
Seorang wanita berumur tengah duduk tersenyum dan menunjukkan rasa terimakasihnya kepada seorang wanita muda yang selalu menemaninya selama di rumah.
"Tante berterima kasih kepada kamu karena sudah bersedia menemani Tante di sini. Makasih juga sudah mau membantu Tante dalam segala hal. Tante juga berterima kasih sudah mau mengurus Tante yang pernah sakit."
Wanita bernama THANIA itu tersenyum ramah. "Sama-sama, Tante. Dengan senang hati aku pasti akan membantu dan juga sudah kewajiban aku mengurus Tante selama Azzam tidak ada."
"Kalau bukan karena bantuan kamu beberapa bulan ini, mungkin Tante sudah meninggal." Wanita berumur dengan balutan gamis dan hijab itu merasa nyaman berada di dekat Thania, wanita yang mau merawatnya di kala sakit.
"Jangan bicara seperti itu, sakit, maut, kaya, dan miskin adalah kehendak Allah. Aku hanya perantara saja untuk menemani Tante di sini." Kedua wanita berbeda usia itu nampak akrab dan saling bertukar kata. Sampai salam dari seseorang mengalihkan pembicaraan mereka.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Wanita bernama Fatimah itu menengok ke arah pintu masuk, pun dengan Thania yang juga ikut menoleh.
Fatimah mematung tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Putranya, putra yang setelah lama pergi datang kembali dengan keadaan yang berbeda. Fatimah memperhatikan dia dari atas hingga wajah, "A-azzam!"
Fatimah pun berdiri menghampiri ingin memastikan lagi apa ini nyata atau tidak. Dia mendekati Azzam dengan mata berkaca-kaca.
"Ya Allah, Azzam. I-ini kamu?" Azzam mengangguk dan ia segera menggapai tangan mamanya menangis penuh penyesalan.
"Mah, maafkan Azzam sudah jadi anak durhaka. Azzam menyesal tidak mendengarkan Mama dan tidak nurut kata mama, Azzam mohon ampun, Mah." Pria itu terisak penuh penyesalan.
Fatimah berjongkok dan segera memeluk putranya. Tidak ada kata benci ataupun marah tersimpan dalam lubuk hatinya. Kalau kecewa memang ada, tapi bagi seorang ibu kembalinya sang putra merupakan kebahagiaan yang ia inginkan. Ini adalah keinginan Fatimah, doa Fatimah, dan permintaan Fatimah kepada sang pencipta untuk dikembalikan putranya dan di tunjukkan jalan kebenaran.
"Mama juga minta maaf, Azzam. Mama juga salah. Jangan pergi lagi, Nak. Mama tidak bisa kehilangan kamu. Mama sakit." Fatimah menangis haru bisa di pertemukan dengan putranya.
__ADS_1
Sedangkan Thania memperhatikan Azzam. "Jadi ini yang namanya Azzam, tampan juga. Jadi dia yang akan di jodohkan dengan aku." Thani tersenyum menunduk setelah melihat Azzam.
Fatimah melepaskan pelukannya, matanya beralih melihat balita yang ada di pangkuan Azzam sedari tadi diam tanpa suara.
"Ini?" tanya Fatimah penasaran.
"Dia Azriel, putra Azzam."
"Putra? Dia cucu mama dari wanita itu?" Azzam mengangguk, tapi ia takut putranya todak di terima karena lahir dari wanita yang tidak diharapkan oleh mamanya.
"Putra? Jadi dia sudah menikah?" batin Thania terkejut.
Fatimah mengusap lembut pipi Azriel yang begitu mirip Azzam. Semuanya mirip Azzam, tidak ada yang mirip dengan Ghina.
"Maaf, Mah. Azriel sulit beradaptasi dengan orang baru," ucap Azzam bernada bersalah.
"Tidak apa-apa, mama mengerti." Lalu, Fatimah berdiri memperhatikan putranya. "Kenapa kamu jadi seperti ini, Azzam?"
"Azzam ..."
*****
Di sebuah pemakaman, Azzura berjongkok mengusap batu nisan bertuliskan nama kedua orangtuanya.
"Di bawah batu nisan ini ku telah sandarkan kasih sayang kalian yang begitu tulus. Maafkan Azzura yang gagal dalam membina ruamhtangga. Azzura tidak bisa bertahan dalam cinta penuh pengkhianatan. Azzura tidak sanggup, mah, pah. Maaf, Azzura tidak bisa menjalani pesan dari kalian yang dulu pernah bilang untuk menikah satu kali seumur hidup. Azzura tidak bisa." Wanita muda nan cantik itu masih menunduk kembali terisak kecil.
__ADS_1
Hanya ini yang sering Azzura lakukan kala rasa sedih menghampiri. Dia sering banget mampir ke pemakaman untuk sekedar menenangkan diri.
Merasa lebih baik dan sudah lama berada di sana, Azzura beranjak pergi dari sana dam kembali ke taksi. Namun, langkahnya terhenti ketika seseorang kebetulan hendak keluar dari pemakaman dan kebetulan searah dengannya.
"Azzura, kamu disini?" tanya orang itu membuat Azzura menoleh ke belakang.
"Erik? Kamu?"
"Aku habis mampir ke pemakaman ibuku." Azzura mengangguk mengerti. Kebetulan pemakamannya tak jauh dari tempat orangtuanya Azzura.
"Mana Chiko? Kenapa sendirian?" pria bermata sipit bernama Erik itu celingukan mencari Chiko, temannya setongkrongan. Namun, mata Erik kembali tertuju pada Azzura dan memperhatikan Azzura dari atas hingga bawah.
Azzura tidak menyadari itu, ia menunduk kembali bersedih atas apa yang terjadi.
"Azzura, kok diam saja?"
"Aku dan Chiko sudah bercerai!" jawab Azzura berkata jujur pada teman mantan suaminya.
"Apa?! Bercerai?"
"Kabar yang sangat bagus," gumam Erik dalam hati dengan senyuman menyeringai.
*****
__ADS_1