
"Masuklah! Lain kali jangan menyetop mobil asal, takutnya orang jahat!"
Varo tersenyum dan masih berdiri bersandar di mobil. Aqila memandangi pria itu dengan mata penyesalan. Dia sempat mengira jika Varo-lah yang telah membantu Viona selama ini.
"Kak Varo, maafkan aku," ucap Aqila akhirnya.
Varo memandangi Aqila dengan dahi berkedut. Apa yang gadis itu lakukan sehingga meminta maaf padanya?
"Kenapa harus minta maaf? Kamu tidak salah. Kamu tadi pasti tidak melihat sehingga mengira aku supir taksi," ucap Varo.
Ternyata Varo menyangka Aqila meminta maaf karena tadi mengira dia supir taksi. Padahal Varo juga tidak masalahkan itu. Dia bisa mengerti jika gadis itu tidak melihat karena sedang menangis.
"Bukan itu, Kak. Aku bersalah karena pernah salah paham denganmu," ucap Aqila dengan lirih.
__ADS_1
Varo masih bisa mendengar apa yang Aqila ucapkan. Pria itu makin penasaran dengan apa yang akan dia katakan. Varo menunggu ucapan Aqila selanjutnya.
"Aku pernah mengira jika Kak Varo-lah ayah dari bayi yang dikandung Viona. Aku curiga Kak Varo yang membantu Viona untuk menjebak Alden dan memisahkan aku dengannya." Aqila menghentikan ucapannya. Menarik napas dalam, agar tidak salah berucap yang akan membuat Varo makin sakit hati.
"Aku mendapatkan foto saat kak Varo menemui Viona di rumah Alden. Kecurigaanku seolah makin kuat."
Bukannya marah, Varo bahkan memberikan senyumnya. Dia bisa mengerti dengan apa yang wanita itu pikirkan. Siapapun yang berada di posisi Aqila dan dirinya pasti akan curiga. Apa lagi melihat dia yang bertemu dengan Viona.
"Aku memang pernah bertemu Viona di rumah ini. Semua itu hanya untuk mengancam Viona agar jangan mengganggu kamu lagi."
"Kenapa kak Varo tidak mengatakan saat aku memperlihatkan foto kiriman Viona itu?" tanya Aqila akhirnya.
"Aku takut salah. Aku takut kamu makin sakit hati dan terluka. Qila, aku tidak mau melihat kamu sedih, hanya itu alasannya. Kau mau percaya ataupun tidak, itu terserah kamu. Aku juga sedang ingin mencari tahu siapa ayah dari bayi yang Viona kandung. Jika aku tahu pasti itu bukan anak Alden, pasti aku akan lebih mengancamnya," ucap Varo.
__ADS_1
Alden yang mendapatkan laporan dari penjaga rumah jika ada Aqila yang datang, tapi sedang mengobrol dengan seseorang jadi penasaran. Dia keluar ingin tahu dengan siapa kekasihnya itu mengobrol.
Berjalan pelan menuju ke luar pagar, Alden melihat Varo. Dia menjadi sedikit cemburu. Sebagai sesama pria, Alden tahu jika Varo mencintai Aqila. Itu dapat dilihat dari sikap dan pandangannya pada gadis itu.
Alden langsung memeluk pinggang Aqila begitu berada dekat gadis itu. Dia ingin Vato tahu jika Aqila adalah miliknya.
Aqila memandangi kekasihnya itu. Melihat wajah Alden, gadis itu teringat kembali perselingkuhan papa dan Mamanya.
"Sayang, kenapa berdiri di sini. Nanti ada yang melihat, bisa salah sangka. Varo, masuklah. Lebih baik mengobrol di dalam," ucap Alden.
"Oh, nggak perlu. Aku mau pamit. Qila, aku pamit," ucap Varo.
Pria itu masuk ke mobil dan menjalankan mobil dengan kecepatan sedang meninggalkan sepasang kekasih itu. Begitu mobil Varo menghilang dari pandangan, tangis Aqila kembali pecah dalam pelukan Alden. Teringat pertengkaran kedua orang tuanya.
__ADS_1
Alden yang tidak ingin tetangga berburuk sangka jika melihat ada gadis yang menangis dalam pelukannya, mengajak Aqila masuk .
...****************...