
Tibalah Azzam dan keluarganya di kediaman Azzam. Namun, Azzura malah diam mematung saat mobil yang membawa mereka berhenti di rumah mewah nan megah.
"Mas, ini rumah siapa? Besar sekali? Apa kita tidak salah berhenti di depan rumah ini? Kita kan mau ke rumah kamu, kenapa malah ke rumah mewah ini?" Azzura memperhatikan sekitar dan sekelilingnya. Ia belum turun, pun dengan Azzam yang juga belum turun. Azzura berpikir kalau Azzam ini hanya orang biasa saja. Mobil yang di kenakannya pun masih terbilang normal, tidak menunjukkan orang-orang mewah. Namun, pas melihat rumah megah dua tingkat ini membuat Azzura kebingungan.
Azzam tersenyum, dia menggapai tangannya Azzura dan menggenggamnya. "Kita tidak salah berhenti, ini memang rumah kita. Kamu, aku, Azriel, dan Mama akan tinggal di sini bersama-sama."
"I-ini rumah kamu? Jangan bercanda, Mas!" Azzura tidak yakin itu milik Azzam. Setahunya Azzam orang biasa dan terlihat tidak seperti orang kaya pada umumnya.
"Tidak, aku tidak bercanda. Ini memang rumah ku, lebih tepatnya rumah peninggalan ayahku. Sekarang kita turun, ya." Azzam melepaskan genggamannya dan ia membuka pintunya.
Nampak mang Mamat tergesa menghampiri Azzam dan mendorong kursi roda canggih yang bisa di gerakan oleh tombol. Padahal Azzam sudah bisa berjalan, tapi demi menguji ketulusan Azzura, dia melakukan ini semua.
Azzam turun di bantu mang Mamat seolah terlihat tidak baik-baik saja. Azzura juga turun, lalu dihampiri oleh Fatimah yang berada di mobil berbeda.
"Loh, Mah. Mobilnya parkir di sini juga? Bukannya tadi taksi online?" Azzura kembali di buat bingung.
Fatimah tersenyum, "bukan, itu mobil mama. Mama hanya berkata bohong saja, maaf ya membohongi kamu."
"Aku bingung, sebenarnya mas Azzam ini siapa sih? Kok dia punya rumah mewah, mobil ada empat, motor juga ada, aku heran jadinya," kata Azzura memperhatikan beberapa mobil yang ada di garasi dan mobil itu terlihat mewah.
"Nanti Azzam jelaskan, sekarang kita masuk saja. Pasti kamu lelah, ayo masuk." Fatimah mengajak Azzura masuk dan dia meminta Azriel. "Biar mama saja yang gendong, kami bantu Azzam saja."
Azzura mengangguk dan ia memberikan Azriel yang sedang tertidur di pangkuannya. Lalu, Azzura mendekati Azzam. "Aku bantu ya, Mas." ucapnya sambil mendorong kursi rodanya. Dan mereka semua masuk ke dalam rumah.
"Mas mau istirahat?" tanya Azzura.
"Iya, mau merebahkan diri dulu, capek. Kamu antar aku ke kamar yang ada di atas, ya."
Azzura celingukan mencari cara dia membawa Azzam ke lantai atas. "Naiknya lewat mana, Mas? Di sini hanya ada tangga saja."
__ADS_1
Azzam terdiam, ia lupa kalau saat ini dirinya sedang menggunakan kursi roda. "Bodoh, aku kan sedang pura-pura, pasti Azzura kebingungan." Dia menatap mamanya.
"Yang di atas memang kamar Azzam, tapi setelah azzam sakit pindah dulu ke bawah. Kamarnya yang ada di sana," ujar Fatimah menunjuk kamar utama yang ada di bawah.
"Oh, kalau gitu aku antar kesana, ya. Mah, gak apa-apa Azriel sama mama dulu?"
"Gak apa-apa, sayang. Pasti dia anteng. Kamu urus suami kamu dulu aja, pasti dia lelah." tentu Fatimah tidak keberatan, dia juga mengerti maksud tatapan dari putranya yang meminta Azriel untuk bersamanya dulu.
"Maaf jadi merepotkan Mama, seharusnya aku juga bertanggung jawab sama Azriel." Azzura merasa bersalah merepotkan orangtua. Dia yang seringkali mandiri dan melakukan hal sendiri, jarang meminta bantuan pada orang lain. Apalagi Azriel sudah menjadi kewajiban dia yang mengurusnya.
"Tidak apa-apa, kami juga harus mengurus suamimu juga. Selagi kita bisa saling membantu kenapa tidak. Lagian Azriel ini cucu Mama juga, Hadi kamu tidak perlu sungkan untuk meminta bantuan sama mama. Udah, mending kalian istirahat saja."
"Sekali lagi aku minta maaf, Mah. Kalau gitu aku antar mas Azzam dulu." Dan Azzura pun dorong kursinya membantu Azzam ke kamar yang tidak jauh dari sana setelah mendapatkan izin dari Fatimah.
Setibanya di dalam.
"Iya, rasanya badanku terasa sangat lelah sekali." Azzam menggapai tangan Azzura dan wanita itu perlahan memegangi tangan Azzam.
Azzam sudah duduk dengan kaki berada di atas kasur dalam keadaan selonjoran.
"Kamu mau apa? Mau makan? Mau minum? Mau aku pijitin?" tanya Azzura pada Azzam menawarkan berbagai macam aneka keinginan.
"Memangnya kalau aku minta sesuatu sama kamu, kamu mau membantuku?" balas Azzam memandangi lekat mata Azzura. Dia tidak bisa berhenti menatap mata indah milik Azzura.
"Tentu dong, Mas. Insyaallah aku akan menuruti semua keinginan kamu selama itu baik buat aku." Ya, itu janji Azzura ketika dia sudah resmi menjadi istrinya Azzam. Apa pun yang diperintahkan Azzam, insyaallah dia bakalan menurutinya.
"Kalau gitu buka cadar kamu!" pinta Azzam masih terus menatap mata Azzura.
Tanpa banyak bicara, Azzura melepaskan cadarnya dan menyimpannya di pangkuan dia sehingga kini memperlihatkan wajah cantiknya.
__ADS_1
"Nah, kalau gini kan aku bisa melihat dan menikmati keindahan nyata di depan mata."
"Ishhh apaan sih, gombal banget jadi orang." Azzura memalingkan wajahnya, pipinya pun sudah terlihat memerah seperti kepiting rebus.
"Gombal sama istri sendiri kan boleh. Tadi kamu bilang mau membantuku."
"Memangnya Mas mau apa?"
Azzam tidak menjawab melainkan wajahnya bergerak mendekati Azzura.
"Kenapa?" ujar Azzura merasa heran pada tatapan Azzam yang berbeda.
"Tidak, hanya ingin melihat kamu saja." Wajah mereka saling berdekatan dengan mata terus saling bertatapan.
"Azzura Fatharani Az-Zahra, kalau aku bilang mencintaimu kamu percaya tidak?"
Azzura mengerutkan keningnya. "Secepat itu? Tapi antara percaya dan tidak sih. Ada yang bilang cinta mampu hadir kapan saja dan dimana saja dengan siapa saja, tapi cinta juga bisa datang terlambat. Mungkin yang Mas alami secepat kilat, cuman aku tidak yakin kamu mencintaiku." Ada keraguan dalam diri Azzura, dan ia tidak mungkin begitu saja percaya kalau suaminya sudah jatuh cinta.
"Kalau aku tidak yakin kenapa aku menyentuhmu?"
"Hmmm mungkin hanya kewajiban kamu saja sebagai suami," tebak Azzura tidak tahu alasan lain di balik itu semua.
"Tidak, bukan hanya itu, tetapi karena aku sudah mulai mencintaimu karena Allah. Maka dari itu, izinkan aku kembali menyentuhmu dengan segenap rasa yang ku punya. Biarkan aku terus berlayar dalam lautan cinta bersamamu hingga ke surga kelak." Azzam terus memandangi Azzura sampai wanita itu tidak bisa berpaling dari tatapan mata Azzam yang teduh dan terlihat sekali serius.
"Mas Azzam," lirih Azzura bingung harus berkata apa. Dia belum merasakan cinta, tapi dia sudah menyerahkan segalanya buat suaminya dan berharap ini adalah yang terakhir. Lalu, dengan mengucap Bismillah Azzura mengangguk.
"Bismillah, aku bersedia. Aku yang halal untukmu boleh kamu sentuh kapanpun itu selama aku bisa melayani mu. Sekarang kamu surga ku dan aku akan berbakti padamu, Mas." kata Azzura tersenyum tulus tanpa ada keraguan sedikitpun.
Azzam juga tersenyum senang, dengan mengucapkan doa, mereka kembali berlayar menikmati hari indah bersama pasangan halal.
__ADS_1