PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 32. Bingung


__ADS_3

Di malam hari, Azzura mencari tempat untuk menginap. Ia mencari kontrakan terdekat supaya bisa berteduh dan tidur dulu. Mengingat waktu semakin malam dan sudah menunjukan pukul delapan malam, Azzura masih kesana kemari di temani sopir taksi. Azzura juga sudah mengenakan pakaian yang tertutup. Celana jeans panjang, dan sweater rajut panjang. Ia teringat pada nasihat Azzam mengenai pakaiannya yang terlalu terbuka. Karena tidak ingin mengalami hal itu lagi, Azzura berganti pakaian, lebih tepatnya membeli dulu menggunakan uang cash agar Chiko tidak mengetahui keberadaannya.


"Neng, kita mau kemana?" tanya sopir taksi itu.


"Hmmm cari kontrakan, eh!" Azzura tiba-tiba diam memikirkan sesuatu.


"Kalau aku masih di sini, Chiko pasti bisa menemukan ku. Lebih baik aku langsung ke kota B saja."


"Kemana, Neng?"


"Kalau ke kota B bisa tidak, pak? Nanti saya bayar lebih."


"Aduh neng, maaf. Bapak tidak bisa. Kalau Neng mau ke kota B, palingan bapak cuman bisa nganterin ke terminal Bus saja. Nanti bisa naik bus jurusan kota B, Neng."


"Oh gitu, ya sudah boleh. Antarkan aku ke terminal Bus saja." Azzura memutuskan untuk pergi malam hari dan menurut informasi dari sopir taksi, bus terakhir jurusan kota B berangkat jam sembilan malam.

__ADS_1


*****


Chiko kebingungan mencari Azzura kesana-kemari. Ia berkeliling tempat hanya ingin menemukan wanita yang masih bertahta di hatinya, tapi telah ia goreskan luka di batinnya.


"Bodoh, kau telah membuat Azzura pergi, Chiko. Seharusnya kau rapi menyembunyikan ini semua. Kemana aku harus mencarinya? Dia tidak mungkin ke luar kota malam-malam begini. Aku yakin Azzura masih berada di sekitar sini." Chiko terus melajukan mobilnya membelah jalanan demi mencari dan membawa Azzura kembali. Sekalipun ia tahu jika Azzura tidak mungkin kembali lagi, atau lebih tepatnya sulit kembali setelah terkhianati, tapi Chiko meyakinkan diri kalau Azzura akan mampu ia taklukkan.


Sudah tiga jam lamanya Chiko mencari, tapi keberadaan Azzura tak kunjung ia temui. Waktu pun semakin malam dan sudah menuju jam sepuluh malam.


Karena tidak dapat apa-apa, Chiko pulang dalam keadaan lesu. Dia menundukkan kepalanya dengan dahi ia tempelkan di stir. "Bisa-bisanya aku melakukan tindakan bodoh ini. Sekarang Azzura pergi dariku. Akkhh, brengsek!" pekik Chiko marah pada dirinya sendiri dan mengusap kasar wajahnya.


Tok.. tok .. tok...


"Ghina!" Chiko membuka pintu mobilnya dan turun.


"Kamu mau ngapain?"

__ADS_1


"Kok bicaranya sewot gitu? Aku datang kesini mau ketemu Azzura, mau nganterin makanan sekalian mau ketemu kamu," ucap Ghina di bagian terakhirnya berbisik takut di ketahui orang-orang.


Ghina membuat kue dan ia sengaja ingin datang ke rumah Azzura dengan alasan mencicipi makanan.


"Azzura tidak ada dan semua itu gara-gara kamu!" ujar Chiko menatap tajam.


"Kok gara-gara aku? Emangnya Azzura kemana?" Ghina belum tahu Azzura pergi, ia hanya tahu kalau Azzam yang pergi dan memberinya talak.


"Gara-gara kau sering menggodaku Azzura pergi meninggalkan ku. Kau pembawa sial!" sentak Chiko kesal terhadap Ghina yang selalu mendekatinya hingga ia terbuai dan terlena sampai berakhir dengan perselingkuhan.


"Hei! Jaga bicaramu! Aku bukan pembawa sial! Aku tidak pernah menggoda mu kalau kamu sendiri tidak mudah di goda. Ayolah Chiko, kita sama-sama saling suka dan sama-sama menikmati tindakan kita, jangan sok munafik." Ghina mendekati Chiko dan mengelus dadanya Chiko.


"Kamu harus sabar duru, lagian Azzura pergi hanya sebentar."


"Dia tidak akan kembali karena Azzura sudah tahu hubungan kita!" balas Chiko mengungkapkan alasan Azzura pergi.

__ADS_1


"Apa! Dia sudah tahu?"


"Kabar yang sangat bagus, akhirnya Azzura pergi dari kehidupan Chiko tanpa harus ku turun tangan memisahkan mereka berdua."


__ADS_2