PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 33. Bingung part 2


__ADS_3

Azzam menghubungi lagi orang yang ia suruh untuk mengantarkan Azzura. Baru saja ingin menelpon, orangnya sudah menghubungi duluan.


"Halo, bagaimana?"


"Dia sudah tidak ada di tempat, Pak. Kami kehilangan jejaknya dan kami tidak tahu kemana dia pergi," kata orang itu memberitahukan bahwa Azzura sudah pergi.


"Apa? Ya Allah, mudah-mudahan saja Azzura baik-baik saja. Ya sudah, terima kasih sudah bersedia saya repotkan." Lalu, Azzam mematikan ponselnya. Dia tidak turun dari kursi roda dan berdiri menghampiri putranya.


*****


Setelah menaiki bus jurusan kota B, Azzura kembali menaiki taksi tepat dini hari. Menjelang subuh, Azzura sampai di kota B. Kota tempat dimana dia di besarkan dari kecil hingga beranjak dewasa. Lebih tepatnya setelah kepergian kedua orangtuanya, Azzura di besarkan di panti asuhan yang ada di kota B.


Setelah sampai, Azzura turun dan membayarnya. Dia kembali menyeret kopernya hendak memasuki panti yang dulu ia tempati. Namun, Azzura di buat bingung karena panti itu terlihat sepi dan tidak berpenghuni.


"Loh, kemana para penghuninya? Bukannya dulu sangat ramai? Kemana mereka pindah?" gumam Azzura tidak mengerti dan kebingungan mau mencarinya lagi kemana. Sudah lama sekali Azzura tidak mampir ke sana semenjak tiga bulan ini. Sekarang, kembali ke panti itu sudah tidak ada penghuninya.


Entah pindah atau mungkin saja ada hal terjadi kepada mereka, Azzura tidak tahu. Namun, satu hal yang Azzura tahu jika tidak mungkin mereka pergi kalau tidak terjadi sesuatu.


Sekarang dia bingung mau kemana lagi. Hari juga masih pagi, belum siang. Azzura hanya beristirahat dalam bus saja. Dia duduk dulu di bangku kayu yang ada di bawah pohon kersen. Dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Baru jam lima pagi. Apa ada kontrakan di sekitar sini?" Azzura mengedarkan pandangannya. Hampir setengah jam Azzura beristirahat di sana. Hingga ia mendengar suara lantunan ayat suci dari mesjid terdekat membuat Azzura diam mendengarkan.


Azzura meresapi setiap ayat yang dibaca oleh orang itu. Hatinya mendadak tenang, padahal Azzura tidak tahu apa yang di baca, tapi ia tahu jika itu adalah bacaan ayat suci. "Menenangkan sekali."

__ADS_1


Merasa lebih tenang dan lebih baik, Azzura pun kembali melanjutkan perjalanan mencari sebuah kontrakan terdekat di sana. Namun, baru saja menjauh dari tempat itu, tiba-tiba hujan turun membasahi bumi. Di musim penghujan begini hampir setiap saat hujan dan hampir setiap hari tidak ada sinar matahari.


Azzura berlari ke salah satu tempat teduh dan ia berteduh di sana. Namun, ia mendengar suara seseorang dan Azzura menoleh. Nampak seorang wanita berpakaian tertutup dan mengenakan hijab tengah melantunkan sesuatu yang tidak ia ketahui.


Perlahan, Azzura mendekat dan duduk di dekatnya sambil menunggu hujan reda. Azzura mendengarkan dan ia merasakan sebuah ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


"Nyanyian apa yang ibu itu nyanyikan? Lalu buku apa yang ada ditangannya? Aneh sekali, tapi hatiku tenang dan telingaku ingin sekali mendengarnya."


Azzura memejamkan mata menikmati suara indah dari wanita di sampingnya.


"Soddawallahuladzim." Azzura memperhatikan pergerakan wanita itu yang sedang menutup buku di tangannya dan mengecup bukunya, lalu menempelkannya ke pucuk kepala.


"Aneh sekali."


Azzura pun tersenyum dan mengangguk. "Iya, Bu."


Wanita itu memperhatikan barang bawaan Azzura. "Hendak kemana bawa koper? Ini masih pagi, Nak."


"Oh itu, aku hendak mencari kontrakan sekitar sini, tapi malah ke pegat hujan. Ibu sendiri kok ada di luar?" Azzura mengira ini rumah ibu itu sehingga ia merasa heran ada pemiliknya di luar.


"Saya kebetulan sedang berteduh. Tadi kendaraan yang saya tumpangi kempes ban, karena hujan tiba-tiba turun dan kebetulan tidak membawa jas hujan, akhirnya saya berteduh di sini," jelas wanita itu.


Azzura mengangguk. "Emangnya ibu habis dari mana?"

__ADS_1


"Habis mampir ke rumah saudara dan hendak pulang ke rumah. Kamu sendiri darimana dan mau kemana?"


"Aku dari kota J mau ke panti asuhan harapan indah. Namun, pas kesini sudah tidak ada."


"Atuh sudah tidak beroperasi lagi. Itu panti non muslim 'kan?" Azzura mengangguk. "Katanya pemilik pantinya sudah meninggal dan pantinya jadi terbengkalai. Sedangkan anak-anak yang ada di sana sudah di pindahkan ke kota."


"Ya Tuhan. Pantas saja aku tidak bisa menemukan mereka." Azzura menyesal tidak tahu menahu tentang tempat dia dulu tinggal. Dua tahun tidak kembali membuat Azzura menyesali tidak perhatian. Ia hanya sering mengirimkan donatur saja mampir.


"Tapi pas satu bulan yang lalu aku masih bisa mengirimkan donatur."


"Masyallah, kamu donatur di panti itu?" Azzura mengangguk. "Alhamdulillah. Nak, pemiliknya meninggal tiga Minggu yang lalu. Karena panti itu berdiri di atas lahan orang lain, sang pemilik tanah mau menjualnya. Makanya anak-anak panti di pindahkan."


Azzura tidak bisa berkata-kata selain merasakan kesedihan dan penyesalan.


"Hmmm boleh aku tanya sesuatu?" tanya Azzura.


"Mengenai apa?"


"Bacaan yang tadi ibu baca."


*****


__ADS_1


__ADS_2