PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
Bab 90. Papa Joan


__ADS_3

"Papa?" lirih Aqila tanpa melepaskan tatapannya dari Joan yang masih setia berdiri di lantai dua. Lama keduanya saling beradu tatapan sebelum Aqila mengakhiri dan beralih menatap mamanya.


"Bagikan kebahagiaanmu juga padanya Nak. Sebesar apapun kesahalan seorang ayah, seorang anak tidak bisa membencinya terlalu dalam. Mungkin mantan suami sudah terdengar familiar diluar sana, tapi tidak ada yang namanya mantan papa." Nasehat Kinanti yang juga menyadari keberadaan Joan.


Aqila mengangguk patuh. "Qila ke atas dulu ma."


Gadis yang sebentar lagi akan menikah tersebut berjalan perlahan mendekati ayahnya dengan keraguan dalam hati. Kalau saja hubungan mereka baik-baik saja mungkin sekarang Aqila akan berlari kepelukan papanya dan berteriak histeris membagikan kabar bahagia.


"Papah."


"Selamat Sayang, dan maaf karena papa sudah lancang memisahkan kalian."


Aqila mengelengkan kepalanya. "Setiap kejadian akan selalu ada hikmah di dalamnya, begitupun dengan perpisahan Qila dan Al, Pah. Dengan perpisahan ini Qila jadi tahu bahwa kepercayaan dalam sebuah hubungan sangatlah diperlukan. Bicara empat mata dan mengedepankan ego juga utama."


"Sebentar lagi Qila akan menikah dan Alden akan datang meminta restu mama dan Papa. Qila harap papa memberikan restu demi kebahagiaan kami." Aqila tersenyum samar. Membalik tubuhnya untuk masuk ke kamar sambil mengusap air matanya yang keluar tanpa bisa dicegah.


Sesampainya di dalam kamar, Aqila menyandarkan tubuhnya pada pintu lalu merosotkan tubuhnya ke lantai.

__ADS_1


"Ak-aku ingin kalian bersatu lagi tapi aku juga tidak ingin mama menderita." Tangisan bahagia yang sejak tadi tercipta kini berubah menjadi tangisan penderitaan untuk Aqila sendiri. Terlebih saat melihat tatapan dan penampilan ayahnya yang jauh dari kata baik-baik saja sejak pertengkaran itu.


"Andai kesalahan papa bukanlah pengkhianatan, mungkin aku bisa membujuk mama agar tidak bercerai. Tapi kesalahan papah terlalu besar untuk dimaafkan oleh seorang wanita sebaik mama."


***


Menangis semalaman sebelum tidur, membuat mata indah Aqila menjadi sembab. Hal itu membuat Alden yang lagi-lagi sarapan dirumah atas undangan Kinanti menatap kekasihnya aneh.


"Kenapa, Sayang?" tanya Alden setelah Kinanti meninggalkan meja makan.


Aqila mengelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Tidak Al, semalam aku menangis karena drama yang aku tonton sad ending."


"Serius?"


Aqila menghela nafas panjang, kenapa Alden begitu peka akan semua yang dia alami? Ini membuat Aqila susah menghindari jika ada masalah. Gadis itu senyum kikuk ketika tangannya yang berada di atas meja di genggam oleh Alden, bahkan mengelusnya perlahan.

__ADS_1


"Masalah apapun itu dan sekecil apapaun itu harus kamu bicarakan sama aku Qila. Kita sebentar lagi akan menikah, keterbukaan satu sama lain di perlukan."


"Keterbukaan?" tanya Aqila karena kalimat terakhir Alden sedikit ambigu. Sulit dipungkiri wajah Aqila memerah menahan malu.


Gadis itu mengusap keningnya yang baru saja disentil oleh Alden. "Sakit." Manjanya.


"Otak kamu kemana hm? Keterbukaan pikiran Sayang. Tapi kalau buka-bukaan yang lain juga bisa, kan kita sudah menikah." Goda Alden menaik turunkan alisnya yang semakin membuat pipi Aqila merona.


"Belum nikah!"


"Tapi sebentar lagi Sayang. Ah iya sebentar malam aku akan datang lagi secara resmi untuk melamarmu di depan mama dan papa. Tidak perlu dandan yang cantik, soalnya Randi bakal ikut sebagai wali aku."


"Kenapa?"


"Aku takut dia jatuh cinta padamu."


"Posesif mode on."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2