Pengantin Kembar Pengganti CEO Iblis

Pengantin Kembar Pengganti CEO Iblis
seorang istri tidak pernah menyimpan dendam terhadap suaminya


__ADS_3

Sejenak Tristan menatap wajah Lana Lan seketika mereka keluar dari ruangan tuan oxo, Tristan terus menatap wajah Lana Lan yang berjalan lurus di sampingnya, seketika bola mata Tristan menangkap tangan Lana Lan yang berjalan sempurna disampingnya.


Dengan ragu-ragu Tristan meraih telapak tangan itu, menggenggam nya erat secara berlahan.


Sejenak Lana Lan berhenti, menoleh ke arah Tristan.


"Terima kasih banyak dan Maafkan aku "


Terlihat ungkapan tulus yang keluar dari bibirnya, Tristan mencoba menatap manik mata Lana Lan seakan menyakinkan diri Lana Lan jika ucapannya memang sungguh-sungguh.


Lana Lan melebarkan senyumannya, membiarkan Tristan menggenggam erat tangan nya, dia kembali berbalik lantas meneruskan langkahnya dengan sejuta perasaan.


*******


Lana Lan memandangi jalanan luas didepan mereka, hari sudah mulai menggelap namun mobil mereka tiba-tiba saja mogok tanpa sebab, pada akhirnya mereka memilih untuk berjalan kaki.


"Akhhh"


Lana Lan meringis ketika dia mesti menelan pil pahit karena tiba-tiba Hells yang dia gunakan membelot sendiri dari kakinya tanpa sebab, pada akhirnya membuat kakinya menjadi sakit tidak karuanan.


"Masih jauhkah?"


Dia bertanya kepada Tristan, duduk di sebuah batu besar dipinggir jalan.


"Mungkin tidak sampai 500 meteran lagi"


Jawab Tristan pelan, mencoba menyentuh kaki Lana Lan, memperhatikan keadaan kakinya.


"Masih cukup jauh"


Lana Lan mendesah pelan


Kaki Lana Lan tampak membiru.


"Kemarilah"


tiba-tiba Tristan memberikan punggungnya.


"Ya?"


"Kamu sudah tidak bisa memaksakan kaki mu untuk berjalan, dia cukup membiru dan butuh perawatan medis setelah ini"


Lana Lan tampak ragu menatap punggung kokoh itu, dia mencoba menatap wajah Tristan untuk waktu yang cukup lama.


"Baiklah, bukankah kewajiban seorang suami membantu istrinya yang tengah didalam kesakitan?"


Tristan bicara cepat, masih menunggu Lana Lan untuk naik ke punggung nya.


"Aku cukup berat dan..."


"Kamu terlihat ringan untuk ku"


jawab Tristan lagi sambil menoleh ke arah Lana Lan, mengembangkan senyumnya yang belum pernah Lana Lan lihat sebelumnya.


Seketika jantung Lana Lan bergerak dengan sempurna, dia menatap wajah itu yang terlihat sangat manis ketika tersenyum.


Secara berlahan dia meraih punggung Tristan, mengaitkan 2 lengannya ke leher Tristan.


Tristan kembali tersenyum, langsung berdiri dengan sempurna.


"Tidak begitu berat"


ucap Tristan pelan sambil berlahan melangkah ke arah depan.

__ADS_1


"Jika lelah, katakan lah pada ku"


ucap Lana Lan pelan


Tristan mengangguk cepat kemudian berjalan Berlahan ke arah depan.


"Kamu tidak ingin mengajarkan ku agama mu?"


Tanya Tristan tiba-tiba


"Ya?"


"Apa yang kamu lakukan setiap pagi, siang dan malam?"


Tanya Tristan lagi


"Maksud ku dengan pakaian.. entahlah berwarna putih yang menutupi seluruh tubuh mu, dari ujung kepala hingga kaki, kamu berdiri, berjongkok lalu duduk, kemudian entah aku tidak begitu paham"


"Kamu sering melakukan nya setiap hari"


Lana lan tersenyum, menatap wajah tristan yang berada tepat disampingnya.


"Itu nama nya sholat, dalam tiap harinya ada 5 waktu, salah satu bentuk wajib dalam rukun Islam, termasuk dalam rukun Islam ke 2"


Tristan menganggukkan kepala nya.


"Yang pertama"


"Mengucapkan 2 kalimat syahadat, kamu sudah melakukan nya sebelum kita menikah"


"Ya?"


"Saat kamu menjadi mualaf, kamu mengucapkan nya"


Artinya:


"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah".


"Itu adalah rukun Islam yang pertama"


Tristan hanya diam, terus berjalan melangkah kedepan.


"Mau belajar bersama ku?"


Lana Lan bertanya pelan


"Hmm"


Tristan mengangguk


"Kita bisa memulai nya setelah kembali ke penginapan"


Tristan kembali mengangguk


"Mungkin akan terasa sulit di awal, tapi itu akan menjadi candu setelah terbiasa, saat kamu meninggalkan nya kamu akan merasa ada sesuatu yang kurang hari ini"


"Islam tidak serumit kelihatan nya"


"Sejak kapan kamu mempelajari Islam?"


Lana Lan tampak mengingat-ingat


"Sejak usia 8-9 tahun"

__ADS_1


"Aku tidak pernah tahu itu"


Lana Lan kembali tersenyum, alih-alih menjawab dia malah berkata


"Ada banyak hal yang kamu belum ketahui soap diri ku, namun seiring berjalannya waktu kamu berlahan akan tahu"


"Kenapa kamu berkata seperti itu pada tuan oxo?"


tiba-tiba Tristan menoleh ke arah Lana Lan, bola mata mereka tanpa sengaja bertemu


"Itu realita nya, pernikahan kita tidak dilandasi cinta, tapi bukan berarti kita berfikir untuk mengakhiri nya kan?"


seketika Tristan menelan salivanya.


Dia kemarin sempat berfikir begitu, entahlah rasa malu menyeruak didalam relung hatinya.


"Tidak, aku tidak memikirkan nya"


ucap nya penuh keyakinan


"Karena di agama ku, perceraian adalah perkara yang paling dibenci Allah"


"Rasulullah saw. bersabda: "Sesuatu yang halal tapi dibenci Allah adalah perceraian" [H.R. Abu Daud dan Hakim] "


Tristan kembali terdiam, terus melangkah menatapi jalanan.


"Mungkin aku bukan laki-laki yang seperti kamu harapkan"


Tristan kembali bicara


"Bukan laki-laki yang sempurna, bukan laki-laki baik seperti yang kamu bayangkan, aku kemarin begitu menyukai kesenangan apalagi perihal perempuan"


sejenak Tristan menelan salivanya, mengingat bagaimana diri nya selama ini.


"Mungkin sempat berfikir yang tidak-tidak soal pernikahan kita"


"Menikahi mu dengan paksa"


"Tapi aku akan berusaha menjadi suami yang baik, tapi bisa jadi harus sabar menunggu ku untuk memperbaiki diri"


Lana Lan tersenyum


"Mungkin butuh waktu lama untuk kita saling menyesuaikan diri, aku yang hidup didalam garis keras, selalu melakukan segala sesuatu sesuai kemauannya ku,tidak pernah di bantah apalagi mendengar kan penolakan, mungkin kamu harus bersabar untuk banyak hal nantinya"


"Tapi aku berjanji akan menjadi suami yang seperti kamu harapkan"


Lana Lan kembali melebarkan senyuman nya


"Dan... maafkan aku soal malam itu"


ucap Tristan dengan suara bergetar


"Aku berada di luar kendali ku"


"Aku sudah memaafkan mu sejak pertama kali kamu menyebut nama ku di dalam akad kita Tristan, seorang istri tidak pernah menyimpan dendam terhadap suaminya, begitu pula sebaliknya"


Tristan tampak melebarkan senyumannya, entahlah langkahnya teraza Begitu ringan ketika dia terus berjalan ke arah depan, langit mulai menggelap dengan sempurna, menampilkan bayangan bulan yang mulai merekah.


"Kita akan memulai pelajaran sholat nya dari Maghrib ini"


ucap Lana Lan pelan


"Apa kamu siap"

__ADS_1


Tristan tampak mengangguk mantap.


__ADS_2