
Azzam merasa tidak tenang setelah bermimpi aneh. Dia yang sedari tadi ada di kamar untuk bersiap malah bingung dengan pilihannya.
"Ya Allah, semalam petunjuk apa? Kenapa Aku malah bermimpi begitu? Apa ini petunjuk dari mu ya Rabb?" gumam Azzam melamun.
"Azzam, buruan! Sebentar lagi kita berangkat," ujar Fatimah masuk ke kamar Azzam. Fatimah dan Azriel sudah siap.
"Ah iya, Mah." Azzam pun langsung menggerakkan kursi rodanya keluar kamar.
"Zam, apa kamu tidak ingin sembuh dari cedera kamu? Kita berobat ya." kata Fatimah seraya beriringan bersama Azzam.
"Tidak perlu, Mah. Azzam ingin melihat dulu wanita itu tulus atau tidaknya. Kalau sudah beneran yakin, barulah Azzam akan berobat."
"Tidak perlu berobat karena sesungguhnya Azzam sudah sembuh dan bisa berjalan. Azzam hanya ingin mencari sosok perempuan yang mau menerima ku dan anakku dengan tulus."
"Tapi kalau kamu tidak berobat kan sulit lagi berjalannya. Sedangkan perusahaan butuh kamu sebagai sosok pemimpin. Mama sudah tua tinggal kamu penerus satu-satunya Adiguna."
"Nanti saja kalau Azzam sudah menikah dengan orang yang tepat." Azzam tidak mau kembali dulu ke perusahaan karena jika itu terjadi pasti dia akan bertemu dengan mantan istrinya.
"Dan Mama yakin kalau Thania orang yang tepat."
"Tapi perasaanku tidak mau. Kalau bukan mama yang meyakini, aku tidak mau menikah dulu."
*****
Sampailah Azzam dan keluarganya di kediaman Thania yang kebetulan dekat. Hanya beda jalan komplek saja dan mereka hanya berjalan kaki langsung sampai.
"Assalamualaikum," ucap rombongan Azzam.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Eh udah datang tamunya, silahkan masuk!" ibunya Thania menyambut ramah calon besannya. Dan dia menyuruh Fatimah masuk ke dalam rumah.
Rombongan tidak banyak, hanya segelintir orang saja dan itupun hanya orang-orang penting seperti, RT, RW, dan tetangga dekat rumahnya.
Kursi roda Azzam di dorong oleh Fatimah dan mereka semua duduk di tempat yang di sediakan. Namun, Azriel terus saja rewel enggan di bawa duduk. Balita itu malah menunjuk keluar dan tidak ingin melihat ke dalam.
Setelah berbincang-bincang dan membicarakan maksud mereka datang ke rumah Thania, Fatimah pun bersuara.
"Maksud dan tujuan kami datang kesini untuk meminang putri Anda untuk menjadi istri dari putraku, Azzam. Bagaimana, apakah lamaran ini di terima?" tanya Fatimah.
Azzam terus memperhatikan putranya yang ada di pangkuannya. Dia sampai mengasingkan diri dulu demi menangkan sang putra dan mamanya yang berbicaralah.
"Ada apa dengan Azriel? Kenapa dia tidak mau masuk dan terlihat takut saat Thania menatapnya?"
"Thania, bagaimana Nak? Apa kamu bersedia menikah dengan Azzam dan mau menerima kekurangan Azzam serta putranya?" kini Fatimah bertanya pada Thania dengan sebuah jawaban yang memuaskan.
"Insyaallah Thania mau," balas Thania menunduk tersenyum malu.
"Kalian tidak boleh menikahi wanita jahat ini. Mereka penipu dan mereka itu bukan orang baik-baik!" ujar seorang perempuan sepantaran dengan Fatimah. Dan wanita itu didampingi beberapa aparat kepolisian sampai orang-orang yang ada di rumah Thania bertanya-tanya Ada apa gerangan?
"Ada apa ini? Siapa kamu datang-datang mengacaukan acara kami?" ujar Fatimah tidak tahu siapa wanita itu.
Sedangkan Thania dan ibunya sudah terlihat pucat dengan keringat dingin yang sudah bercucuran membasahi tubuhnya.
"Mah, gimana ini? Kenapa ada dia datang kesini? Bukannya dia itu jauh di kita A, kenapa sampai bisa ada di kita J sih, Mah?" bisik Thania.
"Mama juga tidak tahu," balas mamanya Thania.
__ADS_1
"Perkenalkan saya Cut Melisa dari kota A. Saya datang kesini untuk menangkap dua wanita itu! Mereka adalah mantan menantu saya dan mantan besan saya yang sudah kabur membawa harta anak saya."
"Apa? Me-menantu?" Fatimah tercengang sekaligus kaget mendengar kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Thania mengaku belum menikah dan juga tidak sedang dalam hubungan dengan siapapun. Mereka pindah dengan bangkrut dan memilih tinggal di kota J demi bisa merupakan kejadian buruk yang dialami Thania dan keluarga.
"Iya, dia itu mantan menantu saya. Hei Thania dan Mona, kalian tidak bisa lagi menghindar dari kejaran polisi dan tidak bisa lagi kabur-kaburan ke luar kota! Kalian harus membayar atas nyawa yang kalian hilangkan dan pencurian yang kalian lakukan!"
"Apa? Nyawa Siapa yang tiada?" Kali ini Azzam yang bertanya.
"Nyawa cucu saya yang ia pukul kepalanya hingga cucu saya meregang nyawa di tangan ibunya sendiri!"
"Astaghfirullah!" ucap mereka semua terkejut. Pun dengan Fatimah yang tiba-tiba merasa lemas dan ia terduduk di kursi.
"Ya Allah apa ini petunjuk yang kau tunjukkan untukku? Apa ini jawaban dari mimpi yang terjadi?" batin Azzam.
"Mah, ayo kita kabur dari sini!" Thania segera berlari ingin menghindari kejaran polisi, tapi polisi segera bertindak dan segera menangkap Thania beserta ibunya.
"Mau lari kemana lagi kalian, hah? Kalian tidak bisa lagi kabur karena tempat ini sudah dikepung oleh polisi." Polisi itu menangkap Thania dan ibunya.
"Lepaskan saya! Saya tidak bersalah, saya tidak sengaja membunuh anakku dan tidak sengaja mencuri! Itu akau lakukan atas perintah Mama ku."
"Thania, kau juga terlibat dan tidak bisa melemparkan kesalahan ini kepada Mama saja."
"Jangan banyak bicara! Ayo ikuti kita ke kantor polisi!"
Dan dengan seretan penuh paksa, Thania maupun ibunya di giring ke kantor polisi.
__ADS_1
"Ya Allah, Azzam! Ini tidak mungkin." Kepala Fatimah terasa pusing dan seketika dia ambruk.
"Mama!!!"