PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 68. Selesai


__ADS_3

Kabar kecelakaan yang menimpa Chiko dan Ghina sudah menyebar luas ke seluruh penjuru kantor. Azzam dan Azzura yang hendak keluar untuk pulang pun sampai terdiam menyaksikan layar televisi yang memperlihatkan secara langsung bagaimana mobil yang di kendarai Chiko menubruk keras mobil lainnya.


TELAH TERJADI TABRAKAN MAUT DI PERAPATAN LAMPU MERAH TAGO APU. DIPERKIRAKAN KECELAKAAN INI DI PICU OLEH PENGENDARA UGAL-UGALAN HINGGA MENEROBOS LAMPU MERAH.


DARI KECELAKAAN INI DINYATAKAN DUA ORANG MENINGGAL DUNIA DI TEMPAT DAN TIGA PENGEMUDI LAINNYA LUKA-LUKA. SALAH SATU KORBAN TABRAKAN MAUT INI SEORANG WANITA HAMIL BERINISIAL G DAN SEORANG PRIA BERINISIAL C.


Azzura dan Azzam terlihat syok atas berita yang sedang hangat diperbincangkan hampir di seluruh televisi.


"Ya Allah, Mas. Itu seperti mobilnya Chiko?" Azzura mengenali betul mobil yang sudah rusak parah di bagian depan. Dia yang menemani Chiko membeli mobil itu tahu persis bahwa kendaraan yang sedang polisi adalah milik mantan suami.


"Kamu yakin itu mobilnya Chiko?" Azzam sendiri tidak terlalu yakin namun mengingat korbannya seorang wanita hamil dan pria, berpikiran jika itu Ghina dan Azzura.


"Aku yakin, Mas. Plat nomornya, warnanya, mobilnya, semuanya tahu kalau itu milik Chiko karena aku juga yang ikut memilih saat membeli mobil itu." Ada rasa ingin tahu mengenai kecelakaan ini. Ia ingin memastikan lagi keyakinannya atau perkiraannya salah.


"Mas, aku mau lihat mereka. Kita ke rumah sakit sekarang ya, aku mohon? Bagaimanapun juga Ghina adalah ibunya Azriel, dia juga pernah menjadi bagian terpenting dalam hidup mu. Kita kesana ya, Mas." Azzura memohon kemurahan hatinya Azzam.


Azzam mengangguk mengerti, ia juga penasaran mengenai kabar itu dan ingin tahu benarkah yang mengalami kecelakaan yang Ghina atau bukan.


"Baiklah, ayo kita ke rumah sakit sekarang juga." Dan Azzam maupun Azzura berlalu dari sana. Azriel juga ikut dengan mereka.


Pas baru keluar ruangan kerjanya, mereka berpapasan dengan Fatimah yang juga mendapatkan kabar kecelakaan itu.


"Kalian mau kemana?" tanya Fatimah.


"Kami mau ke rumah sakit, Mah. Mau memastikan semuanya," kata Azzam.


"Mama ikut, Mama juga ingin tahu."


Pada akhirnya mereka bertiga berangkat bersama-sama ke rumah sakit.

__ADS_1


*****


Setibanya di rumah sakit, Azzam dan yang lainnya langsung bertanya kepada resepsionis mengenai kecelakaan maut.


"Korban kecelakaan tabrakan maut sudah ada di ruangan jenazah," katanya.


Setelah mendapatkan informasinya, mereka bertiga kembali berjalan ke ruang mayat. Karena sudah dipersilakan dan ada salah satu yang menuntun, Azzam, dan Azzura masuk ingin melihatnya. Azriel dan Fatimah sendiri ikut masuk sebab Azriel ternyata tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah sakit dengan alasan anak-anak di larang masuk.


Azzam menyibak kain yang menutupi mayat, pun dengan azura yang juga ikut menyibak kain milik Chiko. Mereka sama-sama tertegun syok atas apa yang ia lihat.


"Ya Allah, Chiko, Ghina." Ternyata itu memang mereka dan mereka dinyatakan meninggal dunia tepat di tempat kejadian perkara. Anak yang dikandung Ghina pun dinyatakan meninggal dalam kandungan.


Azzam dan Azzura tidak menyangka kalau keduanya mengalami musibah seberat ini. Mereka tidak pernah berpikir kalau hidup Ghina dan Chiko bakalan berakhir setragis itu.


Mati rahasia ilahi, umur tidak ada yang tahu. Kapan kita akan meninggal, dimana kita meninggal, dan pada kejadian apa kita meninggal tidak ada yang tahu selain sang pemilik alam. Semua sudah memiliki garis takdir masing-masing.


*****


Sama seperti kehidupan rumahtangga Azzam dan Azzura. Banyak hal yang sudah keduanya lewati meski dan banyak yang mereka lakukan bersama.


Tiada hari tanpa senyum bahagia menghiasi wajah Azzam. Dan kali ini kebahagiaannya bertambah setelah Azzura dinyatakan hamil dan usia kandungannya ternyata sudah dua bulan. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?


"Istri saya beneran hamil, Dokter?" tanya Azzam kepada dokter wanita yang saat ini memeriksa keadaan istrinya.


"Iya, Pak. Istri Anda sedang hamil. Saya akan memberikan resep vitamin untuk ibu dan anaknya." Dokter itu pun mencatat obat buat Azzura.


Kehamilan yang pertama tidak membuat Azzura mual, pusing, ataupun merasakan hal lainnya. Justru anteng tidak seperti wanita hamil pada umumnya yang sering ngidam mual pusing.


Azzura memeriksakan dirinya karena ia tak kunjung datang bulan juga. Dan Fatimah menebak kalau Azzura hamil, maka mengetahui hasilnya. Ternyata benar, Azzura sudah mengandung dan hal itu tidak Azzura sadari.

__ADS_1


*****


Kabar bahagia ini ingin Azzura dan azzam sampaikan ke Fatimah. Setibanya di rumah, keduanya langsung di tanya oleh Fatimah.


"Gimana dengan hasilnya, Zam? Apa Azzura beneran hamil?" Fatimah sudah tidak sabar menunggu kabar ini.


"Alhamdulillah, Mah. Hasilnya positif, ternyata Azzura sudah mengandung dua bulan." Azzam memberitahukan perihal kehamilannya Azzura dengan binar wajah yang terlihat sangat bahagia.


"Alhamdulillah ya Allah, Azriel akan punya adik." Fatimah bersyukur seraya menatap cucunya.


"Dik?" ujar Azriel sudah mulai belajar bicara. Balita lima belas bulan itu sudah bisa memanggil ibunya dan ayahnya.


"Iya, adik. Adiknya Azriel."


Kebahagiaan itu mereka rasakan bersama-sama.


Azzura memperhatikan haru keluarga barunya. Dia merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan setelah kepergian orangtuanya.


"*Terkadang kita sering mengeluh tentang kehidupan yang kita jalani ini, tapi tanpa kita sadari Allah sedang menyiapkan jalan hidup yang bermacam-macam. Setiap orang pasti memiliki jalannya masing-masing, mau kemana dia melangkah, mau kemana dia memilih jalan, itu adalah hak mereka. Namun, jika kita memilih jalan terbaik dan melibatkan segala hal dengan Tuhan dan hati, pasti jalan yang kita tempuh adalah pilihan terbaik.


Sama halnya dengan jalan yang ku pilih. Aku memilih seperti ini karena memnag hatiku yang menginginkan dan takdir yang mendukung. Aku pun meyakini kalau Allah akan selalu ada bersama hambanya yang beriman.


Ya Allah, dengan segenap hati dan keyakinan ku ini, aku menyerahkan hidupku dan mati ku hanya untukmu. Insyaallah, aku akan terus berada di jalanmu dengan garis yang telah engkau tentukan.


Untuk mereka yang pernah mengkhianati ku, tanpa kalian aku tidak mungkin merasakan kebahagiaan ini. Aku bisa begini atas bantuan kalian. Terima kasih sudah memberikanku banyak pelajaran, tiada hal yang tidak ku sesali dalam hidup ini. Aku bahagia dan aku bersyukur atas apa yang terjadi padaku. Ini kisah ku, ceritaku, dan takdir hidupku*," kata Azzura dalam hati tersenyum di balik cadarnya.


Azzam merangkul pundak istrinya dan mengecup pucuk kepala sang istri. "Terima kasih sudah menemaniku, semoga kita selalu bersama selamanya."


Namun, sekalipun mereka bersama pasti akan adakalanya pertengkaran dan lain sebagainya. Namanya juga rumahtangga, pasti akan ada saja hal hal lain sebagai bumbu pelengkap rumahtangga itu sendiri.

__ADS_1


TAMAT .....


__ADS_2