
Di keesokan harinya
Hari ini destinasi wisata yang mereka kunjungi adakah Hutan Bambu Arashiyama.
Lana lan dan Ayana tampak telah bersiap sejak pagi setelah menyelesaikan kewajiban ibadah mereka, kedua perempuan itu telah menunggu diluar kamar penginapan dengan jutaan senyuman yang terus mengembang di wajah mereka.
Pada akhirnya Gao melesat keluar lebih dulu membawa Ayana ke bawah, sedangkan Lana lan masih menunggu Tristan keluar dari kamar mereka.
"sudah siap semua sayang?"
Tristan bertanya pada Lana Lan begitu keluar dari kamar penginapan mereka, laki-laki itu menyentuh lembut kepala sang istri sambil menatap bola mata itu dengan penuh cinta.
"He em"
Lana Lan menganggukan kepalanya dengan cepat dan penuh semangat.
"Tunggu sebentar"
ucap Tristan sambil menarik tangan Lana Lan agar duduk di atas kursi yang ada di pojokan sana.
Sang istri menurut duduk di kursi itu sambil menaikkan sebelah alisnya.
tiba-tiba secara perlahan Tristan memakaikan sepatu kets untuk Lana Lan.
"menggunakan sepatu heels akan membuat kakimu sakit, barang seperti itu kurang cocok digunakan untuk berjalan-jalan"
Ucap Tristan sambil mengikatkan tali sepatu Lana Lan.
Lana Lan tampak tersenyum melihat Tristan memperlakukan dirinya, jika ingat bagaimana pertemuan mereka juga pernikahan mereka di masa lalu rasanya tidak mungkin mereka bisa sampai ke pada hari ini.
mungkin inilah yang dikatakan sebagai garisan takdir dari Tuhan siapa yang pernah tahu, awalnya dia pikir pernikahan ini mungkin tidak akan berhasil, apalagi karakter mereka jelas bertolak belakang.
Tristan yang tidak punya hati keras kepala selalu melakukan apapun sesuai dengan keinginan, sedangkan Lana Lan orang yang begitu tidak suka diatur,yang bergerak sesuka hati nya, selalu menggunakan hati dalam banyak hal dan tidak bisa diperlakukan dengan kasar.
Di awal pernikahan mereka Lana lan sempat berpikir, kemungkinan besar pernikahan mereka tidak akan berhasil dan tidak akan berjalan dengan baik, bisa jadi pada akhir ini mereka akan berpisah dan melepaskan antara satu dengan yang lainnya.
tapi siapa sangka apa yang Lana Lan pikirkan benar-benar jauh di luar ekskavasinya, Tristen yang dia pikir tidak punya hati dan cenderung kasar bertindak sesuka hati nya itu ternyata memiliki sosok yang begitu lembut dan hangat, bahkan dia bisa menggunakan hati saat bicara dengan Lana Lan.
Perjalanan pertama mereka ke pedesaan Najac untuk mengurus cincin pameran perusahaan, membuat Lana Lan tahu karakter sebenarnya Tristan seperti apa. bahkan pengorbanan besar Tristen untuk memecahkan kasus keluarganya juga penculikannya di masa lalu menggiringnya pada pernyataan jika Kristen adalah Kris nya di masa lalu dengan jutaan pengorbanan yang Tristan persembahkan kepada dirinya hingga akhir.
Bahkan Tristan membantu dirinya dalam banyak hal, laki-laki itu juga begitu mati-matian menyelamatkan dirinya di peristiwa bersama mawar merah hingga membuat Lana lan yakin jika Tristal bersungguh-sungguh mencintainya.
secara perlahan Lana Lan menyentuh lembut rambut Tristan.
"Ada apa?"
__ADS_1
Tristan bertanya sambil menatap dalam bola mata Lana lan, kemudian tangan kanannya menyentuh lembut pipi sang istri.
"Terima kasih banyak untuk banyak hal yang tidak bisa kuucapkan satu persatu"
ucap Lana Lan sambil menyentuh lembut wajah Tristan.
Laki-laki Tampak tersenyum, meraih tangan perempuan itu sambil mengelus nya lembut diwajah Tristan sendiri.
"Aku yang seharusnya berterima kasih untuk banyak hal yang tidak bisa aku ucapkan satu persatu"
hijab kristal sambil adalah bulu mata istrinya itu.
*********
Hutan Bambu Arashiyama
Kyoto
Jepang
08.40 Am
Mereka berjalan saling bergandengan tangan, menatap hutan bambu yang ada dihadapan mereka itu.
"ini Hutan Bambu Arashiyama"
Ucap Tristan cepat.
"aku pikir kita pernah ke sini semasa kuliah"
berbicara sambil menoleh kearah Tristan.
"sing aku iya"
"benarkah bukankah itu menyenangkan? aku baru tahu kalian pernah ke sini bersama"
ucap Ayana cepat.
"Iya, tapi hubungan kami sangat buruk saat itu"
"Tiba-tiba Gao ingat betapa buruknya hubungannya dengan tristan di masa lalu"
__ADS_1
Lana Lan menaikkan sebelah alisnya.
"kenapa bisa Begitu?"
"Kami saling memusuhi sejak usia muda, tepat nya sejak kejadian di Thailand di masa anak-anak kita dulu"
cerita Gao sambil mengulang senyumannya.
Tristan tampak terkekeh jika ingat bagaimana sifat mereka di masa lalu.
"Kami benar-benar tidak pernah saling akur sejak kecil, bahkan di sekolah pun kami sering berdebat dan saling menyalahkan"
jelas saja Ayana dan lana lan saling menoleh.
"itu sangat buruk sekali"
Ucapkan Lana lan.
ketika mereka tertawa bersama.
"iya itu sangat buruk sekali dan aku rasa itu sangat tidak pantas untuk ditiru, kami benar-benar seperti Tom and Jerry tidak bisa di pertemukan dan selalu saling berdebat tiap kali bertemu"
"Oh god see ekstrim itu hubungan kita dulu, aku cukup malu mengingat nya"
Gao bicara sambil terkekeh, dan sepersekian detik kemudian seketika mereka tertawa bersama-sama.
********
Catatan \=
Jepang tak melulu soal Tokyo, sushi, sake, kuil, atau bunga sakura saja. Negeri Matahari Terbit itu juga punya segudang destinasi yang tak kalah menarik, misalnya saja Arashiyama Bamboo Grove.
Salah satu objek wisata yang paling banyak difoto ini berada di distrik paling barat Kyoto. Turis dari berbagai negara berbondong-bondong datang untuk menikmati keindahannya secara langsung.
Siapa sangka, rupanya tempat ini sudah menjadi lokasi berlibur selama lebih dari ratusan tahun lalu. Dilansir CNN, Arashiyama Bamboo Grove telah menarik wisatawan sejak abad ke-8 untuk berlibur dan naik perahu di Sungai Hozu.
Pohon-pohon bambu menjulang tinggi mendiami lahan seluas 16 kilometer persegi itu. Sejuk, rindang, dan teduh sungguh terasa saat menyusuri Arashiyama Bamboo Grove.
Ketika angin berhembus, pepohonan bambu berwarna hijau ini seolah menari. Saling bergesekan antara satu batang dengan batang lain.
Dengan sajian panorama yang begitu indah, tak mengherankan bila pemerintah Jepang menetapkan Arashiyama Bamboo Grove sebagai Place of Scenic Beauty. Kementerian Lingkungan Hidup juga memasukkan hutan bambu ini ke dalam 100 Soundscapes of Japan.
Selain menikmati hutan bambu, Arashiyama Bamboo Grove juga punya daya tarik lain. Salah satu ikonnya adalah Jembatan Togetsukyo yang mengalir di atas Sungai Hozu. Jembatan ini dibangun selama Periode Heian Jepang (794-1185), ketika Kyoto masih menjadi ibu kota Jepang.
Beberapa tahun terakhir, kepopuleran Arashiyama Bamboo Grove kian meningkat. Tak ayal, makin banyak turis dari berbagai kota dan negara yang memadatinya.
__ADS_1
Untuk menghindari padatnya pengunjung, cobalah untuk datang saat pagi sekali atau malam hari. Saat musim gugur dan musim semi, pengunjung Arashiyama Bamboo Grove juga melonjak tajam.