
"Zahra?"
"Iya, wanita yang membuka panti asuhan di tempat kami dulu. Yang bercadar itu."
"Mama mau menjodohkan aku lagi dengan wanita lain? Tidak, Mah. Aku tidak mau!" Azzam berdiri dan ia menak di jodohkan.
"Zam, kali ini pilihan mama pasti terbaik untukmu. Mama sendiri sudah kenal dia dan sudah tahu sifat dia. Dia juga baik sama Azriel dan Azriel begitu menyukainya."
"Tapi tetap saja Azzam tidak mau di jodohkan, Mah."
"Kamu tidak kasihan pada Azriel yang menginginkan sosok ibu? Dia masih kecil dan masih butuh kasih sayang seorang ibu. Sekalipun kamu mampu memberikan kasih sayang untuk dia, memberikan cinta untuk dia, dan kita mampu memberikan apapun yang mereka mau, tapi Azriel tetap butuh sosok itu di sampingnya."
"Tapi masa harus di jodohkan, mah. Azzam hanya ingin menikah dengan orang yang mau menerima ku bukan dari apa yang ku miliki."
"Gini saja, kamu menikah dulu dengannya dan kamu tes dia. Kalau soal Azriel mama yakin ini cocok untuk putramu dan mama juga yakin ini pasti cocok untuk kamu. Dan Mama yakin kamu bakalan cinta sama dia." Fatimah berdiri di dekat Azzam.
"Bagaimana Mama begitu yakin sama dia?"
"Karena mama sudah melakukan istikharah buat kamu dan dia hadir secara berturut-turut. Nak, pikirkan Azriel. Mau kan?" Fatimah harap Azzam mau dan ini demi mereka.
"Terserah Mama saja."
Fatimah tersenyum senang. "Kalau begitu Mama akan membicarakan ini pada ibunya dulu."
Fatimah mengambil ponselnya, dia menghubungi umi Qulsum dan membicarakan perihal perjodohan yang telah mereka sepakati.
*****
"Baiklah, nanti aku akan bicarakan ini sama Zahra. Nanti aku kabarkan lagi."
"Makasih ya, mudah-mudahan Zahra mau. Tapi, jangan bang ini dariku dan jangan bilang juga putraku yang menjadi calon suaminya. Biar mereka ketemu pas sudah akad saja."
"Iya,kau ini ada-ada saja." Umi Qulsum pun berpamitan dan mengucapkan salam serta menutup sambungannya.
Dia beranjak ke madrasah guna menemui Azzura yang sedang belajar mengaji.
Setibanya di sana, Umi Qulsum memperhatikan serta mendengarkan suara merdu Azzura.
"Masyallah, indah sekali." batinnya.
"Soddakawllahuladzim."
"Masyallah, bacaan kamu sudah betul semuanya. Tajwid, dan bacaan hurufnya juga sudah benar," kata umi membuat Azzura menoleh.
"Eh umi, Assalamualaikum." Sapa Azzura menyalami umi Qulsum.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Kamu semakin pandai, Zahra."
"Alhamdulillah Umi. Ini berkat bantuan umi dan yang lainnya. Terima kasih atas didikan dan kesabaran yang kalian lakukan untukku."
"Sama-sama sayang, ini sudah menjadi kewajiban kita saling membantu. Tetap seperti ini ya, tetap Istiqomah."
"Insyaallah, Umi. Tegur aku jika aku berbuat salah."
"Insyaallah." Mereka pun banyak bicara hingga Umi Qulsum mulai bertanya mengenai jodoh.
"Nak, Umi sudah tua. Sebelum umi meninggal, Umi ingin sekali melihat kamu menikah."
Deg.
"Umi bicaranya jangan gitu." Azzura sudah menganggap Umi Qulsum sebagai ibunya.
"Umur tidak ada yang tahu, Zahra. Semuanya rahasia Allah. Kalau boleh, umi ingin melihat kamu menikah, bagaimana?"
"Umi, seperti yang Umi bilang, jodoh, maut, rezeki, umur, Allah yang mengatur. Jika Zahra ditakdirkan untuk berjodoh seseorang, Zahra tidak mungkin bisa menolak selama itu pilihan yang Allah berikan. Dan jika memang ada orang yang bersedia menjadi imam Zahra, insyaallah Zahra siap atas izin Allah pastinya." Yang dimaksud izin Allah itu, dia melakukan istikharah terlebih dulu meminta petunjuk dari yang maha kuasa.
"Alhamdulillah, jadi kamu mau?"
"Mau apa?"
Deg.
"Umi, izinkan Zahra ber istikharah dulu."
"Silahkan sayang, Umi tunggu jawaban kamu."
Mendengar kesediaan Zahra membuat Umi Qulsum bahagia. Tidak lupa juga dia memberitahukan Fatimah perihal Azzura.
*****
Tiga hari kemudian.
Azzura menghela nafas, ia sudah yakin dengan pilihannya dan ia yakin jika itu pertanda memang pria itu yang terbaik untuknya, "insyaallah," gumam Zahra sambil melangkah ke rumahnya umi Qulsum.
"Assalamualaikum."
Umi yang sedang duduk sambil membaca kitab langsung mendongak. "Waalaikumsalam. Zahra, mari sini!"
"Maaf Umi, aku mengganggu waktu Umi." Azzura duduk di kursi dekat samping.
"Tidak apa-apa, sayang." Lalu Umi Qulsum membereskan dulu buku-buku yang ia baca.
__ADS_1
"Hmmm Umi, ada hal ingin aku bicarakan mengenai pria pilihan Umi."
Umi Qulsum langsung menoleh dan menatap dalam Azzura. Dia penasaran apa yang akan Azzura katakan.
"Insyaallah aku siap menerima jodoh pilihan Umi."
"Alhamdulillah, kamu yakin?" dia meyakinkan lagi.
"Insyaallah yakin."
"Alhamdulillah, selamat ya sayang." Umi Qulsum langsung memeluk Azzura. Dia bersyukur atas apa yang menjadi keputusan Azzura. Dia juga berharap kebagian menghampiri Azzura bersama orang-orang yang dekat dengannya kelak.
*****
Fatimah tersenyum bahagia mendengar informasi yang ia dapatkan dari Umi Qulsum. Sekarang dia meyakini kalau pilihannya kali ini adalah yang terbaik. Tidak ingin melihat masa lalunya Azzura, tapi melihat Azzura yang sekarang.
"Azzam, hari ini juga kita akan ke kota B." Fatimah sampai tergesa ke tempat Azzam kerja. Azriel yang juga anteng sedang belajar berdiri di tempat yang telah Azzam sediakan langsung terkejut kaget.
"Mah, Azriel sampai kaget gitu."
"Maaf, mama senang sekali. Wanita yang akan menjadi calon istri kamu sudah setuju, hari ini juga kita akan ke sana dan malam ini juga kamu langsung melakukan ijab qobul."
"Apa? Secepat itu?"
"Iya, kalian kan bisa melakukan akad dulu, setelah itu baru menggelar pesta pernikahan kalian kalau kamu sudah yakin ingin memperkenalkan istrimu ke seluruh orang."
"Mah, ini terlalu cepat, segala sesuatu itu butuh proses termasuk proses nikah."
"Kamu tenang saja, Mama sudah mengatur semuanya dan mama sudah mendaftarkan kamu dengan dia ke kantor urusan agama. Semua sudah beres tinggal melakukan ijab qobul saja." Fatimah tersenyum menceritakan segala rencana yang telah ia persiapkan.
"Mama seriusan?" Azzam tidak menyangka memangsa antusias ini sampai-sampai semuanya sudah selesai. Itu artinya pernikahan mereka pasti akan tercatat di negara.
"Seribu kali serius. Udah, sekarang kita kesana dan segera ijab qobul. Mama sudah tidak sabar membawa dia ke rumah ini dan memperkenalkannya pada semua orang kalau dia menantu mama."
"Mama terlihat bahagia dan yakin kalau dia jodohku. Apa kali ini Mama tidak salah pilih lagi? Ya Allah, sebenarnya aku juga penasaran wanita yang dimaksud mama itu."
"Udah, jangan banyak mikir! Mama jamin kamu tidak akan menyesal. Sekarang kita siap-siap ke sana." Fatimah mengambil Azriel dan akan mempersiapkan keperluan balita itu.
Azzam tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti keinginan mamanya. Entah kenapa kali ini hatinya mengizinkan dan mendorong dia untuk menerimanya, tidak seperti waktu itu yang sangat keberatan.
"Semoga ini pilihan yang terbaik, aamiin."
*****
__ADS_1