
Saat Lana lan terlelap dalam tidurnya, seketika tampak pergerakan disana, Lana Lan terlihat mengeluarkan keringat dingin, terus mengucapkan kata-kata yang nyaris tidak dapat Tristan dengar.
Tristan langsung mengerutkan keningnya, jelas terlihat keringat dan membasahi wajah Lana Lan, ekspresi panik terlihat jelas diwajah nya. Dalam sekali belokan Tristan menepikan mobilnya, mencoba menyadarkan Lana Lan.
Mimpi burukkah?
itu yang Tristan fikirkan, dia dengan cepat keluar dari dalam mobil, berusaha untuk memutar dan membangunkan Lana Lan.
"Tidak, Han.. hann..hill...hill.."
Lana terus meracau tidak jelas
"senja..senja...Kriss...Kriss... mereka datang"
"mereka akan membunuh nya Kris..Kris..Aliara..aliara dimana sin dimana?"
Sejenak Tristan membeku, dia memundurkan tubuhnya.
Apa maksudnya?
"Tidak..lepaskan aliara, Kris.. dimana aliara Di mana dia?"
Tristan jelas menegang
aliara? dia membicarakan soal nama nya sendiri? apa itu masuk akal?
Tristan menoleh kembali ke arah Lana Lan.
Apa yang sudah kau sembunyikan pada kami? siapa kau sebenarnya?
Tristan mencoba menepuk-nepuk lembut wajah Lana Lan.
"Bangunlah, ada apa dengan mu"
Tristan terus mencoba menyadarkan Lana Lan
"Sin mereka melakukan nya,mereka melukai punggung Kris ku, selamat kan dia dan aliara"
Lana lan bicara tampak terisak, Tristan jelas membulatkan bola mata tapi tiba-tiba dalam hitungan detik Lana Lan terbangun secara spontan, memeluk erat leher Tristan cukup lama, dia terisak kemudian isakan itu kembali meredam.
Tidur lagi kah?
Terdengar suara halus dibalik telinga nya, jelas Lana Lan kembali terlelap dalam tidur nya. Tristan secara berlahan melepaskan diri, tapi sepersekian detik bola mata Tristan mengarah pada tas Lana Lan yang terbuka, 2 botol obat terlihat menyembul disana.
__ADS_1
Tristan mencoba membacanya, 1 obat tidur, 1 obat penenang. jelas Tristan terus mengerutkan dahinya, mencoba menutup kembali tas Lana Lan, berlahan menutup pintu mobil lantas mencoba menghubungi seseorang.
"Apa tes DNA nya sudah keluar?"
dia Hampir melupakan soal itu kemarin.
"Berikan pada ku copy an nya, kirimkan ke email ku"
kemudian Tristan langsung masuk kedalam mobilnya, kembali melanjutkan perjalanan didalam keheningan malam.
********
Oh sial
umpat Tristan
1 1/2 jam lagi Ketika memasuki desa, hujan deras mengguyur,petir menggelegar sejak tadi, Lana Lan jelas belum terbangun, tristan fikir Lana lan pasti mengkonsumsi salah satu obat didalam tasnya, jika tebakan nya tidak salah, dia pasti lagi-lagi meminum obat tidur nya hingga semua saraf kesadaran nya benar-benar mati total. Andaikan Tristan si bajingan kemarin keluar, sudah bisa dipastikan Lana Lan sudsj berada di bawah Kungkungan nya, tapi Tristan jelas tidak akan lagi melakukan nya tanpa izin resmi dari Lana lan.
Jelas terdengar ambigu, tapi kali ini dia mencoba untuk bersabar.
"Oh brengsek"
saat ban mobil nya masuk ke dalam kubangan lumpur, jelas saja tristan terus menekan gas nya, tapi bukan nya bisa keluar, mereka semakin terjebak keadaan. Tristan melirik ke arah jam tangan nya, masih 1 jam perjalanan kurang sedikit.
"Sial"
Tristan mengumpat kesal, pakaian nya jelas sudah basah kuyup, dia benar-benar frustasi.
"Come bukan disaat seperti ini"
Tristan melirik ke arah Lana lan yang mulai terjaga.
"Apa yang terjadi?"
Lana Lan bertanya sambil mengerutkan dahinya, menatap bingung ke arah Tristan yang sudah basah kuyup.
"Kita terjebak lumpur"
Tristan menjawab cepat
"Tidurlah lagi, mungkin kita terpaksa menunggu hingga pagi"
ucap Tristan cepat
__ADS_1
Lana Lan tampak diam, mencoba menoleh ke belakang, mencari koper mereka, mencoba mencari handuk disana.
"Keringkan lah, kamu basah kuyup"
Tristan menerima handuk itu,mencoba mengeringkan rambutnya.
dia menghela nafasnya berat, ingin sekali rasanya menyesap rokoknya saat ini, tapi jelas dia memikirkan Lana Lan, dia fikir terlalu egois jika di membuat kubangan asap didalam mobil itu, apalagi dia tidak mungkin membuka kaca mobil hanya demi untuk merokok.
Dan sial nya hujan semakin menjadi sedang kan tubuhnya mulai menggigil sempurna. Dia pasti gila karena masih nekat untuk keluar dari mobil tadi demi mengecek keadaan.
Tristan berusaha untuk memijat kepalanya, rasa pening tiba-tiba mendominasi, tubuhnya jelas terasa mendingan, dia mencoba memejamkan matanya.
"Ganti lah pakaian mu, Tristan"
Lana Lan seolah paham kegelisahan Tristan, berusaha untuk membuat Tristan mengganti semua pakaian nya yang basah.
"Kamu akan terserang demam jika terus menggunakan nya"
Setelah berkata begitu Lana Lan langsung menyerahkan pakaian kering untuk Tristan.
Tristan sejenak membuka bola matanya, menatap Lana Lan beberapa waktu, menerima pakaian itu, dia tampak berfikir sesaat hingga akhirnya dia mencoba masuk ke kursi belakang. Lantas Mengganti pakaian nya dengan yang baru.
Lana Lan mencoba fokus dengan handphone nya, menatap layar nya beberapa waktu, jelas tidak ada sinyal disana. Kekhawatiran Lana aln, apakah ada orang jahat di sepanjang jalan ini? dia jelas cukup khawatir.
Sejenak Lana Lan mengerutkan dahinya, sebab sejak tadi Tristan tidak kunjung berpindah tempat.
"Tristan, apa kau baik-baik saja?
Tristan tampak tidak bergeming
"Tristan?"
Lana Lan menoleh kebelakang, sejenak bola mata Lana lan membulat, tristan tampak menggigil dengan wajah memucat. sekelabat ingatan soal ucapan Helena terpatri dikepalanya.
"Tristan gampang terkena hipotermia, kedinginan akut tiap kali telalu lama berhadapan dengan cuaca dingin, trauma masa kecil karena tenggelam di kolam renang membuat dia sulit beradaptasi terlalu lama dengan air atau cuaca dingin, sugesti nya selalu berkata jika air dan cuaca dingin adalah sesuatu yang bisa membuatnya mati seketika"
"Tristan, Tristan"
Lana Lan langsung beringsut masuk kebelakang, menyentuh kening dan wajah Tristan dengan rasa panik. Tubuh itu jelas terlihat menggigil, pucat pasi dan entahlah.
Apa yang harus aku lakukan?
Lana Lan tampak menyentuh keningnya sendiri, dia berusaha untuk berfikir dengan logikanya.
__ADS_1