
Aqila dan Alden mamasuki ruang intesif setelah mematuhi protokol dari dokter. Sejak tadi Alden terus saja mengenggam tangan Aqila sampai di sisi brangkar Viona terbaring.
"Kamu nyariin aku?" tanya Aqila dengan senyum hangatnya.
Viona mengangguk samar sambil menatap Alden dan Aqila secara bergantian. Wanita itu seperti ingin mengatakan sesuatu tapi terlalu lemah
"Maaf," lirih Viona.
"Tahu kesalahan kamu?" tanya Alden sedikit ketus, membuat Aqila lantas mengenggam tangannya.
Gadis itu mengkode kekasihnya agar segera diam.
"Kenapa meminta maaf?" Kini Aqila yang bertanya. Gadis itu sebenarnya tahu apa kesalahan Viona, hanya saja Aqila ingin mendengarnya langsung dari mulut sahabatnya.
"Maaf karena selama ini sudah menyakitimu dan memisahkan kalian berdua," kata Viona.
Sejak kecelakaan menimpa dirinya, Viona baru sadar bahwa apa yang dia lakukan selama ini adalah salah. Obsesisnya pada seseorang dengan mengatas namakan cinta bukanlah hal yang harus dibenarkan.
Viona memejamkan matanya ketika rasa sakit kembali menghantam seluruh tubuhnya. Bahkan untuk bernafas rasanya sangat sulit.
Tangan wanita itu bergerak hendak meraih tangan Aqila, tapi tangan itu terlalu lemas. Aqila yang melihatnya segera melepaskan genggaman tangan Alden, dan beralih mengenggam tangan Viona yang tidak terpasang infus.
"Aku sudah memaafkan semua kesalahan kamu Vi, maski rasa sakit masih ada. Itu semua aku lakukan demi persahabatan kita."
__ADS_1
"Ma-maaf."
"Bisa beritahu aku semuanya?" tanya Aqila.
Viona mengangguk samar.
"A-Alden tidak pernah mengkhianati kamu, bahkan dia tidak pernah tidur denganku Qila. Aku menjebaknya karena perintah seseorang."
"Siapa?" tanya Alden tidak sabaran.
"Tuan Joan."
Deg, jantung Aqila seakan berhenti berdetak mendengar nama papahnya disebut. Aqila perlahan-lahan menarik tanganya agar terlepas dari genggaman Viona. Rasanya dia tidak ingin percaya bahwa dalang di balik perpisahannya dengan Alden ada andil papahnya yang sangat dia cintai.
Tanpa menyahuti penggilan Alden, gadis itu berlari keluar dari ruangan intesif, tepat saat berada di depan ruangan, langkah Aqia berhenti. Tatapannya tertuju pada Joan yang tengah duduk saling berdampingan dengan Marni.
"Jadi Papa dalang dari semua drama ini?" tanya Aqila dengan tatapan tajamnya.
Joan lantas terkejut mendengar penuturan putrinya. Pria paruh baya itu lantas berdiri dan menghampiri Aqila.
"Siapa yang beritahu kamu Nak? Semua itu tidak benar."
"Viona!"
__ADS_1
"Kamu percaya sama Viona setelah apa yang terjadi? Dia itu wanita licik yang ...."
"Sebaiknya kita mengakhiri ini semua." Kata Marni yang sejak tadi diam saja.
Wanita paruh baya itu juga sudah tidak sanggup menyembunyikan rahasia dari semua orang.
"Marni!" bentak Joan dengan tangan mengepal hebat.
"Jadi ibu juga sudah tahu hal ini?" tanya Aqila tidak percaya.
Gadis itu merasa orang paling bodoh di dunia karena ditipu oleh orang-orang terdekatnya terutama ayahnya sendiri.
"Maafkan Ibu nak, Ibu terpaksa melakukan semua ini karena ...."
"Apa ibu tidak pernah memikirkan perasaan aku? Kenapa kalian tega hah?"
"Ibu sudah lelah mengingatkan Viona agar tidak selingkuh dengan ayahmu Nak, tapi dia tidak pernah mendengarkan teguran ibu!"
"Se-selingkuh?" Aqila semakin tergugu mendengar pengakuan ibu Viona, kebenaran yang tidak pertah terlintas di kepalanya. Yang ingin Aqila pertanyakan hanya alasan kenapa ayahnya tega membuat dia dan Alden berpisah, tapi yang dia dapatkan malah kenyataan lainnya.
"Apa kalian berdua tidak punya hati hah? Apa kalian tidak pernah memikirkan perasaan aku dan Mama? Jawab Pa!" bentak Aqila dengan air mata mulai mengalir membasahi pipinya.
...****************...
__ADS_1