
"Daddy.."
Pengacara edward pearl dengan cepat menggeser kursi nya, memberikan kursi disamping duduknya kepada pria bertongkat dengan wajah yang dipenuhi luka bakar itu, Edward Pearl tua yang tidak lain black pearl, pimpinan mafia tertinggi the red pearl bagian Eropa.
"Kau cukup pintar menutup identitas mu ed"
ucap pria tua pearl itu sambil duduk di atas kursi kayu tersebut ke arah pengacara edward.
Tristan tampak menuangkan segelas winski ke dalam gelas yang ada dihadapannya.
"Cukup sulit berbaur dengan dunia luar sebagai seorang pengacara, menutup identitas asli "
"Tapi orang tidak akan pernah tahu dunia gelap yang kamu geluti"
Edward terkekeh
"Yeah, ayah benar, minimal hidup ku cukup terlihat normal sebagai seorang pengacara, bukan sebagai seorang mafia, seperti Tristan, benar bukan bung?
Tristan menaikkan ujung bibirnya, menyesap rokok yang ada ditangannya.
"Cukup bisa membuat hidup mu tenang tanpa ada yang tahu seberapa berkuasa nya diri mu"
jawab Tristan cepat, bersandar.ke kursi sofa dengan cara yang begitu santai.
"Dimana arash?"
Tiba-tiba pearl tua bertanya sambil mengerutkan dahinya.
"Dia sedang membuat kesepakatan dengan seseorang"
"Perempuan?"
"Yeah, untuk anak gadis nya di Indonesia"
"Siapa lagi yang dia beli kali ini?"
"Putri MC Dores"
__ADS_1
seketika pearl tua menatap Edward dan Tristan secara bergantian.
"Apa?"
"Kita bisa membahasnya setelah ini dad"
ucap Edward cepat.
"Kemana arah rencana mu?"
"Aku akan mengumumkan nya di keluarga Xavier sore besok, aku yakin pelaku utama nya akan keluar dimalam berikut nya"
Tristan menaikkan alisnya.
"Kau yakin?"
Edward menaikkan ujung bibirnya, menaikkan kedua tangannya ke arah Tristan seolah-olah akan menembak laki-laki itu.
Bammmm
"Peluru akan tepat mengenai sasaran nya"
Saat pengacara edward mengumumkan soal jika diri nya mendapatkan bukti soal tragedi penculikan pada 16 tahun silam pada keluarga Xavier dan Gideon, secara bersamaan semua orang saling menoleh dan terkejut.
"Apa?"
kakek tua Xavier tampak tercekat.
"Kau yakin?"
paman Ishak tampak mengernyit kan dahinya.
"Semua terasa begitu rumit Kris, kau tahu maksud ku rasanya luar biasa saat semua kejahatan terbongkar semua secara tiba-tiba"
ibu tiri Tristan bicara cepat.
"Tidak aneh, karena seseorang jelas-jelas ingin menjebak ku"
__ADS_1
"Untuk apa?"
kakek Tristan tampak mengerutkan dahinya.
Tristan pura-pura tidak tahu.
"Entahlah, aku cukup sulit menebaknya"
"yang jelas seseorang yang terlibat dalam penculikan ku 16 tahun yang lalu sudah tertangkap, seorang pria dari desa La Bastide dan seorang pria perkebangsaan Thailand"
"Dimana mereka sekarang?"
tanya bibi Emma cepat.
"Di penjara keluarga xavier, hutan Pinus bagian Utara"
"Kemana kau akan membawanya setelah ini?"
"Menyeret nya untuk membuka mulut soal siapa saja yang terlibat di masa lalu"
"Kau sudah yakin mereka orang yang benar-benar terlibat?"
paman Ishak bertanya sedikit ragu.
Edward Dengan cepat meletakkan sebuah foto di atas meja.
"Sangat yakin 100%"
ucap Edward sambil berusaha memperhatikan semua raut wajah orang-orang disana dengan seksama.
Kakek tua Xavier, ibu tiri Tristan, suami baru ibu tiri Tristan, bibi Emma, paman Ishak, paman tertua Gideon dan bibi muda Lana Lan.
"Kapan kau akan membawa mereka ke kota?"
paman Ishak bertanya cepat.
"Besok lagi kami akan melakukan perjalanan untuk mendapatkan dirinya"
__ADS_1
Keheningan langsung tercipta, tidak ada yang membuka suara setelah percakapan terakhir yang mereka lakukan tadi, seolah semua norang larut dalam pemikiran masing-masing.