
beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak memaksa Ghina memeriksakan dirinya di klinik terdekat. Mereka hanya ingin tahu benarkah Ghina hamil atau tidak?
Chiko, Ghina, Bu Nining, dan Bu Onih sudah berada di ruangan pemeriksaan. Ghina sudah terbaring di atas Brangkar.
Sebelumnya Ghina sudah melakukan serangkaian pemeriksaan dan terakhir melakukan USG. Bu Onih dan Bu nining juga ikut kedalam untuk mendengar dan melihat secara langsung hasilnya.
Ibu bidan itu mulai mengarahkan alat USG ke perut Ghina. "Titik hitam ini merupakan calon bayinya dan usianya saat ini baru empat Minggu dan Alhamdulillah Bu Ghina positif hamil," kata Bidan membuat orang-orang yang ada di sana tertegun penuh keterkejutan.
Kedua ibu-ibu kaget sebab Ghina ternyata beneran hamil. Pun dengan Chiko yang tidak pernah menyangka kalau perbuatannya mengakibatkan seorang wanita mengandung.
"Coba periksa lagi siapa tahu pemeriksaannya salah!" ujar Chiko tidak mempercayai hal itu.
Sedangkan Ghina, ia juga terdiam tidak dapat berkata apa-apa. "Aku hamil? Secepat ini? Apa ini artinya kalau aku akan beneran menjadi nyonya Chiko dan tinggal di rumah mewah itu? Aakhh akhirnya kesampaian juga."
Bukannya sedih, Ghina malah senang dikarenakan anak ini menurutnya membawa keberuntungan.
Bidannya kembali memastikan lagi pemeriksaannya. "Ini sudah benar dan memang hasilnya akurat. Selamat ya, pak, Bu, atas calon bayinya."
"Tidak mungkin! Itu tidak mungkin terjadi! Tidak tidak mungkin dia mengandung anak saya! Itu pasti anak orang lain, saya tidak percaya itu. Ghina, aku sudah bilang sama kamu untuk menggunakan pil kontrasepsi, tapi kenapa kamu malah bisa hamil begini? Kau menipuku, hah?" Chiko bingung dengan keadaan saat ini. Dia tadinya hanya main-main saja dan tidak berniat menghamili Ghina. "Kalau begini, Azzura semakin tidak mau balikan lagi sama aku."
"Cukup Chiko!" Ghina bangun dari tebakannya dan ia kembali berkata, "aku tidak pernah tidur selain dengan kamu dan itu pun aku lakukan atas keinginan kita. Masalah kenapa aku bisa hamil karena memang sedari awal aku menginginkan seorang anak dari kamu."
"Jadi kau tidak sungguh-sungguh menggunakan pil kontrasepsi?"
"Tidak! Untuk apa aku menggunakannya? Toh pada akhirnya kita akan bersatu juga bukan?"
"Brengsek! Jadi kau mencoba menjebak ku menggunakan anak ini?"
"Diam!" pekik Bu Nining berdiri di duduknya. "Jangan ada lagi pertengkaran di antara kalian dan jangan lagi saling menyalahkan. Kalian harus bertanggung jawab atas kelakuan yang kalian lakukan selama ini. Kalian harus segera di nikahkan!"
"Aku tidak sudi menikahi wanita ja lang ini!" ujar Chiko langsung beranjak keluar.
__ADS_1
"Bu bidan, maaf atas kekacauannya kami permisi dulu," ujar Bu Onih mengejar Chiko.
Untuk pembayarannya sudah di bayar, dan Ghina juga mengejar.
"Chiko tunggu! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku, Chiko!" pekik Ghina.
"Bagaimana hasilnya?" tanya orang-orang yang ada di luar klinik. Mereka heran melihat Ghina dan Chiko bertengkar.
"Hasilnya positif, Ghina mengandung anak Chiko dan itu artinya mereka memang telah melakukan zina. Sekarang kita harus menikahkan mereka mau Tidak mau itu harus terjadi," kata Bu Nining.
"Apaan Ghina? Aku bilang aku tidak mau menikahimu!" sentak Chiko dalam pikiran kacau.
"Tapi kau harus menikahi, Chiko!" ujar Pak RT.
"Dia mengandung anak kalian bukan? Itu artinya kau harus menikahi dia! Mau tidak mau harus!" ujar Pak RT.
"Tapi pak ..."
"Po-polisi?!"
********
Azzura tertawa mendengarkan cerita umi Qulsum yang selalu saja membuatnya nyaman. Padahal mereka berbeda, tapi Azzura merasa nyaman di dekatnya. Azzura dan Umi Qulsum saling bertukar cerita sampai keduanya begitu terlihat akrab membuat beberapa santri merasa iri terhadap Azzura yang begitu beruntung bisa dekat dengan umi Qulsum.
"Umi, emangnya umi tidak capek sedari tadi belum istirahat. Umi 'kan baru sembuh."
"Tidak, Nak. Umi tidak capek. Justru umi senang dan sudah sembuh jika dekat kamu di sini."
"Assalamualaikum," ucap orang-orang.
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
"Pak haji, Bu haji, Anisa mari masuk!" umi Qulsum berdiri dan menyambut calon besannya.
Wanita dan pria paruh baya itu masuk dan mereka juga sempat melirik ke arah Azzura.
"Azzura, boleh umi minta tolong buatkan minuman dan makanan, ya."
"Baik, Umi."
Azzura bangkit dan ia beranjak ke dapur untuk mempersiapkan minuman dan cemilan bagi para tamu sesuai perintah Umi Qulsum.
"Qulsum, mungkin kamu sudah tahu kedatangan kita kesini."
"Betul pak Haji, Anisa sempat bicara."
"Begini, sesuatu pembicaraan kita beberapa bulan yang lalu mengenai perjodohan anak-anak kita, kami dari pihak perempuan ingin pernikahan Anisa dan Ahmad di percepat supaya tidak ada fitnah lain dan tentunya juga agar menghindari mereka dari dosa."
"Aku setuju saja, tapi balik lagi pada Ahmad nya."
"Maaf Umi, Ahmad menolak perjodohan ini!" ujar Ahmad membuat mereka menoleh dan terkejut.
"Kenapa menolak, Nak?"
"Karena Ahmad suka sama Azzura!"
"Apa?!"
Deg...
Azzura mematung.
*****
__ADS_1