PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 34. Keingintahuan Azzura


__ADS_3

Ibu itu terhenyak saat Azzura penasaran dengan ayat suci Al-Quran. Senyum di bibirnya mengembang mengetahui dan merasa ada secerca harapan untuk Azzura memeluk agamanya.


"Yang tadi saya baca namanya Al-qur'an. Pedoman hidup seluruh umat. Al-Qur'an atau Qur'an, adalah sebuah kitab suci utama dalam agama Islam, yang dipercayai Muslim bahwa kitab ini diturunkan oleh Allah yang hanya tulisan, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Kitab ini terbagi ke dalam beberapa surah dan setiap surahnya terbagi ke dalam beberapa ayat."


"Al-Qur'an ini salah satu kitab dari empat kitab yang Allah turunkan," sambung wanita itu.


"Empat? Lalu yang lainnya kitab apa?" tanya Azzura.


"Pertama Kitab Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud AS dan diturunkan pada 6 Ramadhan. Kedua Kitab Taurat diturunkan kepada Nabi Musa AS pada 12 Ramadhan. Ketiga Kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa AS Pada 12 Ramadhan. Dan ke empat Kitab Al Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Dan Al Qur'an pertama kali diturunkan di Gua Hira, sebelah utara Mekkah pada 17 Ramadhan 610, lalu turun secara berangsur-angsur."


"Boleh aku tanya lagi?" Azzura selain di but penasaran.


"Iya silahkan. Insyaallah semampu saya akan di kawab."


"Mengapa Tuhanmu menciptakan 4 kitab suci yang berbeda beda?"


"Begitu juga alasan mengapa Allah SWT sang Maha Mengetahui menurunkan kitab suci yang berbeda-beda, sebab Taurat diturunkan sebagai pondasi dasar ketauhidan, Zabur diturunkan untuk menyiapkan umat ke jenjang berikutnya, lalu injil, dan terakhir Al-Qur'an sebagai kitab penyempurna. Al-Qur'an juga diturunkan Allah SWT sebagai pedoman hidup setiap muslim. Oleh karena itu Al-Qur'an harus senantiasa dibaca, dipelajari, difahami maknanya dan dijadikan dasar dalam kehidupan sehari-hari." Panjang lebar wanita itu menjelaskan tentang kitab yang ia baca tadi.


Azzura mengangguk mengerti. "Oh jadi begitu."


"Bu, apa aku boleh belajar banyak hal mengenai itu sedangkan aku ..." Azzura tidak melanjutkan ucapannya sebab merasa tidak enak hati.

__ADS_1


"Tentu boleh, Nak. Mau belajar saja udah Alhamdulillah, apalagi mengikuti ajaran Allah, tambah masyallah. Belajar itu boleh mengenai banyak hal, tapi untuk pindah agama harus berasal dari hati kita sendiri dan keyakinan sendiri. Tidak boleh dipaksakan. Jadi saya mengerti maksud kamu."


"Gitu ya, Bu."


"Oh iya, dari tadi kita bicara panjang lebar belum kenalan. Namu kamu siapa, Nak?" tanya dia.


"Aku Azzura Fatharani, kalau ibu?"


"Qulsum, panggil saja saya umi Qulsum."


"Umi Qulsum, nama yang indah seindah wajah Umi yang memancarkan cahaya keindahan." Puji Azzura terdengar tulus.


"Ah tidak usah umi. Azzura mau cari kontrakan saja." Dia tidak mau merepotkan orang lain.


"Umi tidak keberatan, Nak. Justru umi senang bisa mengajak kamu tinggal dengan umi. Umi tidak memiliki anak perempuan, kalau kamu mau kamu ikut umi pulang ya. Pasti rumah umi akan ramai jika ada kamu."


"Tidak umi, terima kasih sudah menawarkan. Tapi Azzura tidak bisa ikut karena kami ..."


"Umi mengerti. Umi juga tidak akan memaksa kamu. Kebetulan tidak jauh dari tempat umi tinggal ada gereja. Kamu bisa beribadah di sana."


"Hmm gimana ya?" Azzura menimbang-nimbang ajakan umi Qulsum. Dia yang penasaran tentang apa yang umi Qulsum jelaskan ingin mengetahuinya lebih lanjut.

__ADS_1


"Gini saja, Azzura mengontrak di salah satu rumah milik umi, jadi tidak perlu keliling cari kontrakan lagi." Umi Qulsum kembali menawarkan.


"Baiklah, Umi. Azzura mau."


"Daripada keliling cari kontrakan, mending ikut umi saja."


"Assalamualaikum, Umi. Maaf lama, tadi tempat tambal bannya masih nutup," ujar seorang pria mengenakan Koko, sarung, dan juga peci sambil membawa motor berhenti di hadapan kami.


"Tidak apa-apa, Ahmad. Oh iya, kamu pulang duluan saja, umi mau pulang bareng Nak Azzura. Dia mau ngontrak di rumah sebelah umi."


Pria bernama Ahmad itu melihat Azzura. "Tapi, Umi ..."


"Nanti di jelaskan di rumah, ya."


*****


Azzura dan umi Qulsum sudah tiba di tempat yang di maksud. Namun, Azzura kaget saat ia berdiri di gerbang tinggi bertuliskan pondok pesantren Darul hikmah.


"Umi, ini?"


"Umi tinggal di sini, Nak."

__ADS_1


__ADS_2