
Tristan tampak mengeratkan rahangnya sesaat setelah mendengar kan percakapan mereka melalui laktop nya dari alat penyadap suara yang digunakan Lana Lan.
"Karena rencana A untuk menceraikan nya sedikit sulit, lakukan rencana B untuk mencelakai nya"
ucap Helena cepat.
"Cara nya?"
"Menjebak nya masuk ke dalam perangkat Laura, kemudian kau bisa menceraikan nya"
"Ya?"
Lana Lan berusaha menekan ekspresi nya sedatar mungkin, agar 2 sosok manusia itu tidak curiga.
"Dengan obat ini"
tampak seringai jahat muncul di balik wajah Helena dan shain, mereka menatap Lana Lan penuh keyakinan.
"Kita benar-benar akan membuat skandal besar dalam 1 kesempatan secara bersamaan, dia akan jatuh dalam sekali hentakan"
Dua tangannya bertumpu di keningnya, tampak berusaha memikirkan sesuatu.
"semua rekaman nya akan menjadi bukti untuk memberatkan dia saat di pengadilan"
Seorang laki-laki bicara cepat ke arah Tristan, dia duduk di atas sofa yang menghadap langsung ke arah arah tristan
Dia pengacara pribadi tristan Edward Pearl
Edward tampak menyesap wine nya dengan nikmat
Seketika Tristan menaikkan wajahnya, menatap Edward sambil mengerutkan alisnya.
"Kau benar-benar meniduri Helena, Edward?"
Edward menaikkan gelas wine nya, dia terkekeh.
"Kau tahu? aku begitu menyukai makhluk yang bernama perempuan, merayu, pura-pura berbelok lantas meniduri nya"
"Ayah mu benar-benar akan menggila"
Edwar menyeringai.
"Dia tidak akan menggila ketika tahu, putri siapa yang aku tiduri"
Dia meraih rokok yang ada di atas meja, meraih sebuah pamatik kemudian meletakkan rokok itu ke mulut nya lantas mulai menyulut nya berlahan, dia menghisapnya penuh kenikmatan kemudian membuang asapnya ke atas.
"Aku tidak menyangka kau menemukan mutiara hides secepat ini, ayah ku sudah 16 tahun mencari nya Kris"
Kris berjalan ke depan, menatap langit cakrawala yang membentang luas di atas sana.
"Berterima kasihlah pada shain, dia yang dengan bodoh membawanya pulang, mengikuti alur permainan Madeline tanpa sadar menarik nya kembali ke tempat seharusnya"
__ADS_1
ucap tristan cepat
"Aku juga tidak menyangka menemukan nya secepat itu, teka-teki keluarga Gideon membuat ku menggila, Lana Lan asli membuat aku begitu muak Edward,aku hampir melukai Eliana"
"Yeah, jika aku tahu kalau dia Eliana kami kemarin, aku benar-benar sudah menghajar mu habis-habisan kemarin"
umpat Edward kesal.
"Ayolah Ed, jika sejak awal aku tahu dia Eliana, apa mungkin aku akan melakukan nya?"
tristan menarik nafasnya sejenak, meraih rokok disaku celananya juga pamatik, menyulut api kemudian ikut menyesap rokoknya.
"Permainan ini akan terasa berat dan panjang Kris, hingga Eliana mendapatkan semua milik Gideon, menghancurkan Madeline dan Laura sampai menghancurkan Helena dan shain"
ucap Edward sambil berjalan mendekati Tristan.
"Eliana akan aman selama berada di bawah pengawasan keluarga besar black pearl, tapi kau harus bisa melindungi diri mu sendiri, satu-satunya orang yang bisa memperkuat pertahanan mu adakah hillatop, kau bisa meminta balas Budi Lama yang belum dibayar paman allzigra, sebab lawan mu bukan Helena atau shain saja, tapi pria dibalik punggung mereka, satu-satu nya sosok yang enggan mereka hadapi hanya paman allzigra, kau bisa menggunakan kesempatan ini untuk bergerak juga bertahan hingga akhir"
Tristan memejamkan bola matanya, bersandar didinding kaca yang disisi kanannya.
"Aku tidak bisa berada disamping mu dalam permainan ini, jelas-jelas Helena tahu aku mengkhianati kamu, Artinya aku harus mulai menarik diri dan Ikut kedalam permainan mereka, hingga pria itu muncul dan menampakkan taringnya"
"Setelah dia muncul, kau bisa memusnahkan satu-satunya batu penghalang Xavier company selama puluhan tahun ini"
Tristan menyesap berlahan rokoknya, membuang asapnya ke depan, dia masih diam dalam keheningan, tidak menjawab tidak juga balik bertanya, dia sedang memikirkan cara untuk masuk ke dalam permainan mereka.
"kali ini biar Eliot yang bergerak".
Edward menaikkan ujung bibirnya.
"Dia sudah lama menginginkan Laura masuk ke jebakan nya"
Edward tertawa senang.
Seketika terdengar ketukan pintu dari arah depan.
"Kris, apa kau didalam?"
terdengar suara dari arah luar.
Edward tampak diam
"Gadis impian mu ada di luar kawan"
Tristan bicara sambil membalikkan tubuhnya, berjalan menjauhi Edward.
"Ada apa?"
seketika pintu terbuka, seseorang tersenyum dengan wajah indahnya, menatap ke arah Tristan sambil berkata.
"Dimana Lana Lan? "
__ADS_1
tanya Joyce sambil melebarkan senyumnya.
"Dalam perjalanan pulang"
"Kita akan kembali melakukan terapi nya, dokter onix sudah menunggu dibawah"
Edward menatap gadis itu yang belum menyadari kehadiran nya, memperhatikan dengan seksama ekspresi cantik itu yang tidak pernah berubah sejak dulu, berapa lama dia memperhatikan gadis itu? 10 tahun bukan waktu sebentar. dulu gadis itu masih bocah ingusan, sekarang dia tumbuh dengan sempurna.
"Bisa bantu aku Joyce?"
tanya Tristan tiba-tiba
"Ya?"
"Bantu antarkan teman ku edward ke mansion kita di selatan Paris, dia akan tinggal disana dalam beberapa waktu"
"Ya?"
Joyce mengerutkan dahinya
sejenak dia menatap ke arah sisi kanan nya, dimana jari tangan Tristan bergerak.
"Dia akan tinggal di atas ku?"
Joyce tampak keberatan, menatap laki-laki asing yang belum pernah dia temui sebelumnya.
"Kau tega pada ku, paman?"
bisik Joyce kemudian.
"Bukankah dia tampan? kau bisa menggoda nya"
ekspresi Joyce Seketika berubah
"Iwwhhhh, aku tidak seperti itu paman, aku seorang perawan tahu"
sungut nya kesal.
seketika tristan menaikkan sudut bibirnya.
"Ed kau bisa pergi dengan nya,aku harus menemui istri ku"
setelah berkata begitu, Tristan mengedip-ngedipkan sebelah matanya ke arah Joyce.
"Dia seorang pengacara"
bisik Tristan kemudian lantas meninggalkan Joyce dalam kebingungan.
"Ah.. hallo tuan"
Joyce bicara sambil memegang ujung lehernya, tampak bingung harus bicara apa.
__ADS_1