
"Kamu tahu Kris?"
Ucap Lana Lan lagi
"Keluarga merupakan wadah pendidikan yang sangat besar pola asuhnya dalam perkembangan kemandirian anak, oleh karena itu pendidikan anak tidak dapat dipisahkan dari keluarganya karena keluarga merupakan tempat pertama kali anak belajar menyatakan diri sebagai mahkluk sosial dalam berinteraksi dengan kelompoknya. Orang tua yaitu ayah dan ibu merupakan orang yang bertanggung jawab pada seluruh keluarga. Orang tua juga menentukan kemana keluarga akan dibawa dan apa yang harus diberikan sebelum anak-anak dapat bertanggung jawab pada dirinya sendiri, ia masih tergantung dan sangat memerlukan bekal pada orang tuanya sehingga orang tua harus mampu memberi bekal kepada anaknya tersebut"
"Orangtua (ayah dan Ibu) sebagai pemimpin sekaligus pengendali sebuah keluarga, dipastikan memiliki harapan-harapan atau keinginan-keinginan yang hendak dicapai di masa depan. Harapan dan keinginan tersebut ibarat sebuah cita-cita, sehingga orangtua akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapainya. Hal tersebut berlaku pula terhadap anak-anaknya. Para orangtua dipastikan memiliki harapan-harapan terhadap anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkannya. Misalnya, mereka menginginkan sang anak menjadi orang yang patuh, taat dan berbakti terhadap orangtua, suka menolong, cerdas, terampil, mudah bergaul, berperilaku baik, tegas, disiplin dan sebagainya."
"Ada berbagai macam Pola asuh orang tua dapat dijelaskan"
''Pertama, Pola asuh demokratis orangtua terhadap anaknya ditandai dengan : ikut terlibatnya orangtua dalam membagi waktu belajar dan bermain anak tanpa harus memaksa pada anak, tidak terlalu membiarkan anak memutar TV pada saat waktu belajar, menegur dan menanyakan sebab-sebabnya bila anak tidak belajar, tidak memaksa anak untuk belajar sesuai kehendaknya, selalu memperhatikan kebutuhan sekolah anak, menemani anak saat belajar walaupun tidak terlalu sering, memberi uang saku pada anak secukupnya saja, selalu memperhatikan sarana prasarana belajar anak, sering meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan anak, melatih anak untuk bertanggungjawab dan saat anak melakukan kesalahan, hukuman yang diberikan bersifat mendidik."
"Kedua, pola asuh otoriter yang dilakukan oleh orangtua ditandai dengan ketatnya orangtua dalam membagi waktu belajar dan bermain anak, tidak membolehkan anak menonton televisi pada saat anak menginginkan, memarahi anak dan mencaci maki bila anak tidak belajar, memaksa anak untuk melakukan sesuatu sesuai kehendaknya, tidak terlalu memperhatikan kebutuhan sekolah anak, selalu mengawasi anak saat belajar, jarang memberi uang saku pada anak saat bersekolah, kalaupun diberi sering disertai nasehat-nasehat bernada mengancam, jarang meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan anak, tidak melatih anak diberi tanggungjawab dan bila anak melakukan kesalahan dimarahi atau dipukuli tanpa diberi kesempatan untuk membela diri."
"Ketiga, pola asuh permisif yang dilakukan oleh orangtua ditandai dengan membiasakan anak membagi waktu belajar dan bermain sendirian, selalu membiarkan anak memutar TV pada saat/waktu belajar, tidak menanyakan atau menegur bila anak tidak belajar, tidak memperhatikan kebutuhan sekolah anak, tidak pernah menemani saat anak belajar, tidak menasehati anak saat memberikan uang saku, tidak pernah meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan anak, tidak melatih anak untuk bertanggungjawab, dan membiarkan anak sekalipun ia melakukan kesalahan."
__ADS_1
"Hingga akhirnya bisa kita lihat Gambaran Perkembangan Prilaku Anak"
"Manusia adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan lepas dari lingkungan kehidupan sosial yang penuh dengan nilai, peraturan dan norma. Nilai, peraturan dan norma tersebut sangat diperlukan manusia untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang jika dilakukan berdosa mana yang tidak tidak berdosa. Pemahaman yang baik terhadap nilai dan norma akan membawa pola asuh yang baik pula terhadap prilakuitas anak sehingga mereka dapat hidup harmonis di lingkungannya"
"Perkembangan prilaku anak dpat dijelaskan sebagai berikut:sebagian besar anak pada umumnya menunjukkan perkembangan prilaku yang baik. Hal ini ditandai dengan kemampuannya dalam membedakan perilaku baik dan buruk, melaksanakan ibadah sesuai aturan, berdoa sebelum dan sesudah melaksanakan kegiatan, mampu bergaul dengan teman tanpa harus bertengkar menghormati orang yang lebih tua dan mampu mentaati peraturan yang berlaku disekolah."
"Namun demikian, terdapat beberapa anak yang cenderung berbicara kurang ramah, tidak peduli terhadap sekitar, bersikap agresif, sering mengganggu orang lain, sulit diajak kerjasama serta tidak mentaati peraturan. Selain itu ada beberapa anak yang cenderung kurang bisa bergaul dengan teman, bersikap kaku, suka menyendiri, memiliki rasa takut yang berlebihan dan kurang percaya diri."
"Manusia adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan lepas dari lingkungan kehidupan sosial yang penuh dengan nilai, peraturan dan norma. Nilai, peraturan dan norma tersebut sangat diperlukan manusia untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang jika dilakukan berdosa mana yang tidak tidak berdosa. Pemahaman yang baik terhadap nilai dan norma akan membawa pola asuh yang baik pula terhadap prilakuitas anak sehingga mereka dapat hidup harmonis di lingkungannya."
"Dalam lingkungan keluarga dimana orangtua melakukan bimbingan, pengasuhan dan pemberian kasih sayang, secara langsung maupun tidak langsung akan membawa dampak yang cukup besar terhadap perkembangan prilaku anak. Dengan demikian, kondisi lingkungan keluarga dengan model pola asuh tertentu jelas akan mempola asuhi cara bertutur kata, cara sikap, dan pola tingkah laku anak termasuk perkembangan jiwanya."
"Model pola asuh orangtua memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan prilaku anak. Karena orangtua dengan model pola asuh otoriter akan cenderung menghasilkan anak dengan ciri kurang matang, kurang kreatif dan inisiatif, tidak tegas dalam menentukan baik buruk, benar salah, suka menyendiri, kurang supel dalam pergaulan, ragu-ragu dalam bertindak atau mengambil keputusan karena takut dimarahi."
"Sementara anak yang diasuh dengan pola permisif menunjukkan gejala cenderung terlalu bebas dan sering tidak mengindahkan aturan, kurang rajin beribadah, cenderung tidak sopan, bersifat agresif, sering mengganggu orang lain, sulit diajak bekerjasama, sulit menyesuaikan diri dan emosi kurang stabil. Sedangkan anak yang diasuh dengan pola demokratis menunjukkan kematangan jiwa yang baik, emosi stabil, memiliki rasa tanggungjawab yang besar, mudah bekerjasama dengan orang lain, mudah menerima saran dari orang lain, mudah diatur dan taat pada peraturan atas kesadaran sendiri."
__ADS_1
"Karena itu kita sebagai orang tua hendaknya melakukan bimbingan, pengasuhan dan pemberian kasih sayang, secara langsung maupun tidak langsung terhadap anak-anak kita. Karena apa yang kita berikan atau ajarkan kepada anak kita itu akan membentuk kepribadian anak kita kelak setelah dewasa."
"Aku ingin jika anak kita lahir, kita mengguna kan pola asuh yang benar untu dia, tahu mana yang baik dan tidak baik untuk nya di masa akan datang nya"
Ucap Lana lan perlahan.
Tristan mengangguk kan kepalanya, laki-laki itu menggenggam erat telapak tangan Lana Lan untuk waktu yang cukup lama.
*******
Catatan \=
Ilmu dari berbagai sumber
Jika ada ilmu yang diberikan kurang memuaskan maafkan lah 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1