yang seharusnya meminta maaf pada mu"
pekik shain kesal
shain mencoba menyentuh wajah Lana Lan, tapi gadis itu dengan cepat menghindar.
"maafkan aku shain, aku bukan lagi seseorang yang tanpa pasangan, ada suami ku yang hatinya harus aku jaga, kita bukan mahram"
begitu mendengar kalimat itu jelas hati Sahin hancur berkeping-keping, dan Tristan langsung menatap wajah Lana Lan yang mencoba membuang pandangannya dari shain, memejamkan matanya sambil terus mengeluarkan air matanya.
Kata ada suami ku yang hati nya harus aku jaga dan kita bukan mahram jelas menjadi pukulan telak untuk tristan.
Sepelik itukah dalam adat muslim? sesulit itukah menjadi istri?
Lana Lan jelas memperingati shain untuk jangan lagi mengharapkan dirinya, dan Seketika Tristan menelan salivanya, dia benar-benar telah mengurung gadis itu didalam genggamannya.
*******
Setelah kejadian dengan shain, Tristan tahu hubungan mereka pasti semakin memburuk, seperti biasa hubungan mereka tetap berjalan dingin, tidak bicara, bahkan layaknya bukan pasangan suami istri, tapi aneh nya Lana Lan tetap melakukan tugas yang sama, menyiapkan air mandinya, menyiapkan pakaian nya dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya, merapikan dasinya, menyiapkan sarapan pagi, makan siang hingga makan malam nya tanpa meminta bantuan sang asisten rumah tangga, berulang-ulang hingga 1 bulan berlalu.
"Aku tidak setuju, ini nama nya pemaksaan"
ucap lana Lan sambil mengerutkan dahinya menatap konsep cincin yang sudah tercetak jelas di atas kertas.
Xavier company akan mengambil hak penuh rumah batu berlian di desa La Bastide Clairence.
"Mereka tidak mau mencetak lagi batu berlian nya"
ucap Tristan cepat
"Mereka punya alasan, itu adalah mata pencaharian mereka"
jawab Lana kan cepat
"Semua orang sudah merayu orang-orang disana, kalau mereka tidak bisa melakukan nya itu artinya Xavier akan mengalami kerugian besar dalam produksi, satu-satunya cara mengambil alih dan menendang mereka keluar dari rumah produksi dan menggantikan mereka dengan pekerja baru"
"cara mereka salah dalam membujuk"
jelas Lana bersih keras tidak setuju
perdebatan itu terjadi sejak di ruang rapat hingga ke ruangan kerja Tristan.
"Waktu kita sudah terlalu kecil, membujuk seseorang hingga membuat Xavier company mengalami kerugian besar tidak termasuk dalam kamus perusahaan"
"Bukan perusahaan, itu kamus mu Tristan, kau tidak pernah belajar bersabar dan mengalah pada orang lain"
Lana Lan tampak kesal
"Kau akan mematikan kehidupan banyak orang"
__ADS_1
"Kau punya cara huh?"
Tristan tampak balik kesal dengan ucapan Lana Lan, dia fikir percakapan pertama mereka setelah menikah berbulan-bulan adalah perdebatan panjang soal hal yang seperti ini.
Yang benar saja!
"Kau akan menambah kerugian pada perusahaan jika terus mengulur waktu"
"Apa semua isi kepala mu hanya Rugi dan untung?"
"Lana lann"
"kau benar-benar tidak punya hati Tristan"
seketika bola matanya memerah
"Ada berapa ratus orang yang butuh kehidupan disana ketika kau membuang Mereka?"
"Lana Lan.."
ok apa Tristan harus bersabar menghadapi perempuan yang sudah menjadi istri nya ini?
"Beri aku waktu 2 hari"
Lana Lan berusaha menarik nafasnya dengan kesal
"Jika aku gagal, kau bisa mendepak ku dari perusahaan dan juga dari rumah"
Lana Lan bicara sambil membalikkan tubuhnya berniat meninggalkan Tristan dengan air mata yang mulai menggenang
oh ayolah, dia tidak pernah berfikir seperti itu
"Lana, bukan begitu maksud ku"
Tristan mencoba menarik tangan Lana Lan
Terlihat air matanya sudah memenuhi bola mata Lana Lan, seketika Tristan menelan salivanya.
oh sial, apa dia harus melihat Lana Lan Menangis sekali lagi?
"Ok apa yang akan kau lakukan"
dia masih mencoba menahan tangan Lana Lan
"Aku akan ke desa La Bastide Clairence menemui tuan oxo"
"Oh ayolah, itu hanya akan membuang-buang waktu"
"itu karena kalian tidak pernah memahami hati seseorang, kau tahu? hati itu di bujuk dengan hati Tristan, bukan dengan paksaan"
Seketika Tristan terdiam, bola mata nya menatap dalam bola mata Lana Lan.
Yah dia fikir Lana Lan benar, dia tidak pernah bisa membujuk seseorang dengan hati, sama seperti betapa kelu nya lidah untuk berkata maaf soal kejadian dulu terhadap Lana Lan.
"Aku akan mengantar mu"
ucap Tristan pelan sambil meredupkan pandangan nya.
"Ya?"
Lana Lan tampak mengerutkan dahinya
__ADS_1