
Azzura menunduk enggan bertatapan dengan Chiko atau ketahuan Chiko. Bukan dia tidak siap, bukan dia tidak mau ketemu, hanya saja Azzura menjaga pandangannya.
Jika ditanya rasa itu masih ada? Jawabannya ada karena Chiko memang pria pertama untuknya. Jika di tanya apa Azzura masih mencintai Chiko? jawabannya iya sebab sulit sekali menghilangkan rasa cinta itu meski ia tengah berusaha melupakan. Namun, bukan Azzura jika ia kembali pada pria yang sudah bermain api dibelakangnya apalagi sampai melakukan tindakan yang dilarang agama.
"Bu ini buburnya," kata penjual bubur sambil memberikan dua bungkus bubur kepada Azzura. Azzura hendak berdiri, tapi umi Qulsum lebih dulu mengambilnya.
"Iya, pak. Ini uangnya dan kami duluan, mari." Dan umi Qulsum serta Azzura pergi.
Chiko yang ada di sana terus memperhatikan wajah bercadar, ia merasa mengenalinya namun dia kembali berpikir lagi.
"Tidak mungkin itu Azzura, Azzura kan sama sepertiku. Wangi parfumnya memang seperti Azzura, tingginya juga sama seperti Azzura, tapi tidak mungkin itu dia."
Chiko terus menatapnya hingga kedua wanita beda usia itu hilang di telan jalan.
*****
"Kemana sih Chiko, dari tadi lama banget beli makanannya." Ghina celingukan mencari keberadaan Chiko yang tak kunjung kembali sejak ia sudah kembali lagi dari joging nya.
Berhubung tidak ada nongol lagi, Ghina memutuskan untuk mencarinya. Dia pun menutup pagar dan pergi dari sana.
Sepanjang jalan, Ghina mencari-cari sebab ia juga lapar tapi tidak punya uang. Bukan tidak punya melainkan sedang mengirit demi keperluan lainnya. Ia pikir kalau punya suami harus dimanfaatkan selagi bisa di mintai uang.
Langkah Ghina pelan sambil mata tertuju pada ponselnya. Anak-anak kecil berlarian kesana kemari dan tak sengaja menabrak Ghina.
Bruk!
"Maaf Tante, maaf." ucap anak itu dan berlari.
Ghina memekik kesal.
"Kalau jalan lihat-lihat dong! Dasar anak-anak bandel. Emangnya ini jalanan nenek moyangmu apa? Dasar tidak tahu diri."
Dia kembali fokus ke ponsel hingga dirinya lagi-lagi tidak sengaja menabrak seseorang sampai ponselnya terjatuh dan pecah.
Bruk!
Prang!
"Ya Tuhan!" pekik Ghina menatap ponselnya rusak.
__ADS_1
"Aduh maaf, maaf, saya tidak sengaja," kata Azzura yang memang todak sengaja. Bukan dia tapi Ghina yang seharusnya minta maaf karena Azzura yang sedang berdiri memperhatikan dekorasi rumahnya di tabrak Ghina.
"Woy! Lo punya mata tidak hah? Hp ku rusak gara-gara lo! Kalau jalan itu lihat-lihat, jadi rusak kan jadinya," sungut Ghina menggeram kesal dan marah sambil dia memungut ponselnya.
"Maaf, tadi saya sedang berdiri tapi kamu menabrak saya."
"Halah! Banyak alesan, bilang saja kau tidak mau ganti handphone mahal ku ini dan menyalahkan saya!" sentak Ghina bertolak pinggang.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut di sini?" tanya Umi Qulsum keluar rumah mendengar teriakan seseorang dari depan rumah Azzura.
"Anda ibunya? Dan ngapain Anda keluar dari rumah suami saya?"
"Maaf, ini bukan rumah suami kamu, tapi ini rumah anak saya," balas umi Qulsum.
"Halah, saya tidak peduli itu. Yang pasti ini rumah suami saya. Pasti kalian pembelinya bulan? Dimana Azzura sialan itu? Berani-beraninya dia menjual rumah ini. Seharusnya ini menjadi milik saja, tapi karena kelicikan Azzura, dia membawa kabur surat-surat dan barang berharga suami saya."
"Astaghfirullah," ucap Umi Qulsum dan Azzura bersamaan. Mereka saling tatap, Azzura tidak memiliki pikiran kalau Ghina sejahat itu.
"Dan kau perempuan bercadar, ganti handphone saya atau kau akan saya laporkan ke polisi."
"Hei Ghina! Kamu tidak malu pagi-pagi begini sudah bikin ribut. Pakai ngaku-ngaku segala rumah ini milik kamu, pastinya ini milik Azzura lah, dia itu istri pertama Chiko dan dia yang berhak atas sua harta itu. Kau sih enaknya saja, cuman modal menggoda suami orang eh, ingin hartanya juga. Tidak malu tuh," cibir tetangga. Siapa lagi kalau bukan Bu Nining si pemilik warung yang ada di depan rumah Azzura.
"Ghina kamu ngapain di sini?" ujar Chiko heran melihat istrinya tengah ngomel-ngomel tidak jelas.
"Dia tuh, dia sudah menabrak ku dan handphone ku rusak." Chiko melihat ponsel Ghina yang di tunjukkan oleh Ghina, lalu beralih menatap wanita tertutup itu.
Azzura menunduk menghindari tatapan Chiko.
"Cuman handphone gini saja rame. Ayo pulang!" Chiko menarik tangan Ghina.
"Tapi dia sudah memecahkan ponselku, Chiko. Dia harus ganti!"
"Nanti di ganti yang baru. Malu di lihat orang banyak. Pagi-pagi buat rusuh, memalukan!" omelnya sambil terus menarik paksa tangan Ghina.
"Dasar wong edan! Gak tahu malu. Siapa yang salah siapa yang di salahkan. Pelakor!" gerutu Bu Nining.
"Udah, jangan mencemooh gitu, tidak baik." Kata Azzura begitu lembut. Suara Azzura merasa tidak asing di telinga Bu Nining.
"Tunggu, kok saya merasa mengenali suara itu ya? Suaranya tidak asing?" Bu Nining memicingkan matanya.
__ADS_1
Azzura tersenyum hingga matanya menyipit. "Ini aku Bu Azzura. Assalamualaikum." ucap Azzura.
"Masyallah, ini beneran kamu? Tapi tunggu dulu, saya tidak percaya ini kamu."
"Sepertinya kamu harus tunjukkan wajah kamu, Zahra."
"Iya Umi. Mari masuk, Bu."
Azzura menarik tangan Bu Nining untuk ikut dengannya ke dalam rumah. Umi Qulsum juga mengikuti. Setibanya di dalam, Azzura membuka kain penutup wajahnya dan tersenyum.
Bu Nining terbelalak tidak percaya kalau ini beneran Azzura, wanita yang ia kenal sebagai seorang wanita beda keyakinan.
"Masyallah, Neng Azzura! Ini kamu? Ya Allah." Bu Nining memegang pundak Azzura dan meneliti setiap penampilannya.
"Ini aku Bu, apa kabar?"
"Ya Allah, Alhamdulillah baik, Neng. Ibu tidak percaya kalau kamu berubah. Kamu semakin cantik saja."
Azzura hanya tersenyum, ia pun memeluk Bu Nining. "Aku minta maaf selama ada di sini banyak salah sama ibu."
"Tidak, kamu tidak melakukan kesalahan apapun pada kita." Bu Nining melepaskan pelukannya. Dia terus menatap penuh kagum wanita yang sudah berbeda ini. Ada rasa haru menyelimuti kala melihat wanita baik ini baik-baik saja.
"Allah memberkatimu, Nak. Tetap Istiqomah."
*****
Kabar Azzura sudah mengenakan hijab terdengar ke beberapa ibu-ibu yang memang merindukan Azzura. Mereka seketika mampir ke rumah yang sebentar lagi akan berubah menjadi rumah singgah. Mereka banyak yang mendoakan Azzura dan tentunya saling bertukar cerita.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Mereka yang ada di sana menoleh dan cukup kaget juga ada Azzam.
"Eh Bu Fatimah, mari masuk."
"Loh, nak Azzam ke sini juga?" tanya Bu Onih.
*****
__ADS_1