
Suara tamparan mengema di dalam rumah mewah tersebut, membuat Aqila semakin takut untuk melangkah lebih jauh memasuki rumahnya sendiri.
Seumur hidupnya, Aqila tidak pernah melihat orang tuanya bertengkar, apalagi sampai menghancurkan barang-barang begitu saja.Tamparan tentu saja berasal dari Kinanti yang kecewa akan pengkhianatan suaminya.
"Apapun alasannnya kau telah salah karena menghancurkan kebahagiaan putrimu sendiri. Kau bukan saja gagal sebagai seorang ayah, tapi juga seorang suami, Joan!" bentak Kinanti. Suara wanita itu kian meninggi seiring nafas yang memburu.
Rasa sakit hati karena dikhianati tidak sebanding dengan rasa sakit mengetahui hancurnya hubungan Alden dan Aqila yang sebentar lagi akan melansungkan pernikahan, karena ulah suaminya.
"Harusnya dua tahun yang lalu saat kau selingkuh, aku tidak memberimu kesempatan!" Kinanti mulai terisak.
Wanita paruh baya itu mengusap air matanya kasar. Dia seperti wanita bodoh kemarin yang rela menguburkan bayi hasil dari perzi*nahan suaminya. Andai Kinanti tahu sejak awal, mana mungkin dia mau.
"Maaf, aku menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan kedua yang kamu berikan. Kita kembali seperti dulu lagi ya?" bujuk Joan meraih kedua tangan Kinanti yang mengepal cukup erat. Lantas Kinanti menggelengkan kepalanya sambil memejamkan mata.
__ADS_1
"Pernikahan kita terjadi karena perjodohan dan hutang budi ayahku pada orang tuamu dulu. Dan sekarang sepertinya hutang budi itu sudah terbalaskan dengan kau menikahiku juga mengkhianatiku Joan. Tidak ada kesempatan ketiga ataupun keempat untukmu," lirihnya memalingkan wajah kesamping, tidak lupa menarik tangannya dari genggaman Joan.
Pernikahan Kinanti dan Joan memang terjadi karena perjodohan yang diatur oleh ayah Kinanti sendiri. Orang tua Joan yang menjadi asisten rumah tangga mereka dulu rela terluka saat seseorang berusaha mencelakai ayahnya. Sayangnya, sifat orang tua dan anak sanggat berbeda.
"Pergilah! Tunggu surat dari pengadilan!" Kinanti berlalu begitu saja tanpa tahu sejak tadi Aqila menyaksikan semuanya dengan dada yang terasa sesak.
Gadis itu membalik tubuhnya tanpa menyapa siapapun. Sepertinya pulang ke rumah bukanlah waktu yang tepat untuk saat ini.
Aqila menyetop taksi secara asal lalu naik setelah mengatakan kemana dia akan pergi. Sepanjang perjalanan, gadis itu mengusap air matanya kasar yang terus mengalir tanpa diminta.
Sang sopir yang melihat itu langsung memberikan tisu ke jok belakang. Karena tidak tega melihat penumpangnya yang menangis dengan berurai air mata.
"Tisu mbak."
__ADS_1
"Terimakasih." Aqila lantas mengambil tisu tersebut, tapi pergerakan tangannya berhenti ketika tidak asing dengan sopir taksi itu.
"Kak Varo?"
"Menangislah! Aku tidak melihatnya."
"Aku kira taksi, tadi. Maaf, kak."
"Tidak apa-apa santi saja. Mau kerumah Al kan? Biar aku antar." Varo semakin melajukan mobilnya agar bisa sampai dengan cepat kerumah Alden.
Sebenarnya Varo berniat berkunjung kerumah Aqila untuk menghibur gadis itu setelah mendengar apa yang terjadi. Namun, saat sampai, Aqila malah mengira dirinya sopir taksi dan mengatakan ingin menemui kekasihnya.
Sakit? Jangan ditanya bagaimana sakitnya hati Varo. Namun, apa boleh buat, marah saja dia tidak punya hak tentang itu. Yang harus Varo lakukan hanya bisa ikhlas dan berusaha membuat Aqila bahagia meski tidak bersama dirinya.Pria itu menghentikan mobil setelah sampai di depan pagar rumah Alden.
__ADS_1
"Masuklah! Lain kali jangan menyetop mobil asal, takutnya orang jahat!"
...****************...