Pengantin Kembar Pengganti CEO Iblis

Pengantin Kembar Pengganti CEO Iblis
Rasa ini "Maafkan aku"


__ADS_3

Tristan jelas terkejut saat menyadari siapa yang ada di belakang nya saat ini, dia merapikan sajadah nya kemudian meletakkan nya di atas nakas.


"Tris"


Lana Lan bicara pelan, berusaha mendekati Tristan, bola matanya jelas sudah umemerah sejak tadi, sekali lagi air mata nya tumpah, dia takut kali ini lagi-lagi Tristan akan menghindari nya.


"Sudah makan siang?"


Tristan bertanya sambil menghapus lembut air matanya.


dan kata-kata Tristan benar-benar berada di luar ekspektasi nya, gerakan tangan itu begitu dia rindukan selama 3 hari ini.


secepat kilat Lana Lan menggeleng kan kepalanya.


"Belum"


jawab nya cepat.


Tristan membawanya ke belakang, membiarkan pelayan rumah menyiapkan makan siang untuk mereka, Lana Lan hanya diam, takut jika-jika salah bertindak atau bicara.


"buat kan jus Anggur bik, istri saya Suka itu"


Tristan bicara sambil menoleh ke arah pelayan wanita berusia 45 tahunan itu, kemudian mulai menyuapkan makanan nya.


"Iya tuan"


seketika Lana Lan mengulum senyum meskipun masih dengan perasaan sedih.


kata istri saya cukup membuat diri Lana Lan bahagia, bahkan sang suami hapal dengan apa yang dia sukai.


Lana Lan dengan cepat melahap semua makanannya, sambil sesekali masih terdengar sisa isakan tangisan nya di Balik bibir indah Nya.


"Maafkan aku"


Lana lan bicara cepat ke arah Tristan setelah mereka menyelesaikan makan Siang mereka, dia mengikuti langkah Tristan yang naik menuju ke lantai atas.

__ADS_1


"Jangan membenci ku"


Air mata Lana Lan kembali tumpah dibalik wajah cantik nya itu.


"Aku memang melakukan nya tris, tapi itu di awal saat aku masih ragu untuk banyak hal"


Tristan tampak hanya diam, tidak menyahut, tidak menjawab, hanya diam sambil menatap bola mata Lana Lan untuk waktu yang cukup lama.


"Ada banyak pertimbangan yang terjadi, bukankah pernikahan awal kita begitu rumit? aku jelas-jelas berfikir kamu tidak benar-benar ingin meneruskan pernikahan ini hingga menua bersama, aku hanya takut jika kemudian kegagalan dalam hubungan kita terjadi, ketika hamil aku akan kesulitan untuk bergerak Tris"


Lana mulai bicara, mencoba menjelaskan dengan cara Berlahan.


"Mungkin benar aku menyukai shain, tapi itu kemarin sebelum keadaan berubah Tris, aku tidak lagi mengharapkan Dirinya Tris"


"Awalnya Aku tak merencanakan untuk mencintaimu, tapi seiring berjalannya waktu aku bahagia karena berada disisi kamu"


"Aku memang melakukan nya, tapi aku benar-benar menghentikan nya hampir 1 Minggu kemarin"


Lana Lan mulai menangis


"Jangan pergi lagi dan pulang lah, aku.. aku.."


Lana Lan terus terisak dihadapan Tristan, bagaimana mengatakannya? dia benar-benar tersiksa untuk beberapa waktu selama mereka tidak saling bicara, tidak saling mencari bahkan tidak tinggal bersama, dunia nya seakan berputar 180° dan sesuatu seakan-akan menghilang begitu saja.


Tiba-tiba Tristan melangkah maju, memeluk erat tubuh Lana Lan dalam satu kali gerakan.


"Kau tahu sayang, betapa aku merindukan mu hmm?"


ucap Tristan sambil mencium hangat puncak kepala Lana Lan. Kemudian dia membiarkan Lana Lan duduk di samping kasur.


"Dalam suatu hubungan tentu tidak akan terlepas dari adanya konflik. Adakalanya konflik membuat suatu hubungan menjadi lebih rekat, tapi tak jarang pula menjadi renggang dan bahkan berujung pada perpisahan. Meski begitu, ada pula konflik yang bisa diselesaikan dengan permintaan maaf."


Tristan menyeka air mata lana Lan sejenak, Lana Lan mencoba terus menatap bola mata Tristan.


"Bukankah tempo hari kita pernah mendiskusikan nya? aku butuh waktu untuk merenungkan segalanya jika sesuatu kesalahan terjadi"

__ADS_1


“Berfikir Apakah kejadian ini menjadi pelajaran buat kita? Atau bahkan menjadi sebuah berkah buat kita?” 


"Aku orang yang gampang kecewa, tidak bicara berhari-hari hingga menyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja kan?"


"Setelah dirasa emosi sudah mereda maka aku baru bisa mengambil keputusan, mungkin selanjutnya baru melakukan langkah pamungkas dengan berdiskusi bersama.bisa jadi Langkah itu dilakukan bukan untuk mencari benar dan salah, melainkan mencari jalan tengah yang bisa memuaskan semua pihak."


"Sekarang katakan pada ku apa yang menjadi keluhan mu? jika memang masih ragu mari kita diskusikan dengan baik, kita bisa meminum pil pencegah kehamilan tanpa harus membubuhkan semua diam-diam"


"Aku harus nya sejak awal menyadari, semua nya terasa sulit untuk kamu pasti nya, aku yang terburu-buru berharap semua harus berjalan sesuai rencana ku tanpa ingat bagaimana perasaan mu, Lana"


"Jangan lagi membohongi ku, katakan semua keluhan mu hmm"


Tristan Menyentuh lembut wajah Lana Lan


"Kita akan pergi ke dokter setelah ini"


ucap Tristan lagi


"Berkonsultasi bagaimana baiknya"


Lana Lan menggeleng cepat kemudian kembali menangis.


"Aku tidak lagi memikirkan nya, kita tidak harus meminum pil nya"


"Aku tidak menginginkan nya"


Tristan diam sejenak, kemudian menatap dalam wajah Lana Lan.


"kamu tidak akan pernah menyesali nya?"


Lana menggeleng cepat


"Aku sudah meyakinkan diri, kamu memang sosok yang paling pantas untuk jadi ayah dari anak-anak ku"


Tristan kembali memeluk Lana Lan, mencium puncak kepala nya berkali-kali sambil berkata.

__ADS_1


"Maafkan aku karena terlalu tergesa-gesa dengan pemikiran, maafkan aku karena membentak kamu kemarin, maafkan aku karena tidak pulang kerumah kita beberapa hari ini"


bisik nya pelan.


__ADS_2