
"Hei! jangan bicara asal kalian." Ghina tidak terima di tuduh begitu.
"Kami tidak asal bicara jika tidak melihat kamu muntah-muntah seperti itu. Tadi Chiko juga bilang disuruh gugurkan berarti itu tandanya kamu sedang hamil, Ghina!" seru Bu Nining.
"Sudah, daripada terus berzina kita nikahkan saja mereka!" suara Bu Onih begitu menggema sampai membuat orang-orang di sekitar sana penasaran dan mendengar apa yang sedang terjadi.
"Saya tidak mungkin menikahi wanita ini. Saya menunggu Azzura pulang dan kami akan tetap menjadi suami istri." Chiko menolak sekalipun Ghina mengandung. Tidak peduli dengan hal itu karena yang ia inginkan saat ini menerangkan diri dulu atas kehilangan Azzura dan dia masih berharap Azzura datang kepadanya. Chiko meyakini jika wanita itu akan kembali lagi.
"Apa yang kamu katakan Chiko? Kamu tidak akan menikahi Ghina yang sudah jelas hamil?" seru Bu Nining.
"Tunggu, tunggu! Ini ada apa ribut-ribut di sini?" tanya seorang pria.
"Pak RT, Ghina hamil dengan Chiko. Itu artinya selama ini mereka sudah melakukan Zina. Ini tidak bisa di biarkan, Pak RT. Mereka harus di nikahkan!"
"Bagaimana mungkin aku menikahi wanita ini? Kita tidak mungkin bersama karena kita beda agama," kata Chiko berharap dengan perkataannya mampu meredamkan para warga untuk tidak memaksa dia menikahi Ghina.
Mereka terdiam menyadari kalau keduanya berbeda. Dan kebingungan pun tersemat dalam benak mereka bersama.
"Aku mau menikah dengan Chiko," ujar Ghina membuat mereka memandang ke arahnya. "Aku akan menikah dan memilih pindah agama sesuai agama yang Chiko ikuti."
"Apa?!"
"Astaghfirullah!"
__ADS_1
Mereka tercengang sekaligus tidak percaya kalau Ghina memutuskan mengikuti Chiko. Namun, mereka tidak mungkin menghakimi keputusan seseorang apalagi ini menyangkut soal keyakinan yang mereka anut.
"Nah, Ghina sudah memutuskan pilihannya. Sekarang kau harus menikahi Ghina! Kami tidak ingin ada perzinahan di tempat tinggal kami."
"Tapi aku todak yakin Ghina mengandung. Paling juga dia sedang mual biasa. Aku tidak percaya itu," ujar Chiko melakukan keadaan Ghina saat ini.
"Untuk meyakinkannya, bagaimana kalau kita bawa Ghina ke klinik terdekat? Sekalian bawa Chiko juga biar dia tahu hasilnya." Bu Onih memberikan saran yang ternyata disetujui para warga.
"Setuju, kami setuju dengan saran Bu Onih. Sekarang bawa mereka ke klinik!"
Dan Ghina maupun Chiko tidak bisa mengelak di saat para warga berbondong-bondong membawa mereka ke klinik untuk memastikan kehamilan Ghina benar atau tidaknya.
*****
Seorang ibu tengah di sibukkan oleh kegiatan mempersiapkan lamaran. Fatimah begitu semangat dalam mengurus segala hal. Dia mengundang desainer cincin ke rumahnya guna memilih cincin pernikahan.
Azzam yang melihat keantusiasan mamanya menjadi tidak tega untuk membatalkan pernikahan itu.
"Mah, ini gak terlalu terburu-buru?"
"Tidak Azzam, ini sudah sangat tepat. Sekarang kamu pilih cincin mana yang cocok buat kalian." Fatimah melihat banyak sekali model cincin yang bagus. "Sekarang Thania sedang dekat dengan Azriel. Mama yakin keluarga mereka tengah memperlakukan Azriel sangat baik."
Fatimah sengaja membiarkan Thania membawa cucunya ke rumah Thania demi bisa membuat keduanya saling memiliki ikatan. Awalnya Azam tidak mau sebab Azriel menangis. Tapi mamanya percaya pada Thania dan mampu membuat Azriel dekat dengan Thania.
__ADS_1
"Berhubung putramu ada yang menjaga, kamu pilih cincinnya dan mama pilih baju yang cocok buat kalian menikah nanti."
Tidak bisa menolak dan tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti keinginan ibu kandungnya. Berkaca dari pernikahan sebelumnya membuat Azzam mau mengikuti mamanya. Dia meyakini pilihan orangtua adalah yang terbaik untuk anaknya. Namun, Azzam tidak pernah tahu jika semua yang terjadi ada yang memiliki dan mengatur, tuhan-NYA.
*****
"Mama tidak sabar kamu menikah dengan Azzam. Di itu dari keluarga kaya, pastinya akan membuat kamu bahagia dan juga hidup kamu akan terjamin. Jangan lihat cacat atau tidaknya, yang penting mereka kaya."
"Aku sih boleh saja, tapi aku malas harus mengurus bayi rewel ini." Thania sedang mencoba menenangkan Azriel yang terus memberontak dan menangis memanggil mama.
"Mamamma huaaa..."
"Diam! Berisik banget sih jadi balita!" sentak Thania kurang menyukai anak kecil.
"Ini resikonya, Thania. Kamu harus bisa kalau kamu mampu membuat anak ini takut sama kamu." Wanita itu beralih mengambil Azriel, tapi Azriel bertambah menangis kencang.
"Berisik! Menyusahkan sekali jadi balita! Kepala mama rasanya pusing mendengar tangisan dia."
"Aku juga sama, Mah. Lebih baik aku antarkan saja dia."
"Jangan! Taruh saja anak itu di lantai, nanti juga berhenti menangis."
Thania pun menyimpan Azriel di lantai. Anak itu menangis tersedu-sedu seraya memanggil mama.
__ADS_1
"Mamama huaaa..."