PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 36


__ADS_3

Azzam diam di saat mamanya meminta dia untuk menikah dengan Thania, wanita yang mamanya pilihkan dan sediakan untuk menjadi jodoh sekaligus ibu untuk Azriel. Namun, hati Azzam belum siap menikah lagi dikarenakan dia belum mau menikah dan juga merasa tidak menginginkan Thania.


Mungkin, kepada Azzam Thania selalu baik, selalu perhatian, sering memberikan makanan hasil masakannya, tapi Azzam meragukan ketulusan Thania terhadap putranya. Terbukti dari banyaknya hari dan pertemuan, hanya kepada Azzam saja Thania latihan, tapi kepada putranya selalu enggan mendekati dengan alasan Azriel tidak mau padanya. Padahal jika Thania yakin untuk menikah dengan Azzam, Thania harus dekat dengan putranya dan harus menyayangi putranya.


"Menikah?" ujar Azzam menatap mamanya.


"Iya, Nak. Menikah dengan Thania. Mama ingin pernikahanmu dipercepat dan tidak berlama-lama lagi. Menurut Mama Thania sudah cocok dan pas menjadi istrimu dan mama yakin dia juga akan menjadi Ibu yang baik untuk putra mu."


"Mah, Mama tahu kan kalau Azzam baru saja bercerai dengan Ghina dan baru saja azzam menyandang status gelar duda selama satu bulan? Itu artinya masih ada duka yang menyelimuti hati Azzam dan Azzam masih belum siap menikah lagi. Untuk Azriel sendiri, biarkan Azzam yang mengurusnya. Lagian aku tidak pernah lihat Thania memperlakukan Azzam baik, dia selalu cuek dan hanya perhatian padaku saja."


"Sial, jadi selama ini dia masih belum bisa menerima keberadaan ku di sisinya? Jadi perhatian yang ku berikan tidak mempan menyentuh hatinya. Kurang ajar, sok jual mahal sekali pria cacat ini. Kalau bukan karena kaya, aku tidak mau mendekati pria cacat, memalukan.


"Azzam, sudah berada kali mama bilang ikuti perintah Mama. Mama hanya ingin yang terbaik buat kamu dan Azriel."


"Mah please, jangan paksa Azzam." Azzam memelas dengan tatapan memohon.


"Tante, jangan paksa Mas Azzam. Dia benar, Tante. Kuta baru kenal dan tidak mudah buat Mas Azzam untuk melupakan mantan istrinya." Thania berkata lembut dengan wajah terlihat murung dan menunduk, sedangkan hati menggerutu kesal.


"Tidak Nak, justru dengan menikah lagi Azzam pasti akan bisa melupakan wanita itu. Seiring berjalannya waktu, pasti Azzam akan menyukai." Fatimah menggenggam tangan Thania, lalu matanya menatap Azzam.


"Zam, Mama mohon menikahlah lagi. Demi mama," ujar Fatimah terlihat sekali begitu mendamba jawaban sang putra. Alasan Fatimah menginginkan Thania menjadi menantunya karena Thania ada di saat Fatimah sakit dan juga mau mengurusnya. Pikiran seorang ibu berkata, kau seorang wanita mau merawat ibu dari pria, itu artinya dia calon istri yang baik. Fatimah meyakini jika Thania jodoh yang pas untuk Azzam.

__ADS_1


Azzam kebingungan, ia belum siap tapi melihat mamanya memohon begitu menjadi tidak tega. Sekian tahun meninggal ibu kandungnya dan memilih Ghina, membuat Azzam tidak ingin mengalami hal yang sama.


"Baiklah, Azzam akan ikuti keinginan mama. Aku akan berusaha menjalankan pernikahan itu dan akan berusaha membuka hati untuk Thania. Namun, aku minta Thania bisa menyayangi Azriel seperti putranya sendiri."


"Tentu, tentu bisa. Thania baik, pasti Azriel akan nyaman bersamanya dan Thania juga pasti akan menyayangi cucu mama." Fatimah tersenyum lebar merasa bahagia putranya mau mendengarkan dan mau menerima jodoh pilihannya.


"Insyaallah, Mas. Aku akan menyayangi Azriel seperti anakku sendiri," kata Thania tersenyum senang.


"Menyayanginya? Tentu saja akan ku lakukan demi mendapatkan perhatian kamu Azzam."


*****


Azzura, semenjak dia tinggal di lingkungan pesantren. Azzura masih tetap menyandang status sebagai non muslim. Meskipun diam-diam ia sering belajar dan sering mendengarkan ceramah, mendengarkan para santri mengaji, dan juga terkadang ikut belajar, Azzura masih belum yakin untuk berpindah agama.


Qola Muhammadun Huwabnu Maliki


AhMadu Robbillaha Khoiro Maliki


Musholliyan Alannabiyyil Musthofa


Wa alihil Mustak MilinNas sharofha

__ADS_1


Begitupun seterusnya, nadom alfiyah ini terus di baca dengan nada indah sampai Azzura yang sedang duduk menunggu warung pun terdiam mendengarkan.


"Indah sekali," gumam Azzura menunduk meresapi setiap lantunan merdu yang para santri lantunkan.


Hingga suara pria mengagetkan Azzura.


"Assalamualaikum," ucapnya begitu lembut.


Azzura mendongak, "waalaikumsalam. Eh, Bang Ahmad. Ada yang bisa Azzura bantu?"


Pria bernama Muhammad Al'imran itu tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, hanya saja aku tertarik melihat kamu menikmati nadoman anak-anak."


"Soalnya enak di dengar. Oh iya, Bang Ahmad mau beli apa?" Azzura membuka warung karena di sana tidak ada warung terdekat. Barang-barangnya ada di dalam rumah dan di gantungkan di pinggir jendela kaca.


"Tidak ada, hanya ingin melihat kamu saja." Ahmad melirik sebentar, lalu menunduk malu. Dia adalah putra kedua Umi Qulsum yang belum menikah.


Azzura mengerutkan keningnya. "Bang maaf ya, ini tidak baik di lihat orang." Azzura tidak enak hati.


"Eh, astaghfirullah! Maaf, maaf, aku lupa. Kalau begitu aku pamit dulu ya. Assalamualaikum." Ahmad segera pergi dari warungnya Azzura karena takut kepergok para santri yang hendak jajan.


Tidak ada lagi Azzura yang berpakaian sexy. Kini Azzura berpakaian sopan dan sekalu mengenakan baju panjang, tapi tidak berkerudung.

__ADS_1


"Apa kamu punya hubungan dengan Ustadz Ahmad?" tanya seseorang.


Azzura menoleh, "Ning Anisa!"


__ADS_2