
Azzura tidak tega melihat para anak-anak di sana memintanya untuk tidak pergi. Namun, ia tidak bisa berada di sana lagi setelah semua yang terjadi. Azzura kembali teringat anak kecil yang bernama Mira menangis tidak ingin berpisah dari dia. Pun dengan anak-anak yang lainnya yang juga ikutan bersedih. Azzura hanya bisa menasehati para anak-anak untuk tetap saling menyayangi dengan sesama orang, rajin belajar, dan menasehati untuk tidak melakukan tindakan kejahatan sekalipun itu hanya terpaksa.
Azzura yang sedang berada di dalam taksi pun hanya diam memikirkan kemana ia akan pergi. Kembali ke rumah lama, tidak mungkin sebab Chiko pasti akan mencarinya.
"Pak, tolong antarkan saya tempat pemakaman umum sandiego, ya."
"Baik, neng."
Pemakaman itu adalah tempat dimana kedua orangtuanya Azzura di makamkan. Dia kehilangan orangtuanya saat berumur enam tahun akibat kecelakaan kereta api. Orangtuanya meninggal sedangkan Azzura selamat. Karena tidak ada sanak saudara lain, Azzura di besarkan di panti asuhan.
*****
Di tempat lain, lebih tepatnya di kantor.
Chiko terlihat serius mengerjakan kerjaannya. Dia ingin segera selesai dan pulang kerumahnya mempersiapkan kejutan buat Azzura. Untuk cintanya, mungkin hanya untuk Azzura, tapi cintanya kalah oleh nafsu yang menghampiri.
Tok ... tok ... tok ...
"Masuk!" ujar Chiko mempersilahkan tamunya masuk.
Masuklah seorang wanita membawa beberapa dokumen di tangannya.
"Permisi, pak. Ini laporan keuangan bulan ini. Saya di suruh bos besar untuk menyerahkannya kepada bapak karena Bu bos sedang tidak bisa hadir ke kantor."
Chiko mendongak, "oh, ok. Baiklah. Kemarikan berkasnya!" Lalu, wanita yang menjabat sebagai sekertaris itu menyimpan dokumen penting milik perusahaan di atas meja.
Chiko segera menyimpannya dengan rapi agar tidak hilang dan pastinya nanti ia sendiri ayng akan menyerahkan kepada atasannya.
__ADS_1
"Kamu boleh pergi lagi!"
"Baik, Pak. Permisi." Chiko mengangguk.
Saat sekertaris itu keluar, Ghina masuk dan menutup rapat pintunya.
"Ada apa lagi?" tanya Chiko belum menyadari bahwa yang masuk beda orang.
"Ini aku, sayang." Ghina menyimpan nampan berisi minuman. Chiko mendongak dan menghela nafas. "Aku kira meta, sekertaris Bu bos."
"Sayang, aku punya kabar gembira." Ghina sudah tidak sabar untuk memberitahukan kabar ini pada Chiko. Dia berdiri di hadapan Chiko sambil memegang nampan kosong.
"Kabar apa?" Chiko tidak menatap Ghina sebab fokusnya kepada kerjaan yang ingin ia selesaikan secepatnya.
"Tatap aku dulu, dong. Sebentar saja!" Ghina merajuk. Chiko memberhentikan tangannya yang tengah mengetik sesuatu dan beralih menatap Ghina.
"Mau bicara apa? Aku sudah mengikuti mau mu, jangan lama-lama! Aku banyak kerjaan."
"Kamu seriusan sudah cerai?" kata Chiko tidak mempercayai itu.
"Iya, semalam aku ingin membicarakan ini, tapi Ponsel mu malah tidak aktif." Lalu, Ghina berjalan menghampiri Chiko dan ia mengusap pundak Chiko. Chiko hanya diam menatap Ghina dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sayang, aku nih udah jadi janda, kapan kamu akan menikahi ku? Aku sudah tidak sabar ingin menjadi istri kamu."
"Dan tidak sabar tinggal di rumah mewah itu. Sekalian aku mau bikin Azzura syok kalau aku menjadi istrinya Chiko."
"Hmmm, nanti aku pikirkan. Sekarang lagi kerja dulu, banyak yang harus di selesaikan hari ini." Chiko belum kepikiran kearah situ, dia hanya main-main saja dan untuk menikahi Ghina bukanlah keinginannya. Sekalipun Ghina pindah agama, Chiko tidak mungkin menikahinya sebab cinta Chiko hanya untuk Azzura.
__ADS_1
"Baiklah, tapi aku ingin kamu secepatnya memutuskan hubungan kita ini mau dibawa kemana."
"Iya, aku akan memikirkannya." Chiko mendongak dan tersenyum. Ghina pun tersenyum merasa Chiko pasti akan jatuh kedalam pelukannya.
*****
Di lain sisi.
"Den Azzam." Seorang pria berseragam satpam menyapa Azzam yang tengah membuka taksinya.
"Pak Mamat, apa kabar? Bagaimana keadaan Mama?" Azzam tiba di depan rumah mewah bernuansa klasik. Dia memutuskan pulang dan ingin meminta maaf kepada ibunya atas sikap yang selama ini ia berikan. Demi ingin bersama Ghina, Azzam sampai memilih pergi dan tidak pulang selama dua tahun. Ya, pernikahan Azzam dan Ghina baru dua tahun.
"Alhamdulillah kabar saya baik, Den. Kabar Ibu juga Alhamdulillah, baik." Pak Mamat membantu Azzam turun dari taksi saat melihat sopir taksi menurunkan kursi roda dari bagian belakang mobilnya.
Lalu, Azzam berusaha duduk di bantu pak Mamat. Dia masih belum menunjukkan kesembuhannya karena tidak ingin dulu berjalan normal. Untuk apa? Untuk melihat ketulusan orang-orang terhadap dirinya.
Pak Mamat membantu Azzam masuk.
"Di sini saja, pak!" Azzam meminta pak Mamat berhenti di depan pintu.
"Tapi, Den."
"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri." Karena keinginan majikannya, Pak Mamat mengikuti.
Sembari menggendong sang putra, Azzam memutar roda kursinya dan masuk ke dalam rumah. Ia melihat ada tamu yang sedang bicara dengan wanita yang sudah melahirkannya. Mata Azzam berkaca-kaca merasakan sebuah kerinduan yang mendalam terhadap wanita itu.
"Assalamualaikum," ucap Azzam. Mereka yang ada di dalam menoleh.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." Mamanya Azzam terdiam tak percaya putranya pulang.
"A-azzam!"