
Azzura dan Azzam sudah berada di taman dekat danau buatan. Azzam juga sudah membawa Azriel yang masih terlelap di pangkuannya.
Mereka berdua diam seraya menatap danau di suasana malam hari yang dingin ini. Azzura menangis tanpa suara. Hanya air matanya yang terus menerus mengalir deras kala merasakan rasa sakit yang luar biasa.
"Aku minta maaf karena suamiku bermain api dengan istrimu. Aku minta maaf tidak bisa mencegah perselingkuhan itu. Aku minta maaf karena akibat suamiku putramu menjadi korbannya." Azzura bersuara dan malah minta maaf kepada Azzam atas apa yang terjadi. Bibirnya bergetar menahan tangis dan tidak ingin membuat balita tujuh bulan terbangun akibat suaranya.
Azzam mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan pikiran wanita yang ada di sampingnya. "Kenapa jadi kamu yang meminta maaf? Ku di sini juga korban, aku pun sama, putraku juga sama menjadi korban keegoisan mereka. Apa yang terjadi pada hari ini bukanlah kesalahan kamu, tapi sebuah hasutan syetan yang mampu menggoda umatnya. Apa yang terjadi kepada kita merupakan sebuah pelajaran jika terkadang perselingkuhan rentang hadir menghampiri setiap rumah tangga. Seharusnya aku sebagai suami pandai mendidik istri agar tidak terjerumus ke dalam zina. Tapi aku gagal." Azzam pun menyalahkan dirinya sendiri yang merasa tidak bisa membuat istrinya bahagia.
"Aku pun merasa tidak pandai menjaga suami dan juga merasa gagal menjadi istri. Kalau Chiko mencintaiku dan puas dengan setiap pelayanan yang aku lakukan, ia tidak mungkin berkhianat di belakangku. Sekarang aku bisa melihat sendiri bagaimana suamiku begitu menikmati kebersamaannya dengan wanita lain." Azzura menunduk menutupi wajahnya, kali ini ia terisak bersuara.
"Apa salahku sampai suamiku tega mengkhianati kepercayaan dan ikatan suci pernikahan? Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik buat dia, tapi balasannya ..."
Azzam menengadahkan kepalanya mengerjapkan mata agar tidak menangis. Namun, ia pun malah ikutan menangis merasakan sesak di saat istrinya begitu menikmati permainan mereka.
"Aku juga tidak tahu kenapa mereka sampai tega melakukan ini kepada kita. Rasanya begitu sakit melihat orang yang kita cintai bermain di belakang."
__ADS_1
Untuk beberapa saat, mereka berdua melepaskan kesedihan yang menghampiri di bawah cahaya lampu dan cahaya bulan yang menerangi. Tidak ada pembicaraan lain selain tangisan Azzura yang menyayat hati.
Merasa lebih baik menumpahkan segala kesedihannya, Azzura menghapus air matanya. "Tekad ku sudah bulat, aku akan pergi dari kehidupan Chiko."
Azzam langsung menoleh menatap lekat wajah Azzura. Namun, ia malah terhipnotis pada kecantikan Azzura meski matanya terlihat sembab.
"Azzura itu sangat cantik, masih muda, mandiri, baik, memiliki jiwa sosial yang tinggi. Namun, entah kenapa Chiko sampai menyakiti dan mengkhianatinya? Menurutku tidak ada yang kurang dalam diri Azzura."
Azzura menoleh, "sekali lagi aku minta maaf atas kehadiran kita di sini membuat ruamhtangga mu berantakan. Aku minta maaf atas nama Chiko yang sudah membuatmu sakit hati."
"Terbuat dari apa hatimu sampai kesalahan orang lain kamu yang minta maaf?" Azzam di buat bingung dan tidak mengerti tentang jalan pikiran wanita di sampingnya ini.
"Masyallah, baik sekali hatinya."
"Pasti kamu sangat mencintai Chiko?" Azzam mulai penasaran pada wanita ini dan kisah cinta mereka.
__ADS_1
"Iya, aku memang mencintai Chiko tulus, tapi aku juga tidak ingin menjadi bodoh hanya karena sebuah kata cinta. Mungkin, dengan adanya kejadian ini, aku harus lebih baik lagi dalam menjaga suami. Tuhan juga tidak akan memberikan cobaan ini kalau kita tidak mampu melewatinya." Bijaknya Azzura menyikapi masalah yang menimpanya tanpa menuduh Chiko yang salah. Padahal, kalau mengingat hal itu Chiko salah telah berkhianat.
Azzam semakin di buat kagum oleh pemikiran Azzura. "Lalu kamu mau kemana dan akan melakukan tindakan apa?"
"Aku akan pergi dari sini dan mengambil langkah bercerai." Secara tegas Azzura mengatakan itu tanpa keraguan sedikitpun dalam hatinya.
Azzam mengangguk mengerti karena memang ini juga langkah yang akan ia ambil. Jika pasangan sudah berkhianat dan bermain di atas ranjang, itu artinya tidak akan ada kesempatan kedua untuk mereka memperbaiki semuanya. Jika tetap bertahan pun tentu akan ada hati yang terluka.
Di bawah langit yang sama dan kesedihan yang sama, Azzam dan Azzura saking berbagi kesedihan. Hingga mereka di pisahkan oleh jarak kembali di saat keduanya memutuskan pulang bersama-sama.
"Makasih sudah menemaniku dan sudah bersedia mendengarkan tangisku," ucap Azzura sambil mendorong kursi roda Azzam dan berhenti di depan rumah Azzam.
"Sama-sama, makasih juga sudah bersedia aku repotkan." Bagaimana tidak di repotkan, Azzura begitu baik membantu dirinya naik turun ke dalam taksi dan juga mendorong kesana kemari kursi rodanya.
Azzura tersenyum mengangguk. Lalu, ia berpamitan pulang ke rumahnya. Azzam pun masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Mas kamu habis dari mana dengan Azzura?" tanya seorang wanita mengagetkan Azzam.
"Ghina!"