
Ghina terkejut melihat tanda merah di dekat kerah bajunya Chiko. Dia menyibak kerah bajunya dan matanya semakin melotot kala melihat bukan hanya satu tanda merah, melainkan ada dua.
"Tanda merah merah di leher mu ini apa maksudnya, Chiko? Kau bermain di belakang ku?" pekik Ghina tidak menerima jika suaminya selingkuh. Meskipun dia sering tidak memperlakukan Chiko dengan baik, tapi ia sudah mulai menyukai pria itu. Apalagi adanya bayi yang ia kandung membuatnya tidak bisa jauh dari Chiko. Itulah sebabnya Ghina bertahan di dalam pernikahan yang ia lakoni saat ini.
Deg.
Chiko terkejut, ia menepis tangan Ghina yang ada di pundaknya dan membentak Ghina.
"Tanda merah apa maksudmu? Jangan berpikiran aneh-aneh, deh! Dan jangan asal nuduh!" jawabnya berusaha menormalkan kegugupannya. "Sialan kau Maria, malah membuat tanda merah di leherku."
"Ini apa, Chiko? Tanda merah seperti tanda cinta yang sering pasangan berikan. kau kira aku ini bodoh?" Ghina menyibak kerah kemeja yang ada tanda merahnya. "Tanda merah apa ini? Jawab jujur dan jangan berbelit-belit, Chiko! Pasti kau habis bermain dengan ja*Lang bukan?"
"Itu hanya kerokan saja," balas Chiko mengelak. "Sudahlah, jangan banyak tanya, siapkan bajuku sekarang juga! Dan belikan aku makanan!" titahnya mengelak karena tidak mau membahas masalah ini. Dia cukup lelah dengan keadaan dan tidak ingin membahas masalah ginian.
"Jangan bohong kamu, Chiko. Kamu pikir aku bodoh tidak tahu tanda apa ini? Ini tanda cinta? Apa selama ini kamu selingkuh dariku? Apa kau sering berci*nta dengan yang lain? Jawab!" cerca Ghina meninggikan suaranya tidak menerima itu semuanya.
"Sudah ku bilang tidak, aku tidak melakukan apapun," jawabnya tidak mau mengakui jika dia telah bermain di belakangnya Ghina.
"Kamu masih saja mengelak, sudah jelas-jelas itu kissmark dan kamu malah bilang tidak melakukan apapun. Ck, mau sudah berselingkuh dariku, Kamu mengkhianati ku!" sentaknya semakin di buat kesal, marah dan kecewa.
__ADS_1
Chiko tidak dapat mengelak lagi, apa yang ia sembunyikan akhirnya ketahuan juga. Dulu saat bersama Azzura tidak ketahuan karena yang ketahuan malah hubungannya dengan Ghina, sekarang ketahuan sebab Maria membuat tanda merah itu dengan senagja.
"Iya, aku memang selingkuh, lalu kamu mau apa, hah?! Mau selingkuh dengan siapapun, itu terserahku. Bukan urusan mu!" Akhirnya Chiko menjawab secara jujur kalau dia selingkuh dengan salah satu wanita malam. Selingkuh dalam artian hanya melayani birahinya saja.
Deg.
Hancur sudah hati Ghina mendengar pengakuan suaminya, ia sampai meneteskan air mata dengan rasa kecewa yang luar biasa. Dia tidak menyangka kalau Chiko akan berselingkuh barunya dan tidak pernah terbayangkan oleh dia sebelumnya, kalau ini akan terjadi juga kepadanya. Mungkin Ghina mulai perlahan menerima harta yang sudah tidak lagi menjadi milik Chiko karena pria itu masih bekerja. Namun, jika sudah bermain di belakangnya. Ia tidak terima. Air matanya menetes membasahi pipinya, dan hatinya terasa sakit di kala cinta terbagi. Dulu ia hanya ini main-main saja, tapi kalau sudah begini rasanya dia juga rasakan sakit luar biasa.
"Jadi ini alasan kau tidak pulang dan tidak bekerja karena ada orang lain di luaran sana?"
"Iya, dan semua tebakan mu benar semua. Sekarang kamu sudah tahu kan kalau aku memiliki wanita idaman lain? dan aku harap kau jangan menuntutku untuk tetap berada di sampingmu. Karena setelah anak ini lahir, aku akan menceraikan dan mencari Azzura!"
Ghina mengepalkan kedua tangannya menangis akan nasib rumah tangganya kedatangan orang ketiga. Dulu dia yang selingkuh, sekarang dia merasakan namanya diselingkuhi.
"Jangan kau samakan Azzura dengan ******* di luaran sana! Dia tidak seperti itu dan dia karena kau yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang kau inginkan! Dan asal kau tahu, wanita itu bukan Azzura, melainkan wanita malam langganan ku, kau dengar! Wanita malam langganan ku." Chiko tidak lagi menyembunyikan semua yang ia lakukan di belakang Ghina. Ia tidak ke rumah tidur pura-pura untuk tidak mengakui semuanya. Chiko justru senang karena dengan ini Ghina pastinya bakalan meninggalkannya. Dan jika itu terjadi, tentu Chiko akan kembali lagi bersama Azzura saat wanita yang ia cintai ada di sana.
Ghina sebutkan dibuat terperangah dan semakin syok mengetahui Siapa wanita yang selalu menemani suaminya.
"Jadi dia seorang *******? Kurang ajar kau Chiko! Beraninya kamu menghianatiku dan menyakitiku sedemikian rupa ini. Aku bahkan sudah mengorbankan segalanya demi dirimu, kehilangan suamiku kehilangan anak dan juga pindah agama hanya demi dirimu. Tapi kau, oh begitu tidak memiliki perasaan dan malah berkhianat!" pekik Ghina tidak terima diperlakukan seperti ini
__ADS_1
"Aku tidak peduli! Seharusnya kamu bersyukur aku nikahi dan aku juga tidak pernah meminta dirimu untuk mengikuti jejak ku. Sekarang terserah kau mau melakukan apapun! Karena sebentar lagi, setelah anak ini lahir kita bakalan berpisah!" sentak Chiko meninggalkan Ghina karena ia tidak mau terus-terusan bertengkar.
"Chiko, kamu mau kemana, Chiko? jangan pergi lagi! Kau hanya boleh menjadi milikku dan tidak akan membiarkan orang lain mengambilnya. Aku tidak mau kehilangan kau, Chiko!" Ghina mengejar Chiko mencegahnya pergi. "Lebih tepatnya aku tidak mau kehilangan uang yang selalu kau berikan untukku atas dalih anak yang ku kandung. Enak saja kau pergi dariku, tidak akan ku biarkan!"
Chiko tidak peduli akan permohonan Ghina. Dia tetap melangkah keluar dan Ghina tetap mencegahnya dengan mencekal tangan suaminya.
"Chiko jangan pergi! Aku minta maaf, kok tidak boleh pergi ke manapun sampai kapan kau hanya akan menjadi milikku. Untuk ja*Lang itu, aku tidak akan pengungkitnya asalkan kamu tetap berada di sini," lirih Ghina memohon suaminya tetap berada di rumah.
Namun, Chiko malah menembus kasar tangannya Ghina dan lanjutkan langkahnya tidak peduli pada teriakan sang istri.
Apa yang terjadi kepada rumah tangga Ghina dan Chiko, diperhatikan oleh banyak orang terutama para tetangga yang ada di sana.
"Lihat deh, tiap hari rumah tangga mereka selalu saja bertengkar. Apa tidak bosan cek-cok?" ucap Bu Onih tetangga depan rumahnya Ghina.
"Itulah akibatnya dari mencuri suami orang yang akhirnya berdampak kepada dirinya sendiri. Dulu dia menyakiti perasaannya Azzura dan Azzam, sekarang dialah yang sering disakiti oleh Chiko. Hukum karma itu nyata, Allah itu adil, apa yang kita perbuat pasti akan dipertanggungjawabkan dan akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatan yang dilakukan. Mungkin ini adalah salah satu balasan dari Allah atas sikap Ghina selama ini."
"Ada kasihannya juga sih, tapi hukuman yang nyata."
Ghina mendengar kasak-kusuk orang-orang yang ada di sana. Dia menoleh, "apa? kalian pasti sedang ngomongin saya kan? Pasti kalian senang melihat rumah tangga saya berantakan seperti ini? Kalian semua nya sama, sama-sama brengsek!" pekik Ghina melampiaskan kekesalannya kepada ibu-ibu yang ada di sana.
__ADS_1
"Hei! Jaga ya kalau bicara! jangan asalnya nyablak saja itu mulut. Itu semua hukuman dari Allah atas semua yang kau lakukan kepada Azzura dan Azzam!" seru Bu Onih.
"Terserah kalian!" sentak Ghina kembali masuk ke dalam rumah membanting pintu rumahnya secara kasar.