
Tristan tampak duduk sambil menatap dalam wajah Lana Lan yang masih tertidur pulas, beberapa kali dia menyesap rokok di tangannya kemudian membuang asapnya ke udara, berulang kali hingga tersisa di ujung tangan nya, lantas Tristan mematikan sisa rokoknya ke asbak kristal yang terletak di samping kanan dimana dia duduk.
Lantas Tristan memangku dagunya dengan punggung tangan kiri kanannya yang saling bertaut, beberapa waktu dia menahan keningnya kemudian balik lagi meletakkan punggung tangan nya ke dagunya.
Fikirannya berkecamuk menjadi satu, dan dalam seumur hidup baru kali ini dia merasa gelisah, was-was dan awas, mencoba siap siaga terhadap kemungkinan yang akan terjadi, mencoba menyiapkan diri, menyiapkan mental untuk menghadapi seorang gadis yang telah dia lukai.
Kejadian semalam benar-benar membuat dia menjadi kehilangan akal warasnya, saat tahu jika gadis itu benar-benar belum pernah tersentuh jelas dia terkejut, kehilangan kata-kata dan seakan sejuta beban menghantam Palung hatinya yang paling terdalam.
Rasa bersalah jelas bergelayut didalam dada nya, rasa benci terhadap diri sendiri jelas mendominasi, dia memang bejat, memang brengsek, tapi baru kali ini merawani seorang gadis dengan cara brutal, bahkan tanpa perasaan.
Dia menarik nafasnya berat lantas membuang nya berkali-kali, masih terus menatap dalam wajah Lana Lan yang belum beringsut bangun. efek obat tidur yang di minum Lana Lan cukup membuat nya terlelap hingga pagi.
Seketika terlihat gerakan lembut di sana, jemari indah Lana Lan mulai bergerak pelan, suara lembut keluar dari bibirnya.
"Ng..."
Tristan berlahan mendekati lana Lan, mencoba menarik nafasnya pelan, dia mencoba mempersiapkan diri nya sebaik mungkin.
Secara berlahan Lana Lan menggerakkan tubuhnya, masih belum sepenuhnya sadar, dia merasa tubuhnya luluh lantak tanpa sebab,
sesuatu dibawah sana jelas terasa luar biasa sakit dan perih. Bahu nya terasa dingin saat sapuan AC terasa menyentuh kulit nya dengan lembut, dia merasa seolah-olah tidak menggunakan apapun saat ini. Berlahan dia membuka bola matanya, entahlah dia merasa seseorang tangah memperhatikan dirinya, Lana Lan kembali memejamkan matanya sejenak sambil mencoba meringkuk kembali ke dalam bantal guling nya.
Efek obat tidur terasa masih memberatkan matanya, seperti kata dokter obat akan dieliminasi dari tubuh dalam waktu 12 sampai dengan 43 jam, dan dia tidak tahu berapa lama dia tertidur sejak semalam.
Tristan tidak bergeming, duduk disampingnya sambil mencoba menyentuh pelan wajah Lana Lan. Cukup lama mungkin berlalu sekitar 30 menitan hingga Lana benar-benar tersadar dari tidur lelapnya.
__ADS_1
*******
Dan benar saja, saat menyadari keadaan Lana lan menangis dan berteriak histeris, dia benar-benar marah, benci, jijik serta muak menatap Tristan.
Lana Lan terus menangis dan berteriak histeris, Memukul dada laki-laki itu tanpa henti.
"Kenapa, kenapa kau lakukan itu..."
"Aku benci pada mu, aku benci pada mu"
"Baji..ngan, breng..sek"
"Aku benar-benar jijik melihat mu"
Lana Lan terus memukul dada Tristan hingga puluhan kali tanpa henti, dia terus menangis histeris.
"Lana"
suaranya seakan menggantung di udara.
Jelas seluruh orang naik ke atas dan masuk ke kamar Lana Lan, kakek tua Xavier menatap tajam wajah Tristan, Helena jelas kehilangan kata-kata, dia tahu apa yang telah terjadi, dia merasa dibodohi karena Tristan meminta dia pergi untuk kembali ke Marseille untuk mengambil beberapa berkas proyek di villa utama milik Tristan.
"Kau sudah gila"
kakek tua Xavier bicara dengan penuh kemarahan
__ADS_1
"Kalian belum menikah, kenapa kau melakukan ini?"
Ibu tiri Tristan jelas terkaget-kaget.
"Dia... seorang perawan?"
pekik nya tertahan saat melihat noda merah di atas kasur dominan berwarna putih itu.
"Oh sial"
bibi Emma memijat kepalanya pelan, dia fikir ini salah, apa Laura dan Madeline membohongi mereka? kata nya Lana Lan bukan seorang perawan? lalu ada yang bisa menjelaskan pada nya kenapa ada noda darah disana?.
Helena jelas langsung memeluk tubuh Lana Lan yang terus memukuli Tristan sejak tadi.
"Lana, Lana Lan..."
jelas Helena merasa begitu bersalah, rencana awal mereka bukan seperti ini, tapi semua nya menjadi sekacau ini. Lalu apa yang harus dia katakan pada shain ketika dia pulang nanti?.
Tristan benar-benar telah menghancurkan masa depan Lara Tan fikir Helena.
"Kau benar-benar sudah kehilangan akal waras mu Tristan"
Rencana awal Tristan jelas bukan seperti ini, meniduri gadis yang susah menjadi bekas orang lain, menekan nya, meminta Lana Lan menandatangani kontrak nikah tidak lebih dari 6 bulan, lantas mengurus perceraian mereka secepatnya dengan sebuah trik lain tentu nya.
Tapi sekarang Tristan malah kehilangan kata-kata, terus menatap nanar wajah Lana Lan yang menagis terisak didalam pelukan Helena.
__ADS_1
Keadaan nya terlihat begitu kacau, bahkan Lana Lan nyaris kehilangan suara nya karena terus menangis tanpa henti sejak tadi.