PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
Bab 100. Alden dan Randi


__ADS_3

Saat ini Randi sedang menjalankan mobilnya menuju puncak. Di sana akan dilaksanakan foto prewedding Alden dan Aqila.


Alden dan Aqila duduk di jok belakang, sementara Miho duduk di depan bersama Randi yang sedang menyetir. Sesekali tampak pria itu mencuri pandang ke arah Miho.


Alden yang melihat itu langsung memukul bahu Randi, membuat pria itu kaget. Begitu juga Miho.


"Konsentrasi nyetirnya! Aku tak mau mati sebelum kawin!" hardik Alden.


"Saya udah konsentrasi, Tuan," ucap Randi membela dirinya.


"Apanya yang konsentrasi, mata kamu saja selalu melirik ke samping. Miho tidak akan kabur. Kamu bisa menatapnya lama setelah kita sampai," ujar Alden.


Wajah Randi memerah mendengar ucapan pria itu. Miho dan Aqila saling tatap mendengar ucapan Alden. Setelah itu keduanya tertawa. Membuat Randi makan salah tingkah.


Dua jam perjalanan, sampai mereka ditujuan. Di sana telah menunggu kru yang akan melakukan sesi pemotretan buat foto prewedding. Dua jam lebih waktu dihabiskan untuk pemotretan.




__ADS_1


Melihat foto keduanya yang bermesraan Randi pergi menjauh. Ternyata Miho juga melakukan hal yang sama. Wanita itu duduk di taman belakang dengan bermain ayunan.


"Kamu juga pengin kayak mereka," ucap Randi. Miho menghentikan ayunannya dan memandang ke arah asal suara.


"Aku atau kamu yang pengin?" tanya Miho


Randi tersenyum mendengar ucapan Miho. Pria itu merapatkan tubuhnya dengan Miho.


"Kalau aku pengin, apa kamu mau jadi pasangannya?" tanya Randi sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya dengan genit.


Miho jadi kesal melihat wajah usil Randi. Dia mencubit pipi pria itu. Bertepatan dengan Alden yang datang bersama Aqila.


"Enak banget ya! Saya membawa kamu buat bantu pemotretan, bukan buat pacaran!" ujar Alden. Kedua orang itu menjadi kaget.


"Yang mau nikah itu kamu apa saya? Yang mau pemotretan itu kamu apa saya?" tanya Alden dengan suara sedikit tinggi.


Mendengar suara Alden yang lumayan keras, Aqila mencubit lengan calon suaminya itu. Dia paling tidak suka orang bicara keras.


"Kecilkan volume suara kamu, Al! Aku nggak suka dengar orang teriak-teriak. Randi pasti mendengar walau kamu bicara pelan. Aku yakin telinganya masih berfungsi baik," ucap Aqila.


Mendengar calon istrinya mengomel di depan Randi juga Miho, Alden juga malu. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


Dia langsung meraih tangan Aqila dan menggenggamnya. Alden tersenyum dengan gadis itu.


"Aku nggak marah sama kamu, Sayang!" ucap Alden lembut.


"Walau kamu matanya bukan denganku, tetap aku nggak suka. Takutnya nanti sikap kamu ini terbawa hingga kita berumah tangga. Aku tak mau dengar suara keras di rumah," ucap Aqila lagi.


Alden mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Randi yang melihat bos-nya itu salah tingkah, langsung tersenyum. Sial bagi Randi, saat dia tersenyum, Alden melihatnya. Pria itu melototkan matanya membuat Randi langsung ciut.


"Kita pulang lagi!" ucap Alden mengalihkan pembicaraan.


***


Sepanjang perjalanan pulang Aqila hanya diam. Dia masih marah dan tak suka dengan sikap Alden yang sering bersuara keras.


"Sayang, kamu masih marah? Kok diam aja," ucap Alden. Dia tidak tahan didiamkan Aqila begini.


"Kamu harus berubah, Al. Aku takut nanti jika kita memiliki anak, kamu juga akan berteriak saat anak kita melakukan kesalahan."


"Iya, Sayang. Apapun akan aku lakukan, untuk kamu. Aku akan mencoba tidak marah lagi."


Randi yang melihat wajah bosnya yang ketakutan menjadi tersenyum. Alden yang melihat Randi tersenyum melototkan matanya.

__ADS_1


"Kamu ...." Alden menghentikan ucapannya. Dia mengurungkan niatnya yang ingin marah. Pria itu tersenyum pada Aqila. Takut gadisnya membatalkan pernikahan mereka.


...****************...


__ADS_2