
Lana Lan sejenak menggeliat, mencoba membiasakan matanya dari terik Sinar matahari yang mulai masuk dari arah depan goa, beberapa kali berusaha menahan sisa perih di bahu kanan nya karena tembakan semalam, Tapi tiba-tiba dia ingat pada sesuatu.
"Kris?"
Seketika dia membuka bola matanya dengan spontan, menghilang kan rasa pening karena berusaha untuk bangun dengan tiba-tiba.
"Oh oh sayang, jangan lakukan itu"
Suara khasa itu, Yang selalu menemaninya selama Lebih dari 1/2 tahun ini menggema jelas di seluruh penjuru gua, Seketika Lana Lan mencoba melihat ke arah laki-laki itu, dan sepersekian detik kemudian bola mata Lana Lan jelas langsung berkabut.
Tanpa aba-aba langsung memeluk sosok yang berdiri di depannya, tengah membawa buah pisang yang entah dia dapatkan dimana.
"Kris ku, ini kris ku?"
ucap Lana Lan serak, mencoba memeluk erat-erat tubuh itu.
Jika ingat semalam rasanya begitu menyesak kan, Lana Lan Fikir Tristan mungkin tidak akan selamat, tidak ada satu alat bantu pun yang bisa Lana Lan manfaat kan kecuali mengandalkan diri sendiri yang masih terluka.
"Ini Kris mu"
Bisik Tristan pelan.
"Aku benar-benar ketakutan, kamu semalam benar-benar dalam kondisi yang begitu membuat ku panik"
Tristan melepaskan pisang yang ada di tangannya, memeluk balik tubuh sang istri, mendekapnya hangat sambil mencium berkali-kali puncak kepala Lana Lan.
__ADS_1
"Bukan kah kamu selalu tahu bagaimana cara menyelamatkan suami mu ini hmm"
ucap tristan pelan sambil terkekeh.
"Terima kasih sayang, karena baik-baik saja"
Bisik tristan pelan sambil mengelus lembut kepala Lana Lan.
Lana Lan terus memeluk Tristan erat-erat, seolah-olah takut jika sosok itu akan menghilang.
"Sekarang katakan pada ku, kenapa kamu membohongi aku soal menjebak mawar merah?"
ucap tristan tiba-tiba.
Lana Lan tampak diam, melepaskan pelukannya secara perlahan.
"Aku hanya ingin semuanya Cepat berakhir Kris"
Tristan menghela nafas nya panjang.
"Tapi bukan dengan cara mempertaruhkan nyawa mu juga membohongi suami mu kan?"
Lana Lan menelan salivanya.
"Maafkan aku"
__ADS_1
Tristan menyentuh Perlahan wajah Lana Lan, menatap dalam bola mata itu.
"Kau tahu Eliana? Jika lagi-lagi sesuatu yang buruk terjadi pada mu, aku pasti tidak akan bisa memaafkan diri ku sendiri"
"Maafkan aku"
Tristan menghembuskan nafas nya pelan, dia memejamkan sejenak bola matanya.
"Mari memulai hidup dari awal, membuang semua dendam, melupakan soal masa lalu"
ucap Tristan tiba-tiba.
"Aku tidak ingin sesuatu yang buruk kembali terjadi pada mu, pada anak-anak seandainya kita diberikan Rizki anak oleh Allah hmm"
Tristan Bicara sambil kedua telapak tangannya mengelus lembut wajah Lana Lan.
"Sebab acapkali aku terbangun di tengah malam, menatap diri mu yang tertidur pulas, berfikir kapan semua berakhir, aku takut hal yang buruk terjadi pada mu"
"Takut kamu akan menghilang kembali seperti masa lalu, takut genggaman ku terlepas lagi saat aku lengah karena orang-orang di masa lalu"
"Hingga saat aku melihat peluru itu melesat ke arah mu aku benar-benar berfikir, aku mungkinkah lagi-lagi kehilangan diri mu"
"Kris"
Lana Lan mencoba menelisik bola mata itu, seolah-olah memang berkata jika laki-laki itu juga ingin semua nya berjalan normal seperti apa yang lana Lan harapkan.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat Lana Lan mengangguk kan kepalanya.
"He em"