PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
Bab 94. Lontong Medan


__ADS_3

Hari ini, Miho temannya Aqila dari Korea itu akan datang. Gadis itu sengaja berkunjung ke perusahaan Alden. Rencananya Aqila akan menjemput Miho dengan Randi.


Jam sembilan pagi Aqila telah sampai di kantor calon suaminya itu. Setelah meminta izin pada resepsionis, Aqila menuju ruang kerja Alden yang berada di lantai empat.


Di tangan Aqila ada satu rantang berisi lontong medan. Gadis itu tadi pagi sengaja memasaknya untuk Alden dan Randi.



Lontong medan berbeda dari lontong sayur yang dijual pada umumnya, Lontong medan biasanya dilengkapi dengan telur balado, bihun goreng, kerupuk kentang, tauco,ikan teri, sambal tempe. Itulah yang membuat lontong medan jauh lebih sedap dan gurih.


Aqila mengetuk pintu ruang kerja Alden sebelum masuk. Pria itu yang sedang mengerjakan berkas, kaget mendengar suara ketukan. Biasanya Randi langsung masuk tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"Masuk!" ucap Alden dengan suara cukup keras merasa terganggu.


Mendengar suara Alden yang keras, Aqila mau mundur. Namun, dia sudah terlanjur membawa makanan dan juga dia ingin sekalian menjemput Miho bersama Randi.


Aqila membuka pintu perlahan. Alden memasang wajah sangarnya karena merasa terganggu dengan kedatangan seseorang itu.


"Selamat pagi, Al," ucap Aqila pelan karena masih takut.

__ADS_1


Alden yang melihat kedatangan Aqila langsung berubah wajahnya. Dia tersenyum semringah menyambut, berdiri mendekati gadisnya yang hanya berdiri di ambang pintu.


Alden memeluk tubuh kekasih hatinya itu dan mengecupnya. Aqila masih tampak cemberut.


"Kenapa hanya berdiri di sini, Sayang?" tanya Alden. Dia merasa aneh karena kekasihnya itu hanya berdiri tanpa bergerak.


Alden memandangi wajah Aqila. Terlihat jelas wajahnya yang cemberut. Pria itu lalu mencubit pipi gadis itu dengan lembut.


"Kenapa cemberut?" tanya Alden, masih dengan wajah keheranan.


"Seharusnya aku yang bertanya, kamu kenapa marah-marah? Apa kedatanganku sangat mengganggu?" tanya Aqila dengan suara serak menahan tangis.


Mendengar suara Alden yang keras, Aqila merasa kedatangannya tidak tepat. Pasti pria itu sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Alden merasa ada yang salah, melihat sikap Aqila, mengajak gadis itu untuk duduk di sofa yang ada diruangan itu. Setelah keduanya duduk, barulah Alden kembali bersuara.


"Siapa yang marah? Aku sangat senang kamu datang. Jika perlu setiap hari kamu datang untuk menemani aku di sini."


"Tapi tadi kamu marah. Suaramu sangat keras saat persilakan aku masuk."

__ADS_1


Alden mengerutkan dahinya. Mengingat kapan dia marah. Akhirnya dia tersenyum meyadari kesalahannya itu.


"Maaf, Sayang. Aku bukan marah denganmu, tadi itu aku pikir karyawan."


"Jika karyawan boleh ya marah?" tanya Aqila.


Alden tidak tahu harus menjawab apa. Takut ucapannya akan salah lagi. Pria itu mengacak rambut calon istrinya itu.


"Kamu bawa apa ini, Sayang?" tanya Alden, menunjuk ke rantang yang ada di meja. Pria itu sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Aku sengaja bangun pagi untuk memasak ini buat kamu dan Randi," ucap Aqila.


Dahi Alden kembali berkerut. Apa dia tadi tidak salah mendengar ucapan kekasihnya itu. Kenapa ada nama Randi di sebut.


"Untukku dan Randi?" tanya Alden lagi. Dia tidak suka kekasihnya juga memperhatikan pria lain, walaupun itu Randi sang asisten.


Bagi Alden, gadis itu hanya miliknya seorang. Tidak ada yang boleh mendekatinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2