PENGKHIANATAN CINTA

PENGKHIANATAN CINTA
BAB 48. Keadaan dan kondisi yang berbeda


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu.


Di saat yang lain tengah bersedih dan kecewa, ada satu wanita yang tengah semangat mendekatkan dirinya kepada sang pencipta, dia adalah Azzura. Perempuan yang memutuskan hijrah ke jalan-NYA tengah belajar yang namanya huruf-huruf Hijaiyah.


Bimbingan langsung oleh Umi Qulsum membuat Azzura mudah memahami setiap ilmu yang di berikan. Mulai dari ilmu tauhid, fikih, dan masih banyak lagi pelajar yang Azzura terima di sana.. Tidak ada yang menghakimi, tapi banyak mendukung langkahnya dan membantu Azzura menjadi sosok muslimah taat kepada agama dan Tuhannya.


Ya, meskipun tidak semua orang menyukainya, tapi Azzura cukup di kagumi banyak orang. Kepintaran yang Azzura miliki mampu membuatnya mudah memahami apa yang di pelajari. Dan sekarang Azzura tengah melakukan setoran hafalan tentang doa shalat kepada umi Qulsum.


Dia tahiyat akhir yang di bacakan Azzura Berdasarkan hadist dari Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW. "Allaahumma inni a'uudzubika min 'adzaabil qabri wa min 'adzaabinnaari jahannama wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wa min fitnatil masiihid dajjaal."


Yang Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnah Dajjal." (HR Bukhari Muslim).


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Dan Azzura mengucapkannya dua kali.


"Alhamdulillah, umi kagum sama kamu. Baru satu Minggu kamu sudah hafal bacaan shalat, wudhu, beberapa surat pendek hingga kunut pun kamu tahu. Umi bangga sama kamu, Zahra." Umi Qulsum tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Ia haru karena ada hamba Allah yang begitu gigih dalam mempelajari ajarannya.


"Ini semua atas bimbingan Umi dan yang lainnya. Tanpa kalian aku tidak mungkin menjadi Zahra yang sekarang." Azzura tersenyum tulus dan baju serta hijab yang di kenakannya terlihat sangat cantik di pakai Azzura.


Zahra, nama baru yang mereka sematkan untuk Azzura setelah menjadi seorang mualaf. Kini nama Azzura menjadi Azzura Fatharani Az-Zahra. Namun, di sana ia dipanggil Zahra dan Azzura pun tidak keberatan dan merasa senang dipanggil Zahra.

__ADS_1


"Ini semua atas kegigihan kamu ingin belajar sehingga kamu cepat tangkap dan cepat bisa. Umi hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu. Saran Umi, tetap Istiqomah dalam menjalankan perintahnya, dan semoga kamu menjadi wanita muslimah yang taat pada Allah." Umi Qulsum bangga dan ia mengusap lembut pucuk kepala Azzura.


Azzura merasa nyaman dan tenang di sana. Apalagi perlakuan umkusum yang begitu baik kepadanya kita melekat dan merasa seperti memiliki Ibu lagi.


"Umi terima kasih sudah membimbing aku dan terima kasih juga karena sudah begitu menyayangiku. Ini semua peristiwa yang ku alami aku belajar banyak hal mengenai kehidupan. Sekali lagi terima kasih."


"Sama-sama, semua ini atas izin Allah dan atas kehendak Allah. Tanpanya kita tidak akan di pertemukan dan tidak akan dekat seperti ini."


Semua yang terjadi pada kita atas kehendak Tuhan, baik buruknya peristiwa yang terjadi pasti ada sangkut pautnya dengan Tuhan. Tergantung kita bagaimana caranya menyikapi setiap masalah yang hadir.


"Hmmm Umi, aku mau izin ke kota J. Kebetulan lusa ada pembukaan rumah singgah." Dengan hati-hati Azzura meminta izin pada Umi Qulsum.


Azzura tersenyum dan ia mengangguk bahagia.


*****


"Ghina, buatkan aku sarapan! Masa jadi istri malas terus!" seru Chiko yang tengah berteriak memanggil Ghina sebab pas ia ke dapur tidak ada makanan yang dimasak. Kehidupan Chiko berubah, dari yang biasanya sering dimanja sering diperhatikan kini ia selalu mengeluh karena Ghina tidak ada perhatiannya. Mereka sekarang tinggal di rumah yang dulu Ghina dan Azzam tempati karena tidak ada lagi tempat tinggal lain selain rumah lama.


"Apaan sih pagi-pagi sudah berisik saja? Kamu mau sarapan? Buat saja sendiri! Aku lagi sibuk mau berangkat kerja. Aku tidak bisa terlalu capek." Ghina keluar kamar dan ia sudah siap hendak kerja. Keduanya masih bekerja di perusahaan ADIGUNA CORPORINDO.

__ADS_1


"Lalu sebagian uang gaji yang aku kasih ke kamu mana? Bukannya aku kasih buat kebutuhan kita? Masa tiap hari harus makan di luar? Kamu itu jadi istri memang tidak becus ya. Azzura tidak pernah seperti ini dan kau dan Azzura sungguh jauh berbeda." Chiko malah membandingkan mereka berdua.


"Azzura lagi yang kamu sebut. Sudah berapa kali aku bilang, aku dan dia beda! Kalau kamu mau sarapan tinggal beli saja di kantor, 'kan banyak. Sudah lah, aku malas berdebat terus sama kamu. Mending aku bekerja saja." Ghina pergi dengan raut wajah penuh kekesalan.


Chiko mendengus kesal, "brengsek! Dia seringkali melawanku, kalau bukan karena anak itu aku tidak sudi dengannya." Chiko juga mengambil tas kerjanya dan segera pergi bekerja.


*****


"Azzam, lusa apa tidak ada niatan untukmu memimpin perusahaan?" tanya Fatimah seraya menyuapi Azriel.


"Aku belum siap, Mah. Saat ini masih ingin begini. Nanti kalau udah siap aku akan melakukan tanggungjawab ku sebagai pemimpin."


"Tapi kapan? Nunggu Mama tiada dulu!"


"Nanti setelah aku menemukan sosok istri dan ibu untuk Putraku. Barulah Azzam akan terjun."


"Itu terlalu lama, Zam. Terserah kamu sajalah. Mama pasrah. Hmmm besok mama mau ke pondok pesantren untuk mengantarkan donatur. Mama mau membawa Azriel kesana."


"Azzam sih silahkan selagi Azriel mau dan tidak rewel."

__ADS_1


__ADS_2