PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
Bab 93. Restu dari Orang Tua Aqila


__ADS_3

Alden memegangi jantungnya yang berdetak tidak karuan setelah turun dari mobil bersama Randi. Keduanya sedang berada di depan rumah Aqila.


Pria itu datang kali ini bukan hanya sekedar bertemu, tetapi juga ingin meminta restu orang tua kekasihnya.


"Ayo Tuan!" ajak Randi berjalan lebih dulu memasuki rumah Aqila ketika Alden diam sama sejak tadi.


Jika Randi ikut-ikutan diam, maka sampai pagi mereka akan tetap berada diluar berteman dinginnya malam.


Alden mengangguk tanpa emosi pada Randi. Berjalan memasuki rumah dengan tangan saling mengepal mencoba meredakan rasa gugupnya.


"Al, akhirnya kamu tiba juga." Sambut Aqila di depan pintu.


Alden menelan salivanya kasar melihat penampilan Aqila yang malam ini terlihat sangat cantik dengan dress di bawah lutut berwarna merah. Belum lagi senyuman dan rambut digerai membuat kekasihnya semakin terlihat menawan.


"Ayo Sayang." Tanpa aba-aba Aqila merangkul lengan Alden dan mengajaknya ke meja makan dimana orang tuanya sedang duduk layaknya suami istri pada umumnya.


"Aku sudah bilang jangan berdandan yang cantik, tapi kecantikan kamu malah mengalahkan bidadari," omel Alden.

__ADS_1


"Terimakasih Sayang pujiannya." Seakan tanpa dosa, Aqila langsung duduk di kursi yang khusus untuknya bersama Alden, sementara Randi duduk tepat di sebelah Joan karena dipersilahkan oleh Kinanti.


"Kalian berdua terlihat sangat serasi Nak."


"Makasih pujiannya Tante," sahut Alden.


Kinanti tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Makan malam dimulai dan ditemani dengan obrolan-obrolan ringan seputar keseharian saja. Hingga tidak sengaja merembet tentang rencana pernikahan.


Sudah kepalang membahas semuanya, Alden memutuskan membicarakan dimeja makan saja. Toh sudah diberi lampu hijau oleh Kinanti.


Sedangkan Aqila menundukkan kepalanya karena malu ditatap oleh mamanya. Dia bahagia karena kedua orang tuanya ikut serta dalam persiapan pernikahannya.


"Restu kami menyertaimu Nak, kalau Aqila menerimamu dan kamu berjanji akan membahagiakannya tanpa membuatnya menangis, kenapa tidak?" Kinanti berucap.


"Terimakasih tante-om sudah memberi saya kesempatan untuk membahagiakan putri satu-satunya yang kalian punya. Mungkin Alden tidak bisa berjanji untuk membuat Aqila selalu bahagia, tapi Alden berjanji akan berusaha membahagiakannya semampu yang Alden bisa."


Dibalik lancarnya Alden berbicara, ada tangan yang sudah berkeringat di bawah meja karena terus diremas sejak tadi. Alden sedang menunggu jawaban dari ayah kekasihnya setidaknya wejangan atau apalah asal ada antusias tersendiri dari Joan.

__ADS_1


Karena selama ini yang menentang hubungan mereka adalah Joan sendiri. Alden takut pria itu tidak ingin menjadi wali Aqila jika hari pernikahan nanti.


"Om Joan, saya ...."


"Selama kamu bisa membahagiakan dan menjaga putri saya kenapa tidak, Alden? Setelah akad nanti, tanggung jawab Aqila akan jatuh kepadamu. Kuharap kamu tidak melakukan kesalahan seperti yang saya lakukan."


"Pasti Om, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang om berikan."


Usai makan malam dan sedikit berbincang ringan tentang rencana pernikahan, akhirnya Alden pamit pulang. Terlebih jarum jam sudah menunjukkan angka 10 malam, sudah terlalu larut untuk bertamu lebih lama lagi.


Alden mengendarkan pandangannya ke segala arah setelah berada di depan rumah. Memastikan tidak ada seseorang selain dirinya juga Aqila di sana.


Tanpa meminta izin pada pemiliknya, Alden langsung mengecup pipi Aqila sekilas.


"Selamat malam calon istri, semoga semuanya diperlancar sampai hari Ha, biar aku tidak lagi pulang jika larut seperti ini," bisik Alden.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2